Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Raisa Sempat Alami Baby Blues dan Merasa Hilang Jati Diri
instagram.com/raisa6690
  • Raisa mengungkapkan pernah mengalami kelelahan ekstrem pascamelahirkan hingga muncul pikiran ingin jatuh dari tangga agar bisa beristirahat, menandakan tekanan mental berat yang dialami ibu baru.
  • Ia menekankan pentingnya dukungan emosional dari pasangan, terutama peran Hamish Daud yang peka terhadap kondisi psikologisnya dan membantu mencegah burnout melalui empati serta pembagian tugas rumah tangga.
  • Dari pengalaman itu, Raisa belajar bahwa menjaga identitas diri lewat aktivitas pribadi dan meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan langkah sehat untuk memulihkan keseimbangan mental seorang ibu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi seorang ibu adalah pengalaman yang menakjubkan, tetapi sering kali perasaan lelah yang datang terasa sangat menekan. Baru-baru ini, penyanyi cantik Raisa Andriana berbagi pengakuan mengejutkan mengenai pengalamannya dalam merawat putrinya, Zalina Raine Wyllie. Di balik senyum indahnya saat tampil di panggung, siapa sangka Raisa pernah merasakan kepenatan yang sangat mendalam hingga terlintas pikiran yang tidak biasa.

Dalam podcast di YouTube Vindes yang dipandu oleh Vincent dan Desta, Raisa mengungkapkan bahwa ia pernah mencapai titik kelelahan yang ekstrem setelah melahirkan. Ia menyatakan hasrat untuk "beristirahat" dengan cara yang drastis, yakni ingin sengaja terjatuh dari tangga agar dapat dirawat di rumah sakit. Pikiran ini muncul bukan dari keinginan untuk menyakiti diri, melainkan karena ia merasa satu-satunya cara untuk mendapatkan waktu istirahat total adalah dengan dirawat di rumah sakit, sehingga terlepas sejenak dari tanggung jawab rumah tangga.

"Gue pernah di titik lihat tangga terus mikir, 'Duh, kalau gue jatuh terus ke RS kayaknya enak deh, bisa istirahat seminggu'," kata Raisa. Pengakuan ini menjadi bukti nyata betapa besarnya tekanan mental yang dialami seorang Mama, bahkan bagi sosok terkenal seperti Raisa. Situasi ini menunjukkan bahwa kelelahan dalam mengasuh anak bukan sekadar butuh tidur selama sejam atau dua jam, tetapi adalah tanda bahwa mental Mama sudah berada di batasnya dan memerlukan dukungan nyata dari orang-orang di sekitarnya.

Jadi Mama tidak sendiri jika pernah mengalami hal tersebut, sebab banyak ibu di luar sana yang juga berjuang di titik terendah ini tanpa berani berbicara. Sangat penting untuk menyadari bahwa mengakui kelelahan bukanlah indikasi kita adalah ibu yang buruk, tetapi merupakan pengingat bahwa kita adalah manusia yang memiliki keterbatasan.

Yuk kita lihat fakta dan tips yang bisa dipelajari dari pengalaman Raisa untuk mengatasi kelelahan dalam mengasuh anak yang telah dirangkum oleh Popmama.com berikut ini!

1. Titik terendah Raisa dalam menjalani peran Ibu

instagram.com/raisa6690

Dalam obrolan yang santai namun mendalam di kanal YouTube Vindes, Raisa secara terbuka berbagi mengenai masa-masa sulitnya sebagai ibu baru. Ia mengakui ada periode di mana rasa lelah, baik mental maupun fisik, sangat menimpanya. Pengakuan ini cukup mengejutkan bagi banyak orang, karena selama ini citra Raisa di media sosial selalu tampak tenang dan "sempurna". Hal ini menunjukkan bahwa beban mengasuh anak bisa membuat siapa pun merasa kewalahan tanpa terkecuali.

Secara psikologis, menurut penelitian besar yang dimuat dalam jurnal Clinical Psychological Science pada tahun 2019 oleh Dr. Moïra Mikolajczak, kelelahan orang tua ditandai dengan keletihan yang luar biasa dan perasaan putus asa dalam menjalankan peranan sebagai orang tua. Jadi dengan membagikan cerita ini, Raisa sedang berupaya untuk menjadikan perasaan lelah sebagai hal yang normal dan bukan sesuatu yang memalukan.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kondisi ini sering menimpa orang tua yang memiliki standar "kesempurnaan" yang tinggi. Bagi Raisa, peralihan dari seorang bintang yang biasa ditangani oleh tim profesional menjadi seorang ibu yang harus siap siaga 24 jam untuk bayi adalah suatu hal kontras yang sangat melelahkan. Maka itu, mengakui kelelahan merupakan langkah awal yang paling krusial dalam proses pemulihan mental bagi seorang Mama.

