Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Mengapa setelah Melahirkan Mudah Menangis dan Cemas, Ini Faktanya!
Freepik/freepik
  • Setelah melahirkan, banyak ibu mengalami baby blues akibat perubahan hormon drastis yang memengaruhi keseimbangan kimia otak dan suasana hati, membuat mereka mudah menangis serta merasa cemas berlebihan.
  • Kelelahan fisik, kurang tidur, tekanan psikologis, dan minimnya dukungan sosial memperburuk kondisi emosional ibu baru, sehingga penting adanya waktu istirahat dan sistem pendukung yang kuat.
  • Rasa nyeri pascapersalinan, hilangnya waktu pribadi, serta tantangan menyusui turut memicu stres; memahami penyebab ini membantu ibu lebih tenang dan sadar bahwa reaksi emosional tersebut wajar terjadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah sembilan bulan menanti, kehadiran si Kecil di dunia tentu membawa kebahagiaan yang luar biasa. Namun, bukan rahasia lagi jika periode setelah melahirkan atau masa nifas juga menjadi tantangan emosional yang cukup berat bagi banyak Mama. Di tengah sibuknya mengurus bayi yang baru lahir, tak jarang Mama tiba-tiba merasa sangat emosional, mudah menangis tanpa alasan yang jelas, hingga merasa cemas berlebihan.

Perasaan ini sering kali membuat banyak Mama merasa bersalah atau bertanya-tanya, "Apakah aku menjadi Mama yang buruk?" Padahal, apa yang Mama alami sangatlah manusiawi. Perubahan suasana hati ini dikenal dengan istilah baby blues, yang dialami oleh sebagian besar perempuan setelah melahirkan akibat fluktuasi hormon yang sangat drastis dalam tubuh.

Mengutip dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), fluktuasi hormon estrogen dan progesteron yang terjadi segera setelah persalinan dapat memengaruhi zat kimia di otak yang mengatur suasana hati. Selain itu, kelelahan fisik yang ekstrem akibat kurang tidur dan proses pemulihan pascamelahirkan membuat Mama jauh lebih rentan terhadap perubahan emosi yang intens.

Jangan panik atau menyalahkan diri sendiri, ya, Ma. Memahami penyebab di balik kecemasan dan tangisan tersebut adalah langkah awal yang penting untuk memulihkan kesehatan mental Mama.

Agar Mama lebih tenang dan tidak lagi merasa sendirian, berikut Popmama.com rangkum adalah tujuh faktor utama yang sering kali menjadi penyebab mengapa Mama merasa jauh lebih sensitif dan cemas setelah si Kecil lahir.

1. Perubahan hormon yang sangat drastis

Freepik/freepik

Setelah plasenta keluar, kadar hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh mama mengalami penurunan yang sangat tajam dalam waktu singkat. Penurunan drastis ini berdampak langsung pada neurotransmiter di otak, terutama serotonin, yang berperan besar dalam mengatur suasana hati, nafsu makan, dan pola tidur.

Ketidakseimbangan kimiawi ini membuat sistem saraf Mama menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan dari luar. Akibatnya, hal-hal kecil yang biasanya tidak mengganggu, kini bisa memicu reaksi emosional yang intens, seperti menangis tiba-tiba atau rasa sedih yang mendalam.

Kondisi ini didukung oleh riset dari National Institute of Mental Health (NIMH), yang menyatakan bahwa perubahan hormon yang cepat pascamelahirkan berkontribusi signifikan terhadap fluktuasi emosional. Kabar baiknya, kondisi ini biasanya bersifat sementara dan akan membaik seiring dengan stabilnya kadar hormon Mama dalam beberapa minggu setelah melahirkan.

2. Kelelahan fisik dan kurang tidur

Freepik/user18526052

Menjadi Mama baru berarti harus siap dengan rutinitas menyusui atau mengganti popok di tengah malam. Kurang tidur yang kronis secara perlahan menguras energi fisik dan mental, membuat Mama sulit untuk berpikir jernih dan menjaga kestabilan emosi.

