Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Ciri-Ciri Kardiomiopati Peripartum pada Ibu Hamil
Pexels/jcomp

  • Kardiomiopati peripartum adalah kondisi langka yang melemahkan otot jantung ibu hamil, biasanya muncul di akhir kehamilan atau beberapa bulan setelah melahirkan dan dapat mengancam jiwa bila tidak ditangani.
  • Gejalanya sering mirip dengan keluhan kehamilan biasa seperti sesak napas, pembengkakan kaki, kelelahan, dan jantung berdebar, sehingga penting untuk diagnosis dini melalui pemeriksaan medis seperti ekokardiogram.
  • Pengobatan fokus pada pemulihan fungsi jantung dengan obat gagal jantung yang aman bagi ibu dan janin, sementara pencegahan dilakukan lewat gaya hidup sehat serta pemantauan rutin oleh dokter.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Artikel ini sudah ditinjau oleh dr. Agustinus D, Sp.OG

Setiap ibu hamil pasti berharap selalu sehat selama kehamilannya. Namun dalam beberapa kasus, ibu hamil mengalami beberapa gangguan kesehatan. Misalnya ibu hamil mengalami masalah jantung langka yang disebut kardiomiopati peripartum.

Kardiomiopati peripartum (PPCM), juga dikenal sebagai Cardiomyopathy peripartum, adalah kondisi jantung yang jarang terjadi dan dialami oleh ibu hamil pada akhir kehamilan atau dalam beberapa bulan setelah melahirkan. Kondisi ini melemahkan otot jantung, yang mengurangi jumlah darah yang dipompa setiap detak.

Ibu hamil perlu mengetahui gejala kardiomiopati peripartum agar bisa ditangani sejak dini agar tidak membahayakan kehamilan dan janin.

Apa saja ciri-ciri kardiomiopati peripartum pada ibu hamil? Popmama sudah merangkum informasinya khusus untuk Mama pada ulasan berikut ini.

Apa Itu Kardiomiopati Peripartum?

Pexels/Amina Filkins

Kardiomiopati peripartum adalah kondisi langka yang melemahkan otot jantung. Hal ini menurunkan kemampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh, yang dapat mengancam jiwa.

Kondisi ini memengaruhi ibu hamil pada bulan terakhir kehamilan atau hingga lima bulan setelah melahirkan. Karena alasan itu, orang juga menyebutnya kardiomiopati postpartum atau kardiomiopati terkait kehamilan. Kondisi ini dapat terjadi pada usia berapa pun, tetapi paling umum terjadi pada mereka yang berusia di atas 30 tahun.

Kardiomiopati peripartum merusak salah satu bilik jantung, ventrikel kiri, dan membuatnya kurang mampu melakukan tugasnya. Ventrikel kiri memiliki tugas penting untuk memompa darah kaya oksigen ke seluruh tubuh.

Mama mungkin pernah mendengar dokter menggunakan istilah "fraksi ejeksi ventrikel kiri" (LVEF). Mereka biasanya memeriksa ini dengan ekokardiogram. LVEF mengacu pada seberapa baik ventrikel kiri dapat memompa darah keluar dari jantung. Dokter menggambarkan LVEF Mama sebagai persentase, dan angka yang lebih tinggi lebih baik.

Normalnya, LVEF Mama adalah 50% hingga 70%. Kardiomiopati peripartum mengurangi LVEF Mama hingga kurang dari 45%. Semakin rendah LVEF ibu hamil, semakin serius kondisinya.

Diagnosis dini sangat penting untuk mendapatkan perawatan yang tepat dan sangat meningkatkan peluang pemulihan yang lancar.

Apa Ciri-Ciri Kardiomiopati Peripartum pada Ibu Hamil?

Freepik/DCStudio

Gejala kardiomiopati peripartum mudah terlewatkan karena banyak di antaranya mirip dengan apa yang Mama rasakan selama kehamilan. Namun karena kondisi ini sangat serius, penting untuk memperhatikan gejala-gejala berikut:

  • Sesak napas (dispnea) — terutama saat ibu hamil mencoba tidur, berbaring, atau melakukan aktivitas fisik.

