Alat IUD Masuk ke Perut, Ibu Ini Harus Kehilangan Indung Telurnya

Mengerikan ya, Ma!

30 Desember 2019

Alat IUD Masuk ke Perut, Ibu Ini Harus Kehilangan Indung Telurnya
dailymail.co.uk

Pemasangan alat kontrasepsi di dalam tubuh memang memiliki beberapa risiko, termasuk kontrasepsi intrauterine device (IUD). Seorang ibu asal Baltimore, Maryland US, Tanai Smith tidak pernah menyangka bahwa musibah akan menimpa dirinya pasca pemasangan IUD.

IUD adalah perangkat kecil berbentuk T yang dimasukkan ke dalam rahim. Alat kontrasepsi ini bersifat jangka panjang karena bisa bekerja hingga 3 dan 6 tahun. IUD juga dinilai sebagai alat kontrasepsi paling efektif karena rendah perawatan.

 Selama 3 tahun pemasangan IUD, Tanai Smith awalanya tidak mengalami komplikasi apa pun.

Sampai akhirnya pada November 2017 lalu, melalui pemindaian X-ray diketahui bahwa ia mengalami komplikasi langka karena IUD terlepas dari rahimnya hingga ia harus menjalani operasi pengangkatan indung telurnya.

Perempuan yang kala itu masih berusia 25 tahun ini pun berbagi kisahnya untuk mengingatkan para perempuan di luar sana  tentang potensi risiko yang bisa ditimbulkan dari IUD.

1. Bagaimana cara kerja IUD?

1. Bagaimana cara kerja IUD
healthtalk.org

Sebelum membahas risikonya, sebaiknya ketahui dulu bagaimana IUD bekerja.

IUD hormonal bekerja dengan melepaskan sejumlah hormon progestin yang disebut levonorgestrel setiap harinya.

Hormon tersebut mencegah kehamilan dalam dua cara. Pertama, dengan mengentalkan lendir yang hidup di leher rahim agar menghalangi dan menjebak sperma. Kedua, mencegah telur untuk meninggalkan ovarium saat ovulasi sehingga sperma yang berhasil lolos tidak dapat menemui sel telur untuk dibuahi.

IUD adalah salah satu alat pengendalian kelahiran yang paling efektif dan membutuhkan sedikit perawatan. Karena IUD dinilai 99 persen efektif dan mereka dapat bertahan 3 hingga 6 tahun, alat ini pun banyak direkomendasikan para ahli kesehatan.

Selain IUD, bentuk metode kontrasepsi lain yang juga biasa direkomendasikan adalah suntikan, patch kontrol kelahiran, pil kontrasepsi, dan cincin vagina, yang juga dinilai efektif. Untuk pemakaian kondom memang dinilai 98 persen efektif dan aman, tetapi masih ada kemungkinan ‘kebobolan’.

2. Memilih IUD sebagai alat kontrasepsi

2. Memilih IUD sebagai alat kontrasepsi
Freepik

Setelah Tanai Smith melahirkan putrinya yang bernama Morgan tiga tahun lalu, ia memutuskan untuk menunda memiliki anak lagi.

Tanai Smith kemudian mengunjungi obgyn untuk mendiskusikan pilihan terbaik untuk alat kontrasepsi.

Dokter kemudian merekomendasikan alat intrauterine hormonal (IUD), yaitu alat berbentuk T berukuran kecil yang dimasukkan ke dalam uterus. IUD Hormonal ini secara khusus dapat mengurangi kram selama siklus menstruasi dan membuat menstruasi jadi lebih ringan.

"Dokter mengatakan IUD memiliki risiko komplikasi yang cukup rendah. Saya pun masih cukup muda dan sehat. Jadi seharusnya tidak ada masalah," ungkap Smith seperti yang dikutip dari laman Daily Mail.

Enam minggu setelah melahirkan, Tanai Smith akhirnya memasang IUD. Dia mengalami kram dan sakit kepala konstan setelah insersi. Menurut dokter, itu hanyalah efek samping dan akan mereda dengan sendirinya. Sejumlah efek samping, termasuk kram atau sakit punggung akan dirasakan selama beberapa hari setelah IUD dimasukkan.

Tanai Smith mengatakan ia merasa baik-baik saja setelah beberapa minggu pemasangan, dan selama hampir tiga tahun.

Editors' Picks

3. IUD yang terpasang bisa menghilang

3. IUD terpasang bisa menghilang
dailymail.co.uk

Pada bulan Oktober 2017, Tanai Smith mengunjungi obgyn untuk pemeriksaan tahunan. Saat melakukan pemeriksaan vagina, dokter tidak menemukan alat IUD yang sudah terpasang dalam rahim Smith selama 3 tahun.

