Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Kabar Baik! Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia Turun di 2025
Magnific/krakenimages.com
  • Data SUPAS 2025 menunjukkan penurunan signifikan Angka Kematian Ibu menjadi 144 per 100.000 kelahiran hidup, menandakan peningkatan kualitas layanan kesehatan maternal di Indonesia.
  • Angka Kematian Bayi turun menjadi 14,12 per 1.000 kelahiran hidup, hampir setengah dari data tahun 2010, disertai tren positif pada indikator kesehatan anak lainnya.
  • Peningkatan akses dan kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kehamilan berkontribusi besar pada penurunan angka kematian, meski kesenjangan antarwilayah masih jadi tantangan menuju target SDGs 2030.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama bertahun-tahun angka kematian ibu dan bayi di Indonesia menjadi perhatian serius. Namun, akhirnya menunjukkan penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2025. Data terbaru ini menjadi salah satu tanda bahwa akses layanan kesehatan ibu dan anak di Indonesia perlahan mengalami perbaikan.

Informasi tersebut berasal dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada Mei 2026. Dalam laporan tersebut, sejumlah indikator kesehatan seperti Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) mengalami penurunan dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Meski tantangan masih ada, terutama soal kesenjangan layanan kesehatan antarwilayah, hasil ini tetap menjadi kabar yang melegakan. Penurunan angka kematian ibu dan bayi menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan dan persalinan di fasilitas kesehatan mulai meningkat.

Berikut Popmama.com rangkum fakta selengkapnya mengenai turunnya angka kematian ibu dan bayi di Indonesia tahun 2025!

1. Angka kematian ibu turun cukup signifikan

Pexels/Polina Tankilevitch

Berdasarkan hasil SUPAS 2025, Angka Kematian Ibu (AKI/MMR) di Indonesia kini berada di angka 144 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini mengalami penurunan dibanding hasil Long Form SP2020 yang sebelumnya berada di angka 189 per 100.000 kelahiran hidup.

Penurunan ini menjadi sinyal positif bagi kesehatan maternal di Indonesia. Sebab, AKI masih menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kualitas layanan kesehatan suatu negara, terutama terkait kehamilan dan persalinan.

2. Angka kematian bayi juga menurun hampir setengahnya dibanding 2010

Pexels/Jonathan Borba

Tidak hanya ibu, kondisi kesehatan bayi di Indonesia juga menunjukkan perkembangan positif. Angka Kematian Bayi (AKB/IMR) pada 2025 tercatat berada di angka 14,12 per 1.000 kelahiran hidup.

Jika dibandingkan dengan data SP2010 yang mencapai 26,09, penurunannya terbilang cukup besar. Artinya, dalam sekitar 15 tahun terakhir Indonesia berhasil menekan angka kematian bayi hampir setengahnya.

Selain AKB, indikator lain seperti Angka Kematian Neonatal (NMR), Angka Kematian Anak (CMR), dan Angka Kematian Balita (U5MR) juga dilaporkan mengalami tren penurunan.

3. Akses layanan kesehatan dinilai mulai membaik

Pexels/Jonathan Borba

Turunnya angka kematian ibu dan bayi diduga berkaitan dengan meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Kini semakin banyak ibu hamil yang melakukan kontrol rutin dan melahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan.

Kesadaran mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan juga semakin meningkat dibanding beberapa tahun sebelumnya. Hal ini membantu risiko komplikasi seperti perdarahan, infeksi, hingga preeklamsia terdeteksi lebih dini sehingga penanganannya bisa dilakukan lebih cepat.

4. Masih ada kesenjangan besar antarwilayah di Indonesia

Pexels/Jonathan Borba

Meski secara nasional menunjukkan penurunan, tantangan besar masih terlihat dari perbedaan kondisi antarwilayah di Indonesia. Wilayah barat Indonesia cenderung memiliki angka kematian bayi yang lebih rendah dibanding kawasan timur.

Data SUPAS 2025 menunjukkan bahwa DKI Jakarta memiliki angka kematian bayi terendah yakni 9,26 per 1.000 kelahiran hidup. Sementara itu, Papua Pegunungan masih mencatat angka tertinggi yaitu 37,04.

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa pemerataan akses fasilitas kesehatan dan tenaga medis masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia.

5. Indonesia masih mengejar target SDGs 2030

Pexels/Jonathan Borba

Meski angkanya membaik, Indonesia masih perlu bekerja keras untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Target global tersebut menetapkan Angka Kematian Ibu berada di bawah 70 per 100.000 kelahiran hidup.

Karena itu, peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak tetap menjadi fokus penting ke depan. Pemeriksaan kehamilan rutin, edukasi mengenai tanda bahaya kehamilan, hingga akses persalinan yang aman menjadi langkah utama untuk terus menurunkan risiko kematian ibu dan bayi di Indonesia.

Itulah tadi informasi mengenai turunnya angka kematian ibu dan bayi di Indonesia tahun 2025. Semoga tren positif ini terus berlanjut agar semakin banyak ibu dan bayi yang bisa menjalani kehamilan dan persalinan dengan aman serta sehat

Editorial Team