Waspadai Missed Abortion, Saat Janin Meninggal Tanpa Gejala Keguguran

Keguguran di awal fase kehamilan ini sulit dideteksi bila tanpa cek USG, Ma

22 September 2020

Waspadai Missed Abortion, Saat Janin Meninggal Tanpa Gejala Keguguran
Freepik/Yanalya

Setiap ibu hamil tentu menginginkan kehamilannya bisa berjalan dengan lancar dan sehat, sampai waktunya persalinan. Namun seringkali ada beberapa masalah yang bisa terjadi, terutama di fase awal kehamilan.

Salah satunya adalah missed abortion, atau yang sering juga disebut sebagai silent miscarriage atau missed miscarriage. Kondisi ini terjadi pada awal kehamilan, khususnya pada usia sebelum 20 minggu.

Sayangnya, kondisi missed abortion ini sulit terdeteksi tanpa pemeriksaan ultrasound (USG) dan gejalanya bahkan seringkali tidak dirasakan.

Namun demikian, missed abortion memerlukan tindakan medis segera dari dokter agar tidak membahayakan nyawa Mama. Berikut informasi lengkap dari Popmama.com tentang missed abortion, saat janin meninggal tanpa gejala keguguran, yang wajib Mama ketahui:

1. Apa itu missed abortion?

1. Apa itu missed abortion
Freepik/Onlyyouqj

Missed abortion adalah keguguran di mana janin Mama tidak terbentuk atau telah meninggal, namun plasenta dan jaringan embrionya masih ada di dalam rahim.

Kondisi ini bukanlah termasuk dalam kategori aborsi elektif. Para pakar medis menggunakan istilah ‘aborsi spontan’ untuk merujuk pada keguguran. Berbeda pada keguguran pada umumnya, padamissed abortion seringkali tidak menyebabkan gejala perdarahan dan kram perut.

Akibatnya, kondisimissed abortion ini sering terlewatkan dan tidak diketahui keberadaannya oleh ibu hamil.

Missed abortion biasanya rentan terjadi di awal kehamilan, tepatnya sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu. Kondisi ini juga hampir tidak bisa dideteksi tanpa pemeriksaan ultrasound alias USG.

Ada dua karakteristik missed abortion, yaitu ketika sel telur menempel di rahim tanpa ada janin yang berkembang dan saat detak jantung terus melemah sebagai pertanda adanya masalah pada pertumbuhan janin.

Karena tidak ada gejala keguguran yang dirasakan, sebagian besar tidak akan merasakan bahwa dirinya mengalami keguguran alias missed abortion. Mereka pun kerap menganggap dirinya masih hamil.

Editors' Picks

2. Penyebab missed abortion

2. Penyebab missed abortion
Freepik/Pressfoto

Sampai saat ini, penyebab pasti dari missed abortion belum sepenuhnya diketahui. Namun hampir 50 persen kasus missed abortion yang terjadi adalah karena kelainan kromosom.

Tepatnya, embrio memiliki jumlah kromosom yang tidak sesuai, sehingga tumbuh kembangnya terganggu dan bahkan sampai menyebabkan janin meninggal di usia awal kehamilan.

Selain itu, missed abortion juga bisa disebabkan oleh adanya masalah rahim, seperti jaringan parut. Mama juga diketahui menjadi berisiko lebih tinggi untuk mengalami missed abortion jika memiliki riwayat gangguan endokrin atau autoimun.

Juga termasuk jika Mama adalah perokok berat. Trauma fisik juga diyakini dapat menyebabkan missed abortion.

Apabila Mama terdiagnosis missed abortion, kemungkinan besar tidak bisa menentukan secara pasti apa penyebabnya. Intinya pada kasus missed abortion, embrio berhenti berkembang dan biasanya tidak ada penjelasan yang jelas. Jadi penting untuk tidak menyalahkan diri sendiri ya, Ma.