2. Imajinasi jatuh dari tangga sebagai "tiket" istirahat

instagram.com/raisa6690

Raisa menceritakan secara spesifik bahwa pikiran impulsif itu muncul saat ia sedang berada di rumah dan melihat tangga. "Duh, jatuh enak banget deh, masuk RS seminggu gitu," kenangnya di depan Vincent dan Desta. Ia membayangkan bahwa jika dirawat di rumah sakit, ia akan mendapatkan tidur yang berkualitas, makanan yang telah disiapkan dan sementara terhindar dari tangisan bayinya tanpa merasa bersalah.

Secara medis, pikiran ini bisa dianggap sebagai bentuk pelarian mekanisme perlindungan otak yang mencari jalan keluar tercepat ketika emosi sudah benar-benar terkuras. Imajinasi Raisa tentang tangga menandakan bahwa sistem sarafnya sudah berada di ambang batas. Fenomena ini lazim dijumpai pada ibu baru yang berpikir satu-satunya cara untuk memperoleh "izin" beristirahat adalah melalui keadaan sakit atau cedera fisik.

Penting untuk diingat bahwa keinginan ini berbeda dari niat menyakiti diri sendiri secara langsung. Ini lebih cenderung kepada kelelahan mental yang sudah tidak tertahankan.

Jika Mama pernah merasakan hal serupa, itu adalah sinyal jelas bahwa Mama memerlukan intervensi segera, baik dalam bentuk dukungan pengasuhan maupun kesempatan untuk benar-benar menjauh dari tanggung jawab rumah tangga untuk beberapa waktu.

3. Krisis identitas: "aku siapa sih sekarang?"

Instagram.com/hamishdw

Poin lain yang disampaikan Raisa adalah perasaannya yang mengalami kehilangan identitas setelah kehadiran Zalina. Ia merasa bingung tentang posisinya di dunia ini. Di luar, ia adalah panutan bagi banyak orang, tetapi di rumah, ia merasa hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan bayinya. Rasa "hilang" ini sering kali membuat seorang ibu merasa terasing meskipun dikelilingi banyak orang.

Kondisi ini sejalan dengan penelitian mengenai Matrescence, istilah untuk menggambarkan pergeseran psikologis dan fisik menjadi seorang ibu yang intensitasnya mirip dengan masa pubertas. Penelitian dalam jurnal Archives of Women's Mental Health juga menunjukkan bahwa perubahan hormon pascamelahirkan yang dipadukan dengan kurang tidur kronis dapat menyebabkan rasa tidak mengenali diri sendiri pada 80% ibu baru.

Dari pengalaman Raisa, kunci untuk bangkit dari fase ini adalah keberanian untuk menyadari kebutuhan akan dukungan. Raisa menekankan bahwa menyeimbangkan peran sebagai "Mama" dan tetap jadi "Diri Sendiri" adalah tantangan yang memerlukan waktu serta kesabaran tambahan. Penting bagi setiap Mama untuk tetap memberikan ruang bagi hobinya agar identitas dirinya tidak sepenuhnya terkikis oleh rutinitas domestik.

4. Komitmen menjaga privasi zalina sejak sini

instagram.com/raisa6690

Meski mengalami kelelahan yang luar biasa, Raisa tetap berpegang pada prinsipnya untuk menjaga sang putri dari perhatian publik. Di hadapan Vincent dan Desta, ia menjelaskan bahwa tujuannya menutupi wajah Zalina bukan karena ingin terlihat rahasia, melainkan karena ia sangat menghargai hak privasi anaknya.

"Aku ingin dia yang menentukan sendiri kapan dia mau dikenal publik," ungkapnya. Di balik rasa lelah mengasuh, Raisa tetap menunjukkan komitmen luar biasa untuk melindungi masa depan mental anaknya.

Hal Ini berhubungan dengan konsep perlindungan privasi digital bagi anak. Raisa ingin memberikan kesempatan bagi Zalina untuk tumbuh tanpa tekanan dari ekspektasi orang-orang asing.

Pilihan ini menunjukkan bahwa meskipun seorang ibu sedang dalam keadaan mental yang lelah, naluri untuk memberikan yang terbaik bagi masa depan anak tetap menjadi pedoman utama dalam tindakannya.

Keputusan Raisa juga mendapat banyak dukungan dari para netizen karena dianggap sebagai teladan yang baik dalam menghormati hak privasi anak. Dengan menjaga jarak antara kehidupan pribadi dan konsumsi publik, Raisa berusaha menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang Zalina di masa depan, terlepas dari segala tantangan psikis yang ia lalui sebagai ibu baru.

5. Pentingnya support system sebagai penyelamat

Instagram.com/hamishdw

Saat menghadapi tantangan yang sulit, Raisa menekankan betapa besar kontribusi Hamish Daud sebagai sistem dukungan. Raisa menceritakan bahwa Hamish sangat peka terhadap kondisi emosionalnya yang sedang tidak stabil.

"Hamish itu selalu tanya, 'Are you okay? Kamu lagi butuh apa?'. Pertanyaan itu simpel tapi buat gue itu penyelamat banget, karena di saat semua orang nanya soal bayi, dia tetep nanya soal gue," ungkap Raisa.

