Tak Bisa Sembarangan, Begini 7 Tahapan Prosedur Menjadi Donor ASI

Apa yang perlu diperhatikan saat ingin menjadi pendonor ASI?

10 Oktober 2019

Tak Bisa Sembarangan, Begini 7 Tahapan Prosedur Menjadi Donor ASI
Freepik/chainfoto24

Setiap ibu tentu ingin memberikan semua yang terbaik bagi buah hatinya, termasuk memberikan air susu ibu (ASI). Namun dalam beberapa kondisi, seringkali pemberian ASI tidak bisa dilakukan.

Jika sudah demikian, donor ASI pun bisa menjadi salah satu pilihan solusi. Donor ASI bisa menjadi alternatif, tetapi tentunya dengan sikap dan perhatian bijaksana supaya manfaatnya maksimal.

Jangan sampai donor ASI atau memberikan ASI justru menjadi sarana penularan penyakit, ya.

Dengan demikian, sistem donor ASI sangat perlu memerhatikan kualitas, kondisi kesehatan serta bahan pertimbangan lainnya.

Nah, seperti apa prosedur yang perlu diperhatikan saat hendak menjadi donor ASI? Dikutip dari berbagai sumber, berikut Popmama.com rangkum informasinya:

1. Sehat dan tidak memiliki kontraindikasi menyusui

1. Sehat tidak memiliki kontraindikasi menyusui
Freepik/Zilvergolf

Seperti diketahui, ASI menjadi salah satu kebutuhan utama bayi, terutama pada bayi berusia di bawah 6 bulan. Oleh sebab itu, konsumsi ASI dari donor, sangat perlu memerhatikan kondisi kesehatan pemberinya, Ma.

Perlu diperhatikan apakah seseorang memiliki masalah kesehatan tertentu. Jika perlu, lakukan pemeriksaan oleh dokter terlebih dahulu. Tanyakan apakah boleh Mama mendonorkan ASI atau apakah kondisi kesehatan tubuh Mama sehat untuk bisa menjadi donor ASI.

2. Produksi ASI sudah memenuhi kebutuhan bayi

2. Produksi ASI sudah memenuhi kebutuhan bayi
Freepik/freepic.diller

Dikutip dari situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), saat hendak menjadi donor ASI pastikan bayi Mama sudah terpenuhi secara utuh kebutuhan ASI-nya. Jangan sampai Mama memaksakan diri menjadi donor, padahal produksi ASI tidak cukup banyak dan cenderung pas-pasan.

Dengan kata lain, menjadi donor sebaiknya dilakukan hanya ketika produksi sudah berlebih dan tidak berisiko membuat si Kecil justru kekurangan pasokan ASI, ya.

3. Tidak sedang menerima transfusi darah      

3. Tidak sedang menerima transfusi darah      
Freepik/Yothinsanchai

Salah satu prosedur lain yang perlu diketahui saat hendak donor ASI adalah tidak sedang menerima transfusi darah, terutama minimal 3 bulan sebelum donor.

Alasannya, transfusi darah dapat menimbulkan risiko kontaminasi virus dan bakteri yang mungkin bisa berpindah melalui ASI. Ya, ASI yang mengandung virus dan bakteri sangat mungkin menular pada bayi yang mengonsumsinya.

Editors' Picks

4. Tidak mengonsumsi obat atau suplemen herbal tertentu

4. Tidak mengonsumsi obat atau suplemen herbal tertentu
Freepik

Konsumsi obat atau suplemen herbal tertentu juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh donor ASI. Hindari dulu donor jika secara teratur sedang mengonsumsi obat atau suplemen herbal tertentu, ya.

Terutama jika obat atau suplemen tersebut dikhawatirkan memberi pengaruh pada komponen dan kualitas dari ASI itu sendiri.

Selain konsumsi obat, kebiasaan buruk lain seperti merokok dan minum minuman alkohol juga perlu diperhatikan saat hendak donor ASI.

5. Tidak memiliki riwayat penyakit menular

5. Tidak memiliki riwayat penyakit menular
Freepik/Rawpixel.com

Beberapa penyakit menular seperti hepatitis, human immunodeficiency virus (HIV) serta human T-Lymphosyte virus 2 (HTLV-2) menjadi penting untuk diperhatikan oleh donor ASI, karena juga berisiko menular pada bayi.

Seperti disebutkan sebelumnya, beberapa jenis virus dan bakteri bisa menular pada bayi melalui ASI.

Selain itu, riwayat masalah kesehatan lain seperti penyakit jantung dan diabetes juga sebaiknya diperhatikan saat hendak donor ASI.

6. Memerhatikan norma agama

6. Memerhatikan norma agama
todaysparent.com

Identitas donor ASI menjadi faktor penting yang tak boleh disepelekan. Termasuk di antaranya seperti identitas umum yakni nama, agama dan alamat donor ASI. Hal tersebut tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 32 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, Ma.

7. Menjalani proses skrining

7. Menjalani proses skrining
Freepik/Blanscape

Proses skrining adalah prosedur penting yang juga perlu dijalani oleh donor ASI, terutama untuk mendapatkan donor ASI yang sesuai dan ideal.

Proses skrining seharusnya dilakukan dalam dua tahap: tahap pemeriksaan lisan dan tahap pemeriksaan medis.

Pemeriksaan lisan dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan tentang riwayat kesehatan donor ASI. Sementara itu, tahap pemeriksaan medis dilakukan guna mendeteksi apakah ada virus atau riwayat penyakit yang berbahaya.

Tes yang dilakukan guna tes HIV, tes HTLV, sifilis, hepatitis B, hepatitis C, dan cytomegalovirus (CMV).

Apabila ditemukan ada keraguan terhadap status kesehatan donor, tes skrining dapat dilakukan kembali setiap 3 bulan.

Ketika tahap skrining sudah dilakukan, donor ASI bisa dilakukan tetapi tetap didahului dengan tahap pasteurisasi atau pemanasan ASI agar tetap steril.

Demikian informasi penting tentang prosedur menjadi donor ASI yang perlu dipatuhi. Semua penting dilakukan guna menjaga kualitas dan memaksimalkan manfaat dari ASI yang diberikan, Ma. Jangan ragu konsultasi dengan dokter saat hendak menjadi donor atau menerima ASI donor, ya.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!