  • Kelelahan.

  • Pembengkakan (edema) pada kaki dan pergelangan kaki.

  • Jantung berdebar.

  • Batuk kering.

  • Pembengkakan pembuluh darah leher.

  • Pusing.

  • Tekanan darah rendah (hipotensi) atau tekanan darah yang tiba-tiba turun saat ibu hamil berdiri.

  • Nyeri dada.

Kardiomiopati peripartum biasanya dimulai pada bulan terakhir kehamilan atau lebih lambat. Tetapi bisa dimulai lebih awal. Kehamilan juga dapat memberi tekanan ekstra pada jantung ibu hamil dan memperburuk kondisi jantung yang sebelumnya tidak terdiagnosis.

Jadi, penting untuk melacak gejala selama kehamilan Mama, bukan hanya pada minggu-minggu terakhir.

Apa Penyebab Kardiomiopati Peripartum?

Pexels/Pixabay

Para peneliti tidak mengetahui penyebab kardiomiopati peripartum. Tetapi mereka berpikir kemungkinan penyebabnya termasuk perubahan hormonal selama kehamilan dan kondisi lain seperti preeklamsia. Beberapa faktor dapat bergabung untuk menyebabkan kondisi ini.

Kardiomiopati peripartum mungkin bersifat herediter (diturunkan dari orangtua kepada anak biologis mereka), tetapi penelitian belum membuktikan hubungan ini.

Sekitar 15% hingga 20% perempuan dengan kardiomiopati peripartum memiliki mutasi genetik yang dapat menyebabkan kardiomiopati. Jika Mama memiliki mutasi genetik ini, stres kehamilan dan persalinan dapat memicu gejala kardiomiopati.

Penting bagi ibu hamil dan ahli jantung untuk mengetahui riwayat penyakit jantung, khususnya kardiomiopati atau gagal jantung, dalam keluarga biologis Mama.

Siapa yang Berisiko?

Pexels/Engin Akyurt

Kardiomiopati peripartum memiliki banyak faktor risiko. Semakin banyak faktor risiko yang Mama miliki, semakin besar kemungkinan Mama mengembangkan kardiomiopati peripartum.

Faktor-faktor risiko tersebut saling menambah dan menimbulkan ancaman yang lebih besar daripada jika berdiri sendiri.

Faktor risiko sebelum kehamilan:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi).

  • Diabetes.

  • Obesitas.

  • Kekurangan selenium dan seng.

  • Gangguan penggunaan zat (SUD).

Faktor risiko yang berkaitan dengan kehamilan:

  • Kehamilan pertama kali.

  • Kehamilan dengan bayi kembar atau kembar tiga.

  • Memiliki riwayat diagnosis kardiomiopati peripartum.

  • Menggunakan teknologi (seperti IVF) untuk membantu Mama hamil.

Komplikasi selama kehamilan:

  • Preeklamsia dan eklamsia.

  • Anemia.

  • Penyakit tiroid.

  • Asma atau penyakit autoimun yang kambuh.

  • Penggunaan obat dalam jangka panjang untuk menunda persalinan jika Mama mengalami kontraksi prematur.

Komplikasi Kardiomiopati Peripartum

Pexels/MART PRODUCTION

Saat ventrikel kiri ibu hamil melemah dan lelah, ia tidak dapat memompa darah seefisien mungkin ke paru-paru, hati, dan organ lain yang bergantung padanya. Perlambatan ini memengaruhi seluruh tubuh ibu hamil. Hal ini menyebabkan gagal jantung dan meningkatkan risiko pembekuan darah dan trombosis.

Komplikasi yang mengancam jiwa dapat meliputi:

  • Irama jantung abnormal (aritmia).

  • Syok kardiogenik.

  • Gagal jantung berat.

  • Masalah akibat pembekuan darah.

  • Cedera pada otak.

Bagaimana Kardiomiopati Peripartum Didiagnosis?