Saat tubuh berada dalam kondisi kelelahan ekstrem, mekanisme pertahanan alami tubuh untuk mengelola stres menjadi terganggu. Hal ini menyebabkan rasa cemas yang tadinya ringan bisa memuncak menjadi perasaan kewalahan (overwhelmed) yang membuat Mama merasa tidak berdaya dan mudah terpicu untuk menangis.

Menurut World Health Organization (WHO), pemulihan fisik yang memadai sangat krusial bagi kesejahteraan mental ibu pascamelahirkan. Penting bagi Mama untuk mencari waktu istirahat sejenak, meskipun hanya sebentar, agar otak memiliki kesempatan untuk memulihkan diri dari tekanan psikologis yang menumpuk.

3. Tekanan psikologis dan perubahan peran

Freepik/freepik

Menjadi orang tua adalah salah satu perubahan hidup yang paling besar dan drastis. Tiba-tiba saja, seluruh perhatian dan ritme hidup Mama harus disesuaikan dengan kebutuhan Si Kecil. Beban mental untuk menjadi "Mama yang sempurna" sering kali muncul dan menciptakan rasa cemas yang mendalam.

Kecemasan ini bisa diperburuk dengan ekspektasi sosial atau standar tinggi yang mungkin Mama tetapkan sendiri. Perasaan khawatir tentang apakah Mama sudah memberikan yang terbaik bagi bayi, atau kerinduan akan kehidupan sebelum memiliki anak, adalah hal yang sangat valid untuk dirasakan.

Berdasarkan laporan dari American Psychological Association (APA), transisi menjadi orang tua sering kali memicu tekanan psikologis karena adanya pergeseran identitas. Mengakui bahwa proses adaptasi ini tidak selalu berjalan mulus adalah cara yang sehat untuk melepaskan beban ekspektasi yang selama ini membelenggu pikiran Mama.

4. Kurangnya dukungan sosial (support system)

Freepik/freepic.diller

Mama tidak seharusnya menjalani fase ini sendirian. Ketika Mama merasa terisolasi atau kurang mendapatkan dukungan nyata—baik dalam urusan rumah tangga, pengasuhan, maupun dukungan emosional, rasa cemas akan jauh lebih mudah datang.

Banyak Mama merasa kewalahan karena mereka harus memikul semua tanggung jawab sendirian tanpa adanya ruang untuk sekadar bicara atau berbagi keluh kesah. Rasa kesepian di tengah sibuknya mengurus bayi justru bisa memicu perasaan sedih yang mendalam dan membuat Mama jauh lebih sensitif dari biasanya.

Penelitian dari National Institutes of Health (NIH) menegaskan bahwa dukungan sosial yang kuat merupakan faktor protektif utama dalam menjaga kesehatan mental ibu pascamelahirkan. Memiliki partner atau keluarga yang terlibat aktif dalam pengasuhan dapat membantu menurunkan tingkat stres secara drastis, sehingga Mama memiliki waktu untuk memulihkan diri.

5. Rasa nyeri dan pemulihan fisik pascapersalinan

Freepik/freepik

Proses melahirkan, baik secara pervaginam maupun melalui operasi sesar, memberikan trauma fisik yang signifikan pada tubuh. Rasa nyeri akibat luka jahitan, kram rahim saat menyusui, atau pemulihan luka operasi bisa sangat menguras energi fisik Mama.

Ketika tubuh terus-menerus merasakan nyeri, ambang batas toleransi stres Mama secara alami akan menurun. Rasa tidak nyaman secara fisik ini sering kali membuat Mama lebih cepat marah, mudah menangis karena frustrasi, dan merasa cemas terhadap kondisi kesehatan diri sendiri yang belum sepenuhnya pulih.

