5 Fakta tentang Surrogate Mother

Ternyata lebih kompleks dari sekadar meminjamkan rahim

10 Februari 2020

5 Fakta tentang Surrogate Mother
Pexels/freestocks.org

Tahukah Mama bahwa dua anak terakhir Kim Kardashian dan Kanye West lahir dari rahim surrogate mother atau ibu pengganti?

Apa itu surrogate mother?

Surrogate mother atau ibu pengganti adalah sebutan yang ditujukan kepada perempuan yang meminjamkan rahimnya guna membantu pasangan suami istri memperoleh keturunan. Praktik ini lazim ditemui di Eropa dan Amerika Serikat.

Namun, proses ini harus berada di bawah perjanjian hukum. Hal tersebut demi menghindari praktik ilegal jual beli rahim semata karena alasan kebutuhan ekonomi. Itulah mengapa surrogate mother menjadi polemik di banyak negara.

Yuk, simak penelusuran Popmama.commengenai 5 fakta surrogate mother dari berbagai sumber.

1. Surrogate mother vs gestational carrier

1. Surrogate mother vs gestational carrier
Pexels/Garon Piceli

Dilansir dari laman verywellfamily, sebetulnya penggunaan istilah surrogate mother kurang tepat. Istilah ini hanya pas jika perempuan yang akan mengandung itu memakai sel telurnya sendiri dan dibuahi sel sperma melalui proses inseminasi.

Sementara, praktik yang umum terjadi adalah pembuahan dilakukan melalui prosedur IVF (in vitro fertility). Embrio hasil pembuahan sel telur dan sel sperma dari orang tua kandung ditransfer ke dalam rahim ibu pengganti.

Secara genetis, sebutan suroggate mother menunjukkan ada pertalian darah antara ibu dan bayi dalam kandungannya. Bisa saja sewaktu-waktu sang ibu akan berubah pikiran setelah ia melahirkan anak itu.

Maka, prosedur adopsi justru diperlukan, supaya orang tua bisa mendapat hak asuh penuh dan sah di mata hukum. Itulah mengapa, kehamilan pengganti tradisional semacam ini jarang digunakan.

2. Berbagai prosedur gestational carrier

2. Berbagai prosedur gestational carrier
Pixabay/DrKontogianniIVF

Pendek kata, gestational carrier adalah perempuan yang tidak terhubung secara genetis dengan anak yang dikandungnya.

Seperti disebutkan di atas, prosedur IVF menjadi cara paling umum untuk melakukan kehamilan pengganti.

Namun, kehamilan ini bisa juga dilakukan melalui prosedur lain, seperti:

  • Sel telur ibu kandung dibuahi donor sperma
  • Donor sel telur dibuahi sel sperma ayah kandung
  • Donor sel telur dibuahi donor sperma
  • Donasi embrio

Di beberapa negara bagian Amerika Serikat dan negara lain, perjanjian kehamilan pengganti boleh dilakukan jika calon bayi itu mempunyai pertalian darah dengan salah satu orang tua kandung.

Sebagai contoh, seorang perempuan “meminjamkan” rahimnya untuk mengandung anak dari adik atau kakaknya.

Editors' Picks

3. Syarat menjadi ibu pengganti atau surrogate mother

3. Syarat menjadi ibu pengganti atau surrogate mother
Freepik

Sama seperti saat merencanakan kehamilan sehat, menjadi seorang ibu pengganti juga butuh persiapan. Beberapa syarat yang perlu dipenuhi adalah:

  • berusia 21-37 tahun,
  • tidak merokok atau menggunakan obat-obatan terlarang,
  • minimal telah menjalani satu kali kehamilan sehat dan mempunyai satu anak kandung,
  • tidak punya riwayat komplikasi kehamilan dan melahirkan,
  • memiliki berat badan normal, tidak underweight atau overweight,
  • sudah melalui pemeriksaan intensif dokter kandungan,
  • suami harus menyetujui prosedur kehamilan pengganti ini.

4. Siapa saja yang membutuhkan ibu pengganti?

4. Siapa saja membutuhkan ibu pengganti
Pexels/Rosie Ann

Ada banyak alasan mengapa orangtua kandung justru menginginkan ibu pengganti untuk mengandung buah hati mereka.

Beberapa alasan yang bisa saja terjadi antara lain:

  • perempuan yang telah menjalani prosedur pengangkatan rahim karena alasan medis,
  • kondisi medis tertentu yang bisa membahayakan mama dan bayi jika perempuan itu mengandung,
  • kehamilan atau melahirkan sebelumnya mengalami komplikasi dan membahayakan keselamatan mama dan bayi,
  • kegagalan proses implantasi IVF berulang,
  • keguguran berulang yang tidak bisa tertangani.

5. Prosedur ini tidak diizinkan di Indonesia

5. Prosedur ini tidak diizinkan Indonesia
Pexels/Pixabay

Undang-Undang No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pada pasal 27 menyebutkan, upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya boleh dilakukan pasangan suami istri sah.

Hasil pembuahan sperma dan sel telur dari suami istri bersangkutan hanya boleh ditanamkan pada rahim sang istri dengan prosedur yang dilakukan tenaga medis dan fasilitas memadai. Inilah yang kita kenal dengan proses bayi tabung.

Terlepas dari kontroversi surrogate mother, tentu Mama tahu bahwa kehamilan adalah pengalaman kompleks. Ada banyak faktor fisik, psikis, dan emosional yang terlibat di dalamnya.

Apalagi, anak yang telah dikandung akan diserahkan kepada orang tuanya. Seorang ibu pengganti pasti tetap merasakan “kehilangan” karena tidak bisa mengasuh sendiri anak tersebut.

Maka, seorang perempuan perlu memikirkan masak-masak sebelum mengambil keputusan menjadi ibu pengganti bagi anak orang lain, termasuk calon anak dari saudara kandung atau kerabat sekalipun.

Demikian 5 fakta mengenai surrogate mother yang perlu Mama tahu. Semoga informasi ini bermanfaat, Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.