TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Serba-serbi Cairan Ketuban yang Perlu Ibu Hamil Ketahui

Cairan ketuban memiliki banyak fungsi penting untuk perkembangan janin yang sehat

27 September 2022

Serba-serbi Cairan Ketuban Perlu Ibu Hamil Ketahui
Freepik/Prostooleh

Istilah cairan ketuban sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga mama bukan? Cairan bening berwarna kuning ini akan terbentuk di masa kehamilan untuk mengelilingi bayi yang sedang tumbuh di dalam rahim.

Cairan ketuban memiliki banyak fungsi penting dan vital untuk perkembangan janin yang sehat. Namun, perlu Mama ketahui juga bahwa jumlah cairan ketuban di dalam rahim terlalu sedikit atau terlalu banyak, bisa menimbulkan komplikasi, lho!

Nah selain itu, ada beberapa fakta lain mengenai cairan ketuban yang perlu Mama ketahui. Kali ini Popmama.com telah rangkum dari beragam sumber serba-serbi cairan ketuban yang perlu ibu hamil ketahui. Yuk, Ma, disimak!

Bagaimana Proses Cairan Ketuban Terbentuk?

Bagaimana Proses Cairan Ketuban Terbentuk
Freepik/user18526052

Cairan ketuban adalah cairan bening berwarna kuning yang terbentuk saat 12 hari pertama setelah pembuahan terjadi.

Cairan ketuban akan terbentuk di dalam kantung ketuban, sebuah kantong yang terdiri dari dua selaput, amnion, dan korion.

Pada awalnya, cairan ketuban terdiri atas cairan dari tubuh ibu hamil, tetapi secara bertahap di sekitar 20 minggu kehamilan, cairan ini sepenuhnya tergantikan oleh urine janin.

Cairan ketuban mengandung nutrisi penting, hormon, dan antibodi yang dapat membantu melindungi bayi dari benturan, cedera, dan infeksi.

Jumlah Cairan Ketuban

Jumlah Cairan Ketuban
Freepik/Tonefotografia

Jumlah cairan ketuban akan terus bertambah seiring usia kehamilan bertambah. Saat kehamilan masuk di minggu ke-12, cairan ketuban hanya ada sekitar 175 mL, kemudian di minggu ke-20 kehamilan jumlah cairan ketuban menjadi sekitar 400 mL.

Pada minggu ke-34 hingga 36 kehamilan, jumlah cairan ketuban adalah sekitar 800 - 1.200 mL. Lalu saat waktu persalinan akan tiba di sekitar minggu ke-40, jumlah cairan ketuban akan berkurang hingga hanya sekitar 600 mL.

Editors' Picks

Warna Cairan Ketuban

Warna Cairan Ketuban
Freepik/Prostooleh

Air ketuban awalnya akan berwarna jernih atau kekuningan, namun setelah bayi di dalam rahim sudah mulai buang air besar, maka cairan ketuban akan berubah menjadi berwarna hijau atau cokelat.

Kotoran bayi atau disebut juga mekonium dalam cairan ketuban bisa menjadi masalah jika terhirup oleh bayi ke dalam paru-paru. Hal ini dapat menyebabkan masalah pernapasan yang disebut sindrom aspirasi mekonium.

Dalam beberapa kasus, bayi yang menghirup mekonium akan memerlukan perawatan setelah mereka lahir.

Manfaat Air Ketuban

Manfaat Air Ketuban
Pexels/MART PRODUCTION
Deteksi down syndrome melalui USG

Cairan ketuban memiliki banyak manfaat untuk bayi di dalam kandungan. Berikut manfaat cairan ketuban selama kehamilan untuk bayi:

  • Melindungi janin dari tekanan dan goncangan dari luar.
  • Cairan ketuban dapat mengontrol suhu sehingga dapat menjaga bayi tetap hangat di dalam rahim.
  • Cairan ketuban mengandung antibodi sehingga dapat mencegah dan bayi mengalami infeksi.
  • Membantu perkembangan sistem paru-paru bayi.
  • Membantu perkembangan sistem pencernaan bayi.
  • Membantu bayi lebih mudah bergerak di dalam rahim.
  • Membantu perkembangan otot dan tulang.
  • Cairan ketuban dapat mencegah janin terlilit tali pusat.

