5 Cerita di Balik Video Anak Kecil yang Selamat dari Bom Kantor Polisi

Siapa anak berbaju kuning yang diselamatkan Polisi Surabaya?

14 Mei 2018

5 Cerita Balik Video Anak Kecil Selamat dari Bom Kantor Polisi
Dok. IDN Times
AKBP Roni Faisal Saiful dan korban

Senin, 14 Mei pagi yang cerah di Surabaya, dua motor beriringan masuk ke halaman Malpolrestabes Kota Surabaya. Tiba-tiba ledakan terjadi tepat di depan palang pintu masuk. Dalam rekaman CCTV, terlihat sebuah mobil, dua motor dan beberapa polisi terkena ledakan.

Sesaat setelah video rekaman ledakan menjadi viral, sebuah video rekaman lanjutan peristiwa beredar. Di rekaman itulah tampak seorang anak berjalan sempoyongan, keluar dari area ledakan.

Ini cerita di balik video itu.

1. Nama yang tertulis di celana dalam

1. Nama tertulis celana dalam
Dok. IDN Times

Awalnya, polisi tidak tahu nama anak perempuan yang berjalan terhuyung-huyung keluar dari titik ledak. Ia tampak kebingungan dan berjalan ke arah dalam halaman Malpolrestabes Surabaya.

Sejumlah polisi memanggilnya tetapi Si Anak kelihatan linglung.

Setelah diselamatkan, polisi menemukan inisial nama tersemat di baju dalam anak itu. Tulisannya, Ais. Sejak itulah, gadis kecil berbaju kuning itu dipanggil Ais.

2. Polisi Roni Faisal Saiful menyelamatkan Ais

2. Polisi Roni Faisal Saiful menyelamatkan Ais
Dok. IDN Times
Mobil Avanza yang ikut meledak di Mapolrestabes Surabaya

Ketika Ais terhuyung keluar dari lokasi ledakan, Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya, AKBP Roni Faisal Saiful, langsung berlari menghampirinya. Ia kemudian menggendong anak itu menjauh dari lokasi kejadian.

Roni mengaku saat ia menghampiri korban, tidak terpikir bahwa hal itu akan membahayakan dirinya sendiri. Bisa saja, bom aktif masih ada, bahkan mungkin saja Si Anak memakai bom bunuh diri di tubuhnya.

“Itu tindakan spontan, naluri saya sebagai seorang ayah. Saya ingat anak saya sendiri.  Saya ingin anak itu selamat, meskipun ia anak teroris,” kata Roni kepada Liputan 6.

Roni segera membawa Si Anak menuju sebuah ambulans yang langsung membawa Ais ke rumah sakit. Saat diletakan di brankar, Ais terlihat lemas dan pucat. 

Editors' Picks

3. Ais anak pelaku teror

3. Ais anak pelaku teror
Dok. IDN Times
Kombes. Pol. Frans Barung Mangera

Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan dalam jumpa pers bahwa Ais adalah anak teroris. Ia dibonceng motor bersama ibunya. Lebih menyedihkan lagi, dua motor teroris yang masuk halaman Mapolrestabes Surabaya ditumpangi keluarga Ais.

“Keluarga teroris terdiri dari ayah, ibu, dan ketiga anaknya. Mereka mengendarai dua motor, Supra dan Honda Beat. Polisi tidak mencurigai mereka karena kantor polisi adalah wilayah publik, semua masyarakat bisa masuk untuk mendapat pelayanan,” kata Frans.

Polisi juga tidak mencurigai rombongan bermotor itu karena membawa anak kecil.

4. Ais pergi berjihad bersama keluarganya

4. Ais pergi berjihad bersama keluarganya
Dok. IDN Times
Mayat korban ledakan di Mapolrestabes Surabaya tiba di RS Bhayangkara.

Frans mengatakan pelaku teror adalah satu keluarga. Ini berarti sudah terdeteksi ada 3 keluarga dengan anak kecil yang terlibat di dalam teror bom Surabaya.

Pelaku pengeboman di tiga gereja pada hari Minggu pagi adalah satu keluarga dengan empat anak. Bahkan dua anak di bawah umur yang melakukan bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, dililit bom di bagian pinggangnya.

Bom yang meledak di Rusunawa juga milik teroris. Anton, kepala keluarga yang tewas di rusunawa diketahui sedang memegang alat picu bom. Bom menewaskan istri Anton dan satu anak mereka. Sementara tiga anak Anton yang lain mengalami luka-luka.

Ais diketahui pergi ke Mapolrestabes Surabaya bersama keluarganya. Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian mengungkapkan motor berkonvoi yang meledak dikendarai Si Ayah, Tri Murtiono (50). Tri Murtiono berkonvoi bersama istri, Ais, dan anaknya yang lain. Ais berusia 8 tahun. Ia dalam kondisi terluka dan trauma. Sementara, Sang Ayah Tri Murtiono, Ibu Tri Ernawati (43), dan kedua kakak Ais, Muhammad Dafa Amin Murdana (16) dan Muhammad D. Satria Murdana (14) tewas dalam peristiwa itu. 

Baca Juga: Ini 5 Fakta tentang Keluarga Pengebom Surabaya

5. Ais terluka dan dirawat di rumah sakit   

5. Ais terluka dirawat rumah sakit   
Dok. IDN Times

Kapolri Tito Karnavian mengatakan kepada Kompas.com, bahwa Ais dibawa ke RS Bhayangkara untuk dirawat. Bersama Ais masih ada tiga anak korban bom meledak di Rusunawa Wonocolo yang dirawat di rumah sakit.

 Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise menyatakan, lembaganya siap memberikan bantuan pendampingan trauma healing bagi para korban yang membutuhkan. KPPPA akan bergerak melalui Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di daerah.

"KPPPA mengutuk keras segala bentuk tindakan terorisme dan radikalisme, sebab perempuan dan anak-anak dilibatkan sebagai pelaku peledakan bom bunuh diri. Kami meminta pihak kepolisian mengusut tuntas kasus ini," kata Yohana kepada IDN Times.

Mama, tetaplah waspada!