Menurut dokter yang menanganinya, memang ada kemungkinan alat IUD bisa terjatuh.

American College of Obstetricians and Gynecologists melaporkan bahwa kasus IUD terjatuh bisa terjadi antara 3 hingga 5 persen.

Smith kemudian dikirim ke seorang ahli radiologi untuk dilakukan USG perut, leher rahim, dan rahimnya. Tetapi, alat IUD itu tidak juga ditemukan dan dinyatakan hilang. Namun, karena Smith tidak memiliki gejala apapun, jadi tidak ada yang ia khawatirkan saat itu.

4. Penemuan alat IUD yang berujung komplikasi

4. Penemuan alat IUD berujung komplikasi
dailymail.co.uk

Sebulan setelahnya, Tanai Smith yang sedang bekerja tiba-tiba merasakan sakit yang sangat tajam dan memburuk di bagian perutnya. Ia pun langsung mendapatkan penanganan darurat. Hasil pemindaian X-ray menunjukkan bahwa alat IUD yang semula menghilang, ditemukan terjepit di dinding perutnya.

Menurut dokter, kejadian itu bisa disebabkan oleh 2 kemungkinan. Pertama, pemasangan IUD pasca melahirkan dinilai terlalu cepat sehingga ketika rahim membaik, IUD terdorong ke atas. Kedua, otot-otot pada rahim secara bertahap mendorong alat IUD ke atas selama setiap siklus menstruasi. 

Namun dokter tidak yakin mana penyebab pasti dari kasus tersebut.

Untuk menangani kondisinya, operasi pun dilakukan. Setelah memiliki 3 sayatan untuk mengekstraksi IUD, dalam waktu 4 minggu kemudian IUD di dalam tubuh Smith diketahui sudah bergeser ke bagian livernya dan patah menjadi 4 atau 5 bagian. Hal ini membuatnya semakin sulit untuk ditemukan dan diekstraksi.

Pada malam berikutnya, Smith mengalami muntah hebat dan perdarahan pada vaginanya. Dari situ diketahui bahwa ia sudah mengalami perdarahan internal. Indung telurnya sudah menghitam, dan membutuhkan operasi histerektomi untuk mengangkat seluruh atau sebagian rahimnya. Kondisinya pun langsung menurun.

Setelah operasi kedua dilakukan, Smith mengembangkan sepsis, yaitu kondisi yang mengancam jiwa di mana zat kimia yang dilepaskan oleh sistem kekebalan masuk ke dalam aliran darah untuk melawan infeksi, dan menyebabkan peradangan di seluruh tubuh.

Tak sampai di situ. Smith mulai merasakan kesemutan di tangan dan kakinya. Jari kakinya pun berubah menjadi hitam akibat nekrosis, yang merupakan matinya jaringan tubuh karena terlalu sedikit darah yang mengalir di daerah itu. Nekrosis dapat disembuhkan tanpa amputasi melalui proses yang disebut debridemen, di mana jaringan nekrotik diangkat secara operasi.

Beberapa bulan berikutnya, akhirnya Smith menjalani operasi terakhir untuk mengangkat semua jari kaki di kaki kirinya dan ujung jari-jari kaki di kaki kanannya. Pasca operasi, tidak ada lagi komplikasi yang muncul.

5. Tetap melanjutkan hidup

5. Tetap melanjutkan hidup
Pixabay/xxolgaxx

Karena musibah yang dialaminya, Smith belum bisa kembali bekerja dan membutuhkan tongkat untuk berjalan. Tetapi, ia tetap bersyukur bisa berada di sisi putrinya dan terus menjalani hidup. Smith tidak merasa menyesal pernah memasang IUD, ia hanya tidak mengerti apa yang menyebabkan kesalahan dari kasus ini.

"Setiap hari saya sempat berpikir tentang apa yang terjadi dan bertanya-tanya: “Mengapa saya diberi cobaan ini? Saya hanya berharap saya tahu apa yang salah, jadi ketika putri saya bertanya mengapa dia tidak punya saudara kandung, saya bisa menjelaskannya," ungkap Smith.

Meskipun relatif kecil, masing-masing alat kontrasepsi memang memiliki risiko. Sebelum memilih, pelajari dulu cara kerja dan risiko yang bisa ditimbulkan dari masing-masing alat kontrasepsi ya, Ma. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.