Masalah yang Dapat Terjadi pada Cairan Ketuban

Masalah Dapat Terjadi Cairan Ketuban
Freepik/ jcomp

Normalnya, jumlah cairan ketuban adalah sekitar satu liter. Jika jumlah cairan ketuban terlalu sedikit atau terlalu banyak hal ini dapat menimbulkan masalah.

Berikut masalah yang dapat terjadi pada cairan ketuban:

  • Oligohidramnion

Oligohidramnion adalah kondisi ketika cairan ketuban terlalu sedikit, sekitar kurang dari 500 mL.

Kondisi ini dapat terjadi pada ibu hamil dengan riwayat hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes, atau terjadi kebocoran ketuban.

Oligohidramnion dapat terjadi selama trimester apa pun, tetapi umumnya terjadi di 6 bulan pertama kehamilan dan di trimester ketiga.

Jika ibu hamil mengalami kondisi oligohidramnion, akan ada risiko cacat lahir, keguguran, dan kelahiran prematur.

Jika ibu hamil mengalami oligohidramnion, umumnya dokter akan memutuskan agar ibu hamil melahirkan secara caesar.

  • Polihidramnion

Polihidramnion atau juga disebut sebagai hidramnion adalah kondisi ketika ada terlalu banyak cairan ketuban. Pada beberapa kasus ibu hamil yang mengalami polihidramnion, jumlah air ketuban dapat mencapai hingga lebih dari dua liter.

Kondisi ini dapat terjadi akibat beberapa hal, seperti ibu hamil yang menderita diabetes, ada penumpukan cairan pada salah satu bagian tubuh janin (hydrops fetalis), dan terdapat masalah pada plasenta.

Ibu hamil yang mengalami polihidramnion umumnya akan merasakan sesak atau sulit bernapas, sembelit, nyeri pada ulu hati, dan bengkak di tungkai bawah dan kemaluan.

Kasus polihidramnion ringan biasanya sembuh tanpa pengobatan, namun pada kasus yang parah, cairan ketuban perlu dikurangi dengan tindakan amniosentesis atau dengan obat indometasin.

Ketuban Pecah DIni

Ketuban Pecah DIni
Freepik/User15285612

Ketika kantung ketuban pecah sebelum waktu persalinan dimulai, hal ini disebut dengan ketuban pecah dini atau premature rupture of membranes (PROM). Umumnya ketuban pecah dini terjadi sebelum minggu ke-37 kehamilan.

Ketuban pecah dini dapat terjadi karena beberapa hal, seperti adanya infeksi di rahim dan kantung ketuban, kehamilan kembar, dan jumlah cairan ketuban terlalu banyak.

Gejala yang disertai saat ibu hamil mengalami ketuban pecah dini adalah adanya sensasi tertekan pada panggul, vagina terasa basah, pendarahan, hingga demam apabila terjadi infeksi.

Ketuban pecah dini dapat berbahaya bagi janin, hal ini dapat mengakibatkan cedera otak pada janin hingga kematian.

Jika ibu hami merasa ada cairan bening keluar dari vagina, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan.

Kebocoran Cairan Ketuban

Kebocoran Cairan Ketuban
Freepik/DC Studio

Cairan ketuban pun bisa mengalami kebocoran, Ma. Hal ini bisa terjadi akibat adanya infeksi atau ibu hamil memilki kelainan bentuk rahim.

Sebagian besar, awalnya hanya akan tetesan kecil dan kemudian akan merembes atau bocor. Terkadang, cairan yang keluar terlihat seperti urine, namun jika cairan yang keluar tersebut tidak berwarna dan tidak berbau, itu menjadi tanda cairan ketuban bocor.

Jika ibu hamil mengalami hal tersebut di trimester akhir, perlu segera menghubungi dokter karena bisanya ini berarti persalinan akan segera dimulai.

Namun jika hal ini terjadi di trimester pertama atau kedua, ada risiko keguguran, bayi cacat lahir, kelahiran prematur, hingga kematian janin.

Itu tadi serba-serbi cairan ketuban yang perlu ibu hamil ketahui. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan, ya, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.

Mama CerdAZ

Ikon Mama CerdAZ

Panduan kehamilan mingguan untuk Mama/Ibu, lengkap dengan artikel dan perhitungan perencanaan persalinan

Cari tahu yuk