5 Alasan Orangtua Tidak Boleh Menjadikan Anak Investasi Masa Tuanya!

Hentikan sekarang, sebelum anak tertekan!

23 Juli 2020

5 Alasan Orangtua Tidak Boleh Menjadikan Anak Investasi Masa Tuanya
Popsugar.com

Di zaman yang serba mahal, mulai dari pendidikan, pakaian hingga biaya gizi untuk anak, tidak menutup kemungkinan orangtua akan berpikir bahwa anaknya kelak harus membayar semuanya dengan dalih balas budi.

Hal itulah yang dinamakan bahwa anak adalah investasi masa depan orangtua yang berharga. Padahal, sebenarnya anak itu bukanlah investasi bagi orangtuanya.

Beberapa hal di bawah ini bisa menjadi alasan kenapa anak tidak boleh dijadikan sebagai investasi yang berharga. Simak ulasan dari Popmama.com berikut ini dengan seksama, ya! 

1. Anak akan merasa tertekan oleh beban yang ia pikul

1. Anak akan merasa tertekan oleh beban ia pikul
themagpieproject

Perlu orangtua ketahui, bahwa anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Namun, orangtualah yang menginginkan kehadiran anak dalam rumah tangganya.

Oleh karena itu, segala bentuk biaya sandang, pangan dan papan adalah kewajiban orangtua dan anak punya hak untuk mendapatkan semua itu.

Ketika orangtua punya mindset bahwa anak adalah investasi yang berharga bagi mereka, maka psikologi anak akan tertekan. Anak punya beban yang cukup berat untuk dipikul dan harus menjalani hidup sesuai dengan apa yang di harapan orangtuanya.

Jika tidak, dia adalah anak yang tidak dapat membanggakan dan membalas kebaikan orangtuanya, dengan kata lain anak akan tahu bahwa orangtuanya tidak benar-benar tulus membiaya segala kehidupannya. 

Editors' Picks

2. Anak mempunyai kehidupannya sendiri

2. Anak mempunyai kehidupan sendiri
Freepik/Artroomstudio

Orangtua harus tahu, bahwa hidup anak bukan hanya untuk memenuhi keinginan orangtua saja. Anak punya kehidupan dan dunianya sendiri. Sebagai orangtua, kita tak boleh mengatur anak agar menuruti segala hal yang direncanakan untuknya.

Menyuruhnya untuk menjadi sosok yang diinginkan dengan memilihkannya sekolah, jurusan hingga profesi yang nantinya anak jalani. Mungkin orangtua punya maksud yang baik bagi anaknya agar bisa sukses dan berkecukupan dalam hidup.

Namun, sekali lagi anak punya kehidupannya sendiri. Dia punya hak untuk memilih dan menolak keinginan orangtuanya, sebab yang menjalani hidup adalah dirinya, bukan orangtuanya. 

3. Tidak semua anak bisa sampai pada ekspektasi orangtuanya

3. Tidak semua anak bisa sampai ekspektasi orangtuanya
Freepik/Odua

Orangtua mungkin akan merasa bahagia saat anaknya bisa memenuhi segala keinginan dan ekspektasinya dari dulu.

Namun, perlu diketahui, tidak semua anak bisa sampai pada tahap ekspektasi orangtuanya, yakni bisa sukses dan memenuhi segala keinginan orangtua secara materi.

Setiap anak punya kesuksesannya sendiri dan kapan waktunya mereka untuk bisa sukses. Tidak ada anak yang tidak ingin membahagiakan orangtuanya.

Semua pasti punya keinginan seperti itu, tapi dilakukan dengan cara yang berbeda-beda dan tidak selalu sesuai dengan keinginan orangtua. 

4. Anak menjadi terpaksa untuk balasan budi pada orangtuanya

4. Anak menjadi terpaksa balasan budi orangtuanya
Freepik/free picture

Ketika usia sudah mulai menua dan berumur lanjut, sebagai orangtua pasti ingin agar anaknya mengurus dan menyayangi dengan sepenuh hati tanpa adanya paksaan dengan dalih ingin balas budi.

Agar hal tersebut tidak terjadi pada orangtua manapun di dunia, maka perlu kita memperlakukan anak dengan cinta dan kasih sayang sepenuh hati, tanpa memandang bahwa anak sebagai investasi bagi mereka.

Dengan bersikap tidak menjadikan anak investasi, maka anak pun akan mencintai dan menyayangi orangtuanya dengan sangat tulus. Tidak ada embel-embel balas budi bila mana orangtuanya sakit di hari tua nanti dan butuh anak untuk mengurusnya. 

5. Anak akan merasa iri pada hidup orang lain

5. Anak akan merasa iri hidup orang lain
Freepik/free picture

Jika anak terus menerus didesak untuk melakukan hal-hal yang diinginkan orangtua, dengan maksud orangtua menjadikannya sukses dan bisa merasakan investasi yang mereka lakukan sedari dulu, maka anak akan merasa stres dan timbul depresi.

Dia tak ingin terus menerus ada dalam situasi dan lingkungan seperti dalam keluarganya, makanya tak jarang juga anak akan merasa iri pada kehidupan orang lain dan merasa beban telah lahir di keluarga dan orangtua seperti ini. 

Nah, itulah kelima alasan bahwa anak bukanlah investasi berharga bagi orangtua.

Mengetahui kelima hal di atas, tentunya akan membuat orangtua mengerti untuk tidak lagi menganggap anak sebagai bahan investasi. Oleh karena itu, sayangi anak dengan tulus tanpa syarat.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.