Pexels/Kaboompics.com

Dokter akan mendiagnosis Mama dengan kardiomiopati peripartum jika ibu hamil memenuhi ketiga kriteria ini:

  • Ibu hamil mengalami gagal jantung menjelang akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah persalinan.

  • Dokter tidak dapat menemukan penyebab lain untuk gagal jantung ibu hamil. (Mereka harus menyingkirkan kemungkinan penyebab lain yang dapat menimbulkan gejala ibu hamil.)

  • Fraksi ejeksi ventrikel kiri (LVEF) ibu hamil kurang dari 45%.

Untuk mencapai diagnosis, dokter akan berbicara dengan ibu hamil tentang riwayat kesehatan dan riwayat keluarga.

Saat membuat diagnosis, dokter mungkin menyebut kondisi Mama sebagai Kelas I, II, III, atau IV. Semakin tinggi angkanya, semakin parah kondisi Mama. Diagnosis dini mengurangi risiko kematian akibat kardiomiopati peripartum dan memungkinkan Mama untuk mendapatkan perawatan sesegera mungkin.

Jika ibu hamil mendapatkan diagnosis setelah kondisi memburuk, ibu hamil lebih mungkin mengalami komplikasi serius seperti masalah jantung yang berkelanjutan.

Tes apa yang akan dilakukan untuk mendiagnosis kardiomiopati peripartum? Tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis kardiomiopati peripartum. Sebagai gantinya, dokter akan menggunakan tes lain bersama dengan informasi yang Mama berikan.

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda cairan berlebih di tubuh ibu hamil. Kemudian, ibu hamil akan menjalani tes yang mungkin meliputi:

  • Tes darah.

  • Elektrokardiogram (EKG).

  • Rontgen dada.

  • Ekokardiogram (ekokardiogram). Ini akan menunjukkan fraksi ejeksi ventrikel kiri (LVEF), yang merupakan bagian penting dari diagnosis ibu hamil.

  • MRI jantung (pencitraan resonansi magnetik).

  • Kateterisasi jantung.

  • Biopsi miokardium (jarang).

Tes-tes ini akan mengungkapkan masalah jantung apa pun yang Mama alami sebelum kehamilan. Beberapa orang memiliki masalah jantung selama bertahun-tahun dan tidak mengetahuinya sampai mereka mulai mengalami gejala selama kehamilan. Hasil tes Mama akan membantu dokter membuat diagnosis yang akurat.

Bagaimana Kardiomiopati Peripartum Diobati?

Pexels/ SHVETS production

Pengobatan kardiomiopati peripartum mengelola gejala gagal jantung dan membantu jantung ibu hamil pulih. Kondisi ini tidak akan hilang dengan sendirinya.

Jika Mama didiagnosis selama kehamilan, dokter akan memastikan bahwa obat-obatan apa pun aman untuk janin. Mereka akan berbicara dengan Mama tentang pilihan pengobatan dan membahas kemungkinan efek samping.

Mama juga kemungkinan akan bekerja sama dengan tim spesialis yang dapat memberikan saran tentang kehamilan berisiko tinggi dan dampak penyakit jantung pada kehamilan.

Mama mungkin memerlukan obat-obatan yang juga mengobati jenis gagal jantung lainnya, seperti:

  • Penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE).

  • Penghambat reseptor angiotensin II (ARB).

  • Penghambat reseptor angiotensin/neprilisin (ARNI).

  • Penghambat beta.

  • Diuretik.

  • Hidralazin/nitrat.

  • Antagonis reseptor mineralokortikoid (MRA).

  • Penghambat kotransporter natrium-glukosa-2 (SGLT2).

  • Antikoagulan.

  • Tergantung pada seberapa baik fungsi jantung Mama, Mama mungkin memerlukan perawatan lain, seperti:

  • Alat bantu jantung seperti defibrillator jantung yang dapat dikenakan atau ditanamkan.

  • Alat bantu ventrikel kiri (LVAD).

  • Transplantasi jantung biasanya untuk orang dengan penyakit lanjut yang memiliki fraksi ejeksi ventrikel kiri (LVEF) yang sangat rendah dan tidak merespons terapi.

