Setelah seorang ibu melahirkan, pasti banyak di antaranya yang bercerita mengenai pengalaman melahirkan kepada teman, keluarga, dan orang-orang sekitarnya.
Pada dasarnya hal tersebut adalah wajar, tapi perlu diingat dengan baik adalah bagaimana kita bercerita sangat menentukan bagaimana keputusan calon ibu melahirkan nantinya.
Apabila memiliki kondisi yang serupa, calon ibu melahirkan mungkin akan berpatokan dengan informasi tersebut tanpa memikirkan adanya faktor-faktor tertentu saat melahirkan nanti.
Dokter OBGYN Purnawan Senoaji pun mengatakan bahwa sangat penting bagi ibu menceritakan pengalaman melahirkan yang sesungguhnya kepada ibu lain.
Ada kalanya, testimoni melahirkan bisa membahayakan ibu lain, apalagi bagi yang memiliki pengaruh di media sosial ataupun lingkungannya, tak sulit agar si pendengar mudah percaya.
Sebagai contoh pada ibu hamil dengan kondisi melahirkan bayi sungsang. Ia bercerita bahwa ia bisa melahirkan bayi sungsang tanpa operasi dengan narasi "bisa kok lahir sungsang tidak harus operasi."
Ucapan tersebut dapat membahayakan calon ibu melahirkan dengan kondisi serupa. Padahal ada sekian persen ibu hamil sungsang yang berhasil melahirkan dan atau yang tidak berhasil.
Intinya, terdapat beberapa resiko dalam melahirkan sungsang yang tidak semua ibu hamil dan melahirkan bisa lalui.
Bahkan, terdapat 7x lipat kejadian lahir sungsang tidak selamat dari jumlah keadaan bayi sungsang yang berhasil lahir.
Harusnya, ibu dengan pengalaman sungsang tersebut bisa mengatakannya dengan hati-hati, seperti "Untung selamat dan tidak terjadi komplikasi".
Ujaran tersebut lebih dapat diterima dengan tidak serta merta memberi informasi palsu kepada ibu lain, ketimbang mengatakan bahwa bayi sungsang dapat lahir tanpa melalui operasi.