Sebagian besar buku seputar seks tidak membahasnya secara rinci, hal tersebut pun mencerminkan apa yang dilakukan sebagian besar pasangan suami istri dalam hal pembicaraan soal seks.
Sering sekali, laki-laki merasa khawatir tentang performa mereka di atas ranjang. Sementara itu, perempuan khawatir tentang pencapaian orgasme selama sesi bercinta.
Penelitian yang dilakukan Shere Hite menemukan bahwa laki-laki seringkali menganggap orgasme memang tujuan utama seks. Sayangnya, seks yang berorientasi pada tujuan dapat menciptakan disfungsi seksual ketika tujuan tersebut tidak tercapai.
Pasangan pun pasti merasa ada yang salah dengan mereka. Tekanan dan rasa malu ini memudahkan untuk memahami mengapa begitu banyak dari kita yang sadar diri untuk berbicara tentang seks.
Alih-alih mencoba untuk fokus pada hasil akhir, seorang seksolog, Dr. Gottman mengatakan bahwa perlunya mendorong pasangan untuk memperlambat dan menikmati seluruh pengalaman seksual.
"Setiap hal positif yang dilakukan dalam hubungan seks adalah foreplay. Nikmati setiap sentuhan dan bangun kepercayaan dan keintiman bersama pasangan," katanya.
Dengan mendefinisikan ulang terkait seks, pasangan dapat membuat hubungan fisik mereka lebih menyenangkan bahkan jika orgasme tidak tercapai.