Menurut studi dari The Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), rasa sakit pascapersalinan yang tidak tertangani dengan baik berkorelasi kuat dengan peningkatan tingkat stres dan kecemasan pada ibu baru. Mengutamakan pemulihan fisik dengan istirahat cukup dan manajemen nyeri yang tepat adalah kunci penting untuk menstabilkan kondisi emosional Mama.

6. Perubahan gaya hidup dan hilangnya "me time"

Freepik/freepik

Sebelum ada Si Kecil, Mama mungkin terbiasa dengan kebebasan untuk melakukan hobi, bekerja, atau sekadar bersantai tanpa gangguan. Setelah melahirkan, setiap detik waktu Mama sepenuhnya didedikasikan untuk bayi, sehingga kehilangan ruang pribadi (me time) ini bisa memicu rasa kehilangan identitas diri.

Perubahan gaya hidup yang mendadak ini sering kali memicu rasa cemas akan masa depan atau perasaan "terperangkap" dalam rutinitas rumah tangga. Perasaan ini sangat wajar, namun jika tidak disalurkan dengan cara yang sehat, ia akan menumpuk menjadi emosi negatif yang sewaktu-waktu bisa meledak melalui tangisan.

Sebuah riset yang diterbitkan dalam Journal of Family Psychology menekankan bahwa menjaga keseimbangan antara peran sebagai ibu dan identitas diri individu sangat penting bagi kesehatan mental pascamelahirkan. Sesekali meluangkan waktu untuk diri sendiri, meski hanya 15 menit untuk menikmati secangkir teh, dapat membantu Mama merasa lebih tenang dan kembali siap menghadapi tantangan mengurus Si Kecil.

7. Tantangan dalam proses menyusui

Freepik/cookie_studio

Menyusui memang pengalaman yang indah, namun kenyataannya, proses ini tidak selalu berjalan mulus. Masalah seperti ASI yang belum keluar, puting lecet, hingga Si Kecil yang sering rewel saat menyusu, bisa menjadi tekanan mental yang luar biasa bagi Mama baru.

Mama sering merasa cemas secara berlebihan mengenai kecukupan nutrisi Si Kecil, yang kemudian memicu perasaan gagal atau tidak kompeten. Tekanan untuk memberikan yang terbaik bagi bayi, ditambah dengan rasa sakit fisik saat menyusui, sering kali membuat Mama merasa sangat rentan dan akhirnya menangis karena frustrasi.

Menurut panduan dari American Academy of Pediatrics (AAP), kesulitan dalam menyusui adalah salah satu tantangan psikologis yang paling umum dihadapi ibu baru. Sangat penting bagi Mama untuk tidak segan meminta bantuan konselor laktasi atau tenaga medis jika merasa kesulitan, agar proses menyusui tidak menjadi beban emosional yang justru menghambat momen bonding bersama bayi.

Mengalami rasa cemas dan mudah menangis setelah melahirkan bukanlah tanda bahwa Mama gagal menjalankan peran. Ini adalah reaksi fisiologis yang nyata dan umum terjadi, di mana tubuh dan pikiran sedang berusaha beradaptasi dengan peran baru sebagai orang tua. Jangan ragu untuk berbagi apa yang dirasakan kepada Papa atau orang terdekat, karena dukungan sosial sangat berperan besar dalam proses pemulihan emosional Mama.

Jika perasaan cemas ini menetap lebih dari dua minggu atau mulai mengganggu kemampuan Mama dalam merawat diri sendiri dan bayi, segera konsultasikan dengan tenaga profesional kesehatan. Ingat, kesehatan mental Mama sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan meminta bantuan adalah langkah yang bijak untuk keluarga yang lebih sehat dan bahagia.

Nah, kalau Mama sendiri bagaimana cara dalam mengelola rasa cemas atau emosi yang naik-turun setelah melahirkan kemarin? Apakah Mama punya ritual khusus atau dukungan dari Papa yang paling membantu selama masa itu?

Editorial Team