Ketahui Indikasi Penyebab Ibu Hamil Harus Melahirkan secara Caesar!

Segera konsultasikan ke dokter ya, Ma

29 Juni 2021

Ketahui Indikasi Penyebab Ibu Hamil Harus Melahirkan secara Caesar
Pixabay/Pexels

Ketika sudah mendekati waktu kelahiran, ibu hamil biasanya akan berkonsultasi ke dokter kandungan mengenai metode persalinan apa yang akan ditempuh. 

Biasanya, ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat ibu hamil tidak dapat melahirkan secara normal. Artinya, ibu hamil harus melakukan operasi caesar. 

Dilansir dari Healthline, operasi caesar adalah operasi melahirkan bayi dengan melibatkan satu sayatan di perut ibu hamil dan satu lagi di rahim. Persalinan caesar umumnya dihindari sebelum usia kehamilan 39 minggu sehingga anak memiliki waktu yang tepat untuk berkembang di dalam rahim. Namun, terkadang komplikasi muncul dan persalinan caesar harus dilakukan sebelum 39 minggu.

Kira-kira apa penyebab ibu hamil harus melakukan operasi caesar? berikut Popmama.com akan memberikan ulasannya.

1. Plasenta previa

1. Plasenta previa
Pixabay/MarjonBesteman

Plasenta atau disebut dengan ari-ari adalah organ penting pada ibu hamil. Saat awal kehamilan, biasanya plasenta ada di bagian bawah rahim dan ikut terus bertumbuh seiring pertumbuhan dan perkembangan bayi. 

Normalnya, plasenta akan bergerak menjauhi leher rahim dan menuju ke bagian atas rahim. Namun ada kondisi plasenta yang menempel di sisi bawah dari dinding rahim dan menutupi pintu leher rahim ke rahim secara menyeluruh atau sebagian, yang disebut dengan plasenta previa. 

Risiko dari kondisi plasenta previa ini dapat menyebabkan perdarahan bagi ibu hamil yang mengalaminya. Selain itu tertutupnya jalan lahir juga menyulitkan bayi untuk bergerak ke arah vagina. Maka dari itu, ibu hamil disarankan untuk melakukan operasi caesar. 

Editors' Picks

2. Preeklampsia

2. Preeklampsia
Pixabay/regina_zulauf

Preeklampsia adalah kondisi tekanan darah tinggi pada ibu hamil dan biasanya terjadi setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu. 

Dilansir dari Healthline, dokter belum dapat mengidentifikasi satu penyebab preeklampsia, tetapi beberapa penyebab potensial sedang dieksplorasi, yaitu faktor genetik, masalah pembuluh darah, dan gangguan autoimun.

Tanda-tanda ibu hamil memiliki preeklampsia adalah memiliki kelebihan protein di dalam urine, adanya pembengkakan di beberapa area tubuh seperti wajah, mata, tangan, dan telapak kaki. 

Jika mengalami kondisi seperti ini, sebaiknya melakukan operasi caesar, karena jika memaksakan melahirkan secara normal akan membahayakan keselamatan ibu hamil. 

3. Prolaps tali pusar

3. Prolaps tali pusar
Pixabay/3907349

Tali pusar merupakan saluran penghubung antara Mama dengan janin di dalam kandungan. Fungsi tali pusar adalah menyalurkan nutrisi dan oksigen yang diterima oleh janin untuk menunjang tumbuh dan kembangnya sampai lahir nanti. 

Namun, ada kondisi tertentu di mana tali pusar bayi dapat keluar dari serviks (leher rahim) kemudian masuk ke dalam vagina mendahului keluarnya bayi. Kondisi seperti ini disebut dengan prolaps tali pusar. Kasus seperti ini dapat mengakibatkan berhentinya aliran oksigen ke janin, dan bahkan dapat mengakibatkan lahir mati.

Dilansir dari Cleveland Clinic, penyebab umum prolaps tali pusar, yaitu ketuban pecah dini, persalinan prematur, kehamilan kembar, polihidramnion (kelebihan cairan ketuban), dan malpresentasi janin (posisi janin sungsang).

4. Jantung bayi tidak stabil

4. Jantung bayi tidak stabil
Pexels/Jonathan Borba

Ketika kontraksi sudah mulai muncul, maka ibu hamil akan menjalankan pemeriksaan kardiotokografi (CTG). Tekniknya, perut ibu hamil akan dipasang seperti ikat pinggang beserta alat untuk mendeteksi detak jantung janin dan kontraksi yang muncul. 

Jika hasil CTG menunjukkan bahwa detak jantung janin lemah atau sangat cepat, sementara kontraksi tidak stabil, dokter biasanya akan menyarankan melakukan operasi caesar. 

Selain itu, kondisi detak jantung janin tidak stabil ini bisa menjadi pertanda bahwa janin mengalami hipoksia atau rendahnya kadar oksigen di dalam tubuh. 

Sehingga, harus ditindak secara cepat agar tidak membahayakan nyawa bayi. 

5. Kelainan posisi janin

5. Kelainan posisi janin
Pixabay/rmt

Sebelum akhirnya memutuskan untuk melahirkan dengan normal atau caesar, ibu hamil akan melakukan pemeriksaan USG (ultrasonografi) untuk melihat kondisi janin di dalam perut. 

Dilansir dari MSD Manual Consumer Version, menjelang akhir kehamilan, janin bergerak ke posisi untuk melahirkan. Biasanya, posisi janin menghadap ke belakang (ke arah punggung) dengan wajah dan tubuh miring ke satu sisi dan leher tertekuk, dan posisi kepala terlebih dahulu.

Namun, tidak menutup kemungkinan ada posisi bayi yang abnormal, yaitu menghadap ke depan, dan presentasi abnormal termasuk wajah, alis, sungsang, dan bahu.

Pada kondisi seperti ini, dokter biasanya akan menyarankan untuk melakukan operasi caesar untuk dapat menyelamatkan bayi. 

Nah, itulah indikasi ibu hamil harus melahirkan secara caesar. Jika Mama mengalami salah satu dari kondisi tersebut, silahkan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu ya, Ma. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.