Seorang Papa Juga Bisa Mengalami Postnatal Depression, Ini Gejalanya

Postnatal depression bukan cuma dialami Mama, tapi juga Papa. Cek penjelasannya di sini

8 April 2019

Seorang Papa Juga Bisa Mengalami Postnatal Depression, Ini Gejalanya
Pexels/Pixabay

Penelitian yang dilakukan para ahli belakangan ini menunjukkan bahwa seseorang tidak perlu melahirkan lebih dulu untuk mengalami Postnatal Depression. Fenomena itu terjadi pada 7%-10% Papa baru dan 12% Mama baru.

Sayangnya, hingga kini banyak orang kerap menyangkal situasi yang dihadapi Papa baru tersebut, bisa jadi termasuk Papa juga, Ma. Sudah menjadi mitos bahwa laki-laki tidak bisa mengalami depresi. Kalaupun mereka mengalaminya, tidak wajar untuk mengungkapkan hal tersebut.

Padahal, Papa sama seperti Mama, sama-sama manusia dewasa yang tengah beradaptasi menghadapi suatu peristiwa besar dalam hidup: kelahiran si Kecil. Apalagi, kehadiran si Kecil ke dunia otomatis mengubah hari-hari Mama dan Papa kan?

Nah, agar Mama lebih sensitif pada situasi ini, termasuk perubahan diri sendiri dan juga Papa, Popmama.com merangkum beberapa poin penting terkait postnatal depression yang sering dialami orang tua baru.

1. Postnatal depression harus dipandang serius

1. Postnatal depression harus dipandang serius
Pexels/Nathan Cowley

Mama pernah baca posting di media sosial yang viral tentang curhat driver taksi online mengenai istrinya yang mengalami depresi pasca melahirkan? Sang istri kewalahan beradaptasi dengan bayinya, tetapi justru mendapat banyak komentar negatif dari orang-orang di sekelilingnya.

Ya, postnatal depression itu nyata, Ma. Nggak hanya dialami para Mama, tetapi juga Papa baru.

Dilansir dari postpartummen.com, beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko seorang Papa mengalami PPND adalah:

  • Kurang tidur
  • Perubahan hormon
  • Punya riwayat depresi
  • Proses melahirkan sulit atau bayi lahir dalam kondisi kurang baik
  • Hubungan kurang baik dengan pasangan, orangtua, atau mertua
  • Kurang dukungan dari lingkungan, baik secara emosional maupun sosial
  • Masalah finansial atau keterbatasan sumber daya lainnya
  • Terkejut menghadapi kenyataan menjadi orangtua sungguh sulit, berbeda dari harapan
  • Perasaan terpinggirkan dari relasi antara Mama dan bayi.

2. Perubahan emosional itu wajar terjadi untuk beberapa saat

2. Perubahan emosional itu wajar terjadi beberapa saat
breastfeeding.support

Situs Raisingchildren.net.au menyatakan, perubahan emosional yang dialami Papa (dan juga Mama) pada minggu-minggu awal kelahiran si Kecil sebenarnya wajar. Apalagi, ada faktor perubahan hormon yang berpengaruh pada mood atau energi.

Ini juga sejalan dengan masa “perkenalan” Papa pada bayi. Baik Papa dan Mama sama-sama tengah mempelajari dan membentuk pola aktivitas harian si kecil.

Perubahan paling mencolok mungkin saja soal jam tidur bayi yang berbeda dengan jam tidur orang dewasa. Makanya, kurang tidur pada bulan-bulan pertama bisa dimaklumi. Umumnya, situasi ini akan membaik setelah bayi berusia di atas 3 bulan.

Namun, jika perubahan emosional tadi berlangsung lebih dari dua minggu dan mulai mengganggu aktivitas Papa, bisa saja itu mengarah ke depresi.

Apalagi, jika Papa mengalami faktor-faktor yang meningkatkan risiko terjadinya postnatal depression. Sebaiknya, jangan biarkan Papa melawannya sendiri atau mengabaikannya, Ma. Demikian sebaliknya.

Editors' Picks

3. Gejala yang dialami Papa

3. Gejala dialami Papa
Pexels/Pixabay

Ada beberapa gejala yang bisa mengarah pada postnatal depression. Menampilkan satu atau dua gejala dan berhenti dalam waktu singkat belum tentu depresi. Sebaiknya, hindari mendiagnosa diri atau Papa secara mandiri tanpa pemeriksaan lebih lanjut ke dokter/psikiater/psikolog ya, Ma.

Namun, mengetahui gejala yang umum terjadi bisa membantu Mama dan Papa bergerak lebih cepat untuk mencari bantuan dan mengatasinya. Beberapa gejala tersebut adalah:

  • Tanda-tanda fisik

    • Kelelahan, sakit kepala, nyeri
    • Tidak nafsu makan
    • Kesulitan tidur atau tidur/bangun pada waktu yang tidak biasa
    • Berat badan naik/turun secara drastis
  • Perubahan emosi dan mood

    • Mudah sedih
    • Merasa bersalah
    • Mudah cemas dan marah
    • Merasa terisolasi atau menjauhkan diri dari pasangan, teman, atau anggota keluarga lainnya
    • Kewalahan, tidak bisa mengendalikan semua hal dengan baik
    • Tidak bisa menikmati hal-hal yang biasanya menyenangkan
  • Perubahan perilaku

    • Kesulitan konsentrasi atau mengingat sesuatu
    • Sulit mengambil keputusan hal-hal kecil atau kewalahan melakukan rutinitas harian
    • Tidak tertarik berhubungan seks
    • Menghabiskan waktu lebih lama di kantor, supaya bisa pulang larut malam
    • Memakai obat-obatan atau minum alkohol untuk mengatasi stres

4. Apa yang bisa Mama lakukan?

4. Apa bisa Mama lakukan
Pexels/Rawpixel.com

Menyadari bukan hanya Mama sendiri yang bisa mengalami postnatal depression adalah langkah awal yang baik.

Mama harus memandang Papa sebagai partner yang sama-sama tengah berjuang menemukan pijakan tepat sebagai orang tua baru.

Mama bisa melakukan hal ini bersama Papa:

  • Ajak Papa bicara hati ke hati soal perasaan masing-masing setelah kelahiran si Kecil. Saling mendengarkan dan ungkapkan perasaan secara jujur ya, Ma.
  • Bantu Papa (dan juga diri Mama sendiri) untuk menerima dan mengakui bahwa kecemasan dan kegelisahan itu ada
  • Berbagi tugas terkait pengasuhan si Kecil pada bulan-bulan pertama. Misalnya, saat bayi terbangun tengah malam, Mama menyusui, Papa menyendawakan.
  • Pertimbangkan untuk meminta bantuan orang lain (misalnya orang tua, saudara, atau pengasuh) dalam mengasuh bayi
  • Saling menguatkan, mendukung, dan percaya pada pasangan bahwa Papa dan Mama bisa jadi orang tua yang baik untuk si Kecil

Namun, jika situasi tidak kunjung membaik setelah lewat dua minggu, berkonsultasi ke dokter/psikiater/psikolog sangat disarankan guna memperoleh penanganan tepat.

Mama dan Papa sama-sama tengah berjuang untuk menyesuaikan diri dengan kelahiran si Kecil.

Inilah awal dari perjalanan Mama Papa sebagai orangtua, dan tahun-tahun berikutnya akan datang begitu cepat. Jadi, tetap dampingi Papa ketika menghadapi masa-masa sulit ya, Ma!

Baca juga:

Topic:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!