5 Kalimat Gaslighting yang Bisa Memanipulasi Korban

Gaslighting tergolong bentuk kekerasan mental yang sering tidak disadari

15 September 2021

5 Kalimat Gaslighting Bisa Memanipulasi Korban
Unsplash/Cblack09

Gaslighting adalah salah satu perilaku memanipulasi dan mencuci otak orang lain sehingga korban merasa bersalah dan meragukan dirinya sendiri. Gaslighting sering terjadi pada hubungan percintaan, namun bisa juga terjadi pada hubungan pertemanan atau lingkup rekan kerja. 

Gaslighting tergolong bentuk kekerasan mental karena mampu memanipulasi seseorang. Pelaku gaslighting begitu manipulatif saat menciptakan narasi-narasi palsu tentang korban, sehingga korban sering kali tidak menyadarinya. 

Namun tenang aja, Mama masih bisa mengetahui perilaku gaslighting dengan memahami beberapa contoh kalimat yang biasa diucapkan oleh pelaku.

Di bawah ini Popmama.com telah merangkum lima contoh kalimat gaslighting yang terkesan halus, namun sesungguhnya dapat memanipulasi korban.

1. Kamu sebenarnya butuh bantuan

1. Kamu sebenar butuh bantuan
Freepik/wayhomestudio

Pelaku gaslighting terbiasa menciptakan narasi-narasi palsu yang menyudutkan korbannya.

Mereka biasanya akan mengucapkan kalimat, seperti “kamu sebenarnya butuh bantuan” untuk membuat korban mempertanyakan identitas dirinya atau sikapnya dalam sebuah hubungan. 

Akhirnya korban akan percaya bahwa dirinya membutuhkan bantuan psikolog atau orang lain atas masalah dalam sebuah hubungan.

Korban pun akan merasa masalah ada pada dirinya, bukan manipulasi yang dibuat oleh pelaku. Atas dasar itulah, pelaku tidak perlu bertanggung jawab atas konflik yang terjadi dalam sebuah hubungan.

Editors' Picks

2. Kamu perlu introspeksi diri

2. Kamu perlu introspeksi diri
Unsplash/Alicekat

Jika korban masih terus menyangkal atau membantah narasi-narasi yang dibuat oleh pelaku, maka kalimat yang sering dilontarkan kepada korban yakni “kamu perlu introspeksi diri”.

Kalimat tersebut diucapkan pelaku untuk mempermainkan emosi korban, sehingga korban akan merasa perilakunya salah. 

Tujuan lainnya dari kalimat tersebut, yakni berusaha untuk mendominasi sebuah hubungan. Pelaku menghindari kecurigaan demi mendapatkan pujian atau perhatian dari orang lain. Korban pada akhirnya pun terus merasa bersalah setelah mendengar kalimat tersebut. 

3. Itu cuma pikiran kamu saja

3. Itu cuma pikiran kamu saja
Unsplash/Piscilladupreez

Apabila korban terus menyangkal atas narasi palsu yang diciptakan pelaku, maka pelaku akan mengendalikan pikiran korban. Kalimat yang kerap dilontarkan pelaku, yakni “itu cuma pikiran kamu saja”. 

Dengan mengucapkan kalimat tersebut, pelaku mencoba membela dirinya sendiri. Pelaku membuat korban menyalahkan dirinya sendiri dan menyadari bahwa pikirannya selama ini selalu negatif terhadap pelaku. 

4. Cuma bercanda, kamu terlalu sensitif

4. Cuma bercanda, kamu terlalu sensitif
Unsplash/Freestocks

Memanipulasi keadaan sebagai candaan, yakni ciri khas seorang pelaku gaslighting. Mereka terbiasa mengejek atau meremehkan korban.

Ketika korban mulai marah atau menyangkal ejekan tersebut, maka pelaku akan menyamarkan komentar negatifnya sebagai bahan candaan semata. 

Pelaku mencoba melarikan diri dari tanggung jawab dan permintaan maaf. Beberapa pelaku gaslighting bahkan menyebut korban bereaksi berlebihan atas komentar negatif yang dilontarkan.

Padahal komentar negatif tersebut merupakan bentuk pelecehan emosional. 

5. Kamu adalah sumber masalah

5. Kamu adalah sumber masalah
Unsplash/Jaredsluyter

Ciri khas lainnya dari pelaku gaslighting, yakni melemparkan kesalahannya sendiri kepada korban. Itulah sebabnya, mereka sering melontarkan kalimat “kamu adalah sumber masalah”.

Cara tersebut dianggap mampu membuat korban percaya bahwa merekalah sumber masalah dari konflik yang terjadi dalam sebuah hubungan.

Apabila korban masih menyangkalnya, biasanya pelaku akan terus mengucapkan kalimat tersebut sampai korban merasa bersalah. 

Tindakan gaslighting memang sering tidak disadari oleh korban. Kalimat yang diungkapkan pelaku gaslighting terkesan halus, namun manipulatif. Oleh karena itu, Mama perlu menyadarinya sedari awal agar tidak terjebak dalam hubungan yang tidak sehat

Semoga kehidupan pernikahan bersama pasangan bisa terus harmonis ya, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.