Secara ilmiah, tindakan Hamish ini sejalan dengan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Archives of Women's Mental Health. Studi tersebut mengungkapkan bahwa dukungan emosional dari pasangan seperti mendengarkan keluh kesah dan menunjukkan empati jauh lebih efektif menurunkan risiko depresi pascamelahirkan dibandingkan hanya sekadar bantuan fisik saja. Hal ini dikarenakan dukungan emosional membantu ibu merasa tetap dihargai sebagai individu, bukan sekadar "mesin" pengasuh anak, sehingga tangki kebahagiaannya tetap terisi meski sedang lelah luar biasa.

Selain dukungan verbal, aksi nyata Hamish dalam membagi beban tugas juga menjadi kunci Raisa bisa pulih dari fase burnout. Raisa menyebutkan bahwa Hamish sangat proaktif dan sering kali mengambil alih tugas tanpa harus diminta saat melihat Raisa sudah di ambang batas kelelahan.

"Kita bener-bener bagi tugas. Hamish itu tipe yang kalau gue lagi capek banget, dia langsung take over. Dia bilang, 'Udah kamu tidur aja, biar aku yang jagain Zalina'," tambahnya.

Bagi para Mama yang lagi berjuang, penting untuk berterus terang mengenai jenis bantuan yang diinginkan, seperti yang dilakukan Raisa, ya, Ma. Terkadang, orang di sekitar ingin membantu tetapi tidak tahu caranya. Mengungkapkan, "Saya butuh pertolongan," bukanlah tanda gagal, melainkan langkah sehat untuk mencegah akumulasi emosi di kemudian hari.

6. Me time bukan keegoisan, melainkan kembali ke jati diri

instagram.com/raisa6690

Dari pengalaman terendahnya, Raisa mulai memahami pentingnya menyapa kembali dirinya sebagai seorang seniman. Ia menceritakan bahwa kembali bernyanyi dan beraktivitas adalah cara untuk mengisi ulang energinya.

"Pas aku nyanyi lagi, aku ngerasa 'Oh, ini lho gue'," katanya di kanal YouTube Vindes. Menjadi seorang ibu tidak berarti harus menghilangkan identitas yang sudah ada.

Secara ilmiah, melakukan aktivitas yang meningkatkan rasa percaya diri dapat meningkatkan hormon dopamin yang melawan stres.

Waktu untuk diri sendiri bagi seorang ibu tidak harus mewah. Bagi Raisa, kembali berkarya adalah cara untuk menyembuhkan diri. Ini membantu otak untuk melakukan reset dari rutinitas domestik yang sering kali membuatnya merasa jenuh.

Raisa membuktikan bahwa dengan tetap menjaga kebahagiaan pribadinya, ia justru bisa menjadi ibu yang lebih sabar. Mama harus ingat petuah penting ini, Mama tidak bisa menuang air dari gelas yang kosong. Jadi, jangan merasa bersalah jika ingin melakukan hobi sejenak, karena Mama yang bahagia akan menciptakan anak yang bahagia juga.

7. Mengambil pelajaran dari sinyal "SOS" mental versi Raisa

instagram.com/raisa6690

Pengakuan Raisa mengenai pikiran "ingin jatuh dari tangga" sebenarnya adalah sinyal darurat dari mentalnya yang sudah berada di titik terendah.

Meskipun dalam podcast tersebut Raisa tidak secara langsung menyebutkan bahwa ia telah menemui psikolog, ia menekankan bahwa ia berhasil pulih karena berani jujur mengenai kelelahan yang dirasakannya kepada orang-orang terdekat. Kesadaran diri seperti yang dimiliki Raisa adalah kunci utama untuk mencegah kondisi burnout semakin parah.

Bagi para Mama yang mungkin tidak memiliki sistem dukungan sekuat Raisa, sangat penting untuk mengenali kapan kelelahan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Jika pikiran melarikan diri atau perasaan kosong mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak perlu ragu untuk mencari bantuan dari profesional. Penelitian dalam jurnal Archives of Women's Mental Health menunjukkan bahwa dukungan profesional dapat mencegah burnout orangtua dari berkembang menjadi depresi klinis yang lebih serius.

Mencari bantuan, baik itu ke psikolog maupun bercerita ke sahabat, bukan berarti Mama gagal dalam mengurus anak. Justru, itu merupakan langkah paling berani untuk menyelamatkan kesejahteraan keluarga.

Kisah Raisa ini jadi pengingat penting buat kita semua bahwa menjadi ibu yang bahagia jauh lebih utama daripada sekadar mengejar status ibu yang sempurna. Jangan pernah merasa bersalah untuk mengambil jeda dan meminta bantuan saat beban di pundak terasa mulai tak tertahankan, karena kesejahteraan mental Mama adalah fondasi utama bagi kebahagiaan si Kecil.

Nah, kalau Mama sendiri, apa nih rahasia andalan buat tetap happy dan "waras" di tengah padatnya jadwal mengasuh si Kecil?

Editorial Team