3. Gejala dan tanda missed abortion

3. Gejala tanda missed abortion
Pixabay/Andreapassaro

Seperti disebutkan sebelumnya, missed abortion seringkali tidak menimbulkan gejala dan tanda keguguran pada umumnya seperti perdarahan atau kram perut. Namun penting untuk Mama mengenali adanya perubahan pada kehamilan.

Misalnya jika sering muncul flek darah kecokelatan. Selain itu, waspadai juga jika gejala awal kehamilan, seperti mual dan nyeri payudara, tiba-tiba berkurang atau hilang.

Jika Mama mengalami hal-hal tersebut, tak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter untuk menemukan apa penyebabnya. Bisa jadi Mama mengalami missed abortion dan memerlukan penanganan lebih lanjut.

4. Diagnosis dan pemeriksaan missed abortion

4. Diagnosis pemeriksaan missed abortion
Freepik

Jangan tunda untuk segera periksa ke dokter jika Mama sering mengalami keluarnya flek darah berwarna kecokelatan. Terlebih jika dibarengi dengan adanya kram perut.

Termasuk jika awalnya Mama kerap mengalami morning sickness, mual hebat dan nyeri pada payudara, namun mendadak semua keluhan tersebut hilang.

Bagi sebagian besar ibu hamil, kemungkinan tidak akan menyadari bahwa tengah mengalami missed abortion tanpa pemeriksaan dokter.

Begitu Mama berkonsultasi ke dokter, biasanya akan dilakukan USG terlebih dahulu untuk mendeteksi detak jantung janin. Apabila usia kehamilan masih di bawah 10 minggu, dokter mungkin juga akan memantau kadar hormon human chorionic gonadotropin (hCG) dalam darah mama.

Apabila tingkat hCG tidak naik pada kadar perhitungan tertentu, ini bisa menjadi tanda bahwa kehamilan sudah berakhir.

5. Perawatan dan pengobatan missed abortion

5. Perawatan pengobatan missed abortion
Pixabay/JuliaFiedler

Diperlukan perawatan dan pengobatan medis segera oleh dokter untuk mengatasi missed abortion. Semua metode pengobatan biasanya akan disesuaikan dengan kondisi kehamilan dan kesehatan tubuh Mama sendiri.

Seringkali jaringan embrio akan keluar dengan sendirinya dan Mama akan mengalami keguguran secara alami. Namun jika tidak berhasil, Mama mungkin perlu obat atau operasi untuk mengeluarkan jaringan embrionik dan plasenta.

Untuk obat, hindari sembarangan mengonsumsi obat tanpa resep dokter karena bisa berisiko tinggi.

Waktu pemulihan setelah mengalami missed abortion dapat bervariasi pada setiap perempuan, bisa dalam hitungan minggu maupun bulan. Dilansir Healthline, kemungkinan besar haid Mama akan bisa kembali dalam waktu 4 hingga 6 minggu.

Yang tak kalah penting selain penyembuhan secara fisik adalah pemulihan emosional. Carilah suasana baru untuk memulihkan rasa sedih Mama dan libatkan Papa serta keluarga untuk mengungkapkan perasaan.

Setelah mengalami missed abortion, Mama mungkin akan bisa hamil kembali setelah mendapatkan siklus haid normal. Namun sebagian besar pakar menyebutkan sebaiknya berikan jeda waktu setidaknya 3 bulan untuk kembali melakukan program hamil.

Setelah mengalami keguguran maupun missed abortion, biasanya peluang untuk kembali mengalaminya tidak terlalu besar. Namun jika Mama sudah lebih dari sekali mengalami keguguran, termasuk missed abortion, lebih baik konsultasikan lebih lanjut dengan dokter.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk melihat apa penyebab hal tersebut.

Jangan anggap remeh setiap perubahan kecil yang Mama alami saat hamil. Apabila ragu, segera cek ke dokter, ya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.