Efek samping bervariasi tergantung pada pengobatan dan apakah Mama sedang hamil saat itu. Mengonsumsi beta-blocker selama kehamilan dapat menyebabkan bayi memiliki berat lahir yang lebih rendah atau kondisi seperti hipoglikemia, bradikardia, atau blok jantung.

Beberapa obat — termasuk penghambat ACE, ARB, ARNI, MRA, dan penghambat SGLT2 — tidak aman digunakan selama kehamilan. Namun, obat-obatan ini umumnya aman digunakan saat menyusui karena hanya sedikit yang masuk ke dalam ASI.

Penting untuk berbicara dengan dokter tentang waktu, risiko, dan efek samping dari setiap obat.

Lebih dari 50% orang yang menderita kardiomiopati peripartum pulih hingga memiliki fungsi jantung yang normal — sering kali dengan pengobatan kurang dari enam bulan. Bagi sebagian orang, hanya membutuhkan beberapa hari atau minggu. Yang lain mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.

Namun, Mama kemungkinan perlu terus mengonsumsi obat setidaknya selama satu tahun setelah fungsi jantung Mama pulih.

Beberapa obat — termasuk penghambat ACE, ARB, ARNI, MRA, dan penghambat SGLT2 — tidak aman digunakan selama kehamilan. Namun, obat-obatan ini umumnya aman digunakan saat menyusui karena hanya sedikit yang masuk ke dalam ASI. Sebaiknya konsultasi dahulu ke dokter jantung sebelum mengonsumsi obat dan berencana memberikan ASI untuk si Kecil.

Lebih dari 50% orang yang menderita kardiomiopati peripartum pulih hingga memiliki fungsi jantung yang normal — seringkali dengan pengobatan kurang dari enam bulan. Bagi sebagian orang, hanya membutuhkan beberapa hari atau minggu. Yang lain mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.

Namun, Mama kemungkinan perlu terus mengonsumsi obat setidaknya selama satu tahun setelah fungsi jantung Mama pulih.

Bagaimana Cara Menurunkan Risiko Kardiomiopati Peripartum?

Pixabay/CommanderClive

Cara terbaik untuk mencegah kardiomiopati peripartum adalah dengan melakukan segala upaya untuk menjaga kesehatan jantung Mama. Meskipun Mama tidak dapat menghindari semua faktor risiko, Mama dapat mengelola faktor risiko lainnya dengan:

  • Mengonsumsi makanan yang menyehatkan jantung.

  • Melakukan aktivitas fisik secara teratur.

  • Menghindari produk tembakau dan alkohol.

  • Bekerja sama dengan dokter untuk mengelola kondisi seperti kelebihan berat badan atau obesitas.

  • Memeriksa tekanan darah secara teratur dan mengobatinya jika diperlukan.

Jika ibu hamil pernah mengalami gagal jantung selama kehamilan sebelumnya, bicarakan dengan dokter tentang faktor risiko jika berencana untuk hamil lagi.

Bagaimana cara Mama menjaga kesehatan diri sendiri? Hal terpenting yang dapat Mama lakukan untuk menjaga kesehatan diri sendiri adalah mengunjungi dokter secara teratur. Ikuti rencana dokter dan hubungi mereka untuk membicarakan masalah atau perubahan apa pun yang Mama perhatikan.

Beberapa perubahan sederhana sehari-hari yang dapat Mama lakukan meliputi:

  • Mengurangi konsumsi garam. Cari pilihan untuk menambah rasa tanpa garam.

  • Menimbang berat badan untuk memantau penumpukan cairan. Jika berat badan naik 1,3 hingga 1,8 kg dalam beberapa hari, hubungi dokter

  • Berhenti merokok.

  • Hindari alkohol sepenuhnya.

Itu ciri-ciri kardiomiopati peripartum pada ibu hamil. Jika Mama hamil dan memiliki salah satu faktor risiko kardiomiopati peripartum, bicarakan dengan dokter.

Diagnosis dini sangat penting untuk mendapatkan perawatan yang Mama butuhkan dan mengurangi risiko komplikasi serius bagi kehamilan dan janin.

Editorial Team