Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Apakah Sel Telur Perempuan Bisa Habis
Popmama.com/Antonia Rucita Nurak/AI

Intinya sih...

  • Sel telur terbentuk sejak dalam kandungan, jumlahnya berkurang seiring waktu

  • Sel telur yang dimiliki perempuan selama masa pubertas mengalami penurunan secara alami

  • Kualitas sel telur menurun seiring bertambahnya usia dan memengaruhi peluang kehamilan di masa depan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sel telur merupakan salah satu faktor utama yang menentukan kesuburan perempuan. Sejak lahir, perempuan sudah memiliki 1-2 juta sel  telur, namun, sel telur yang tersisa semakin berkurang dari waktu ke waktu.

Berbeda dengan sperma pada laki-laki yang terus diproduksi secara rutin, sel telur perempuan hanya dibentuk sekali sepanjang hidup. Proses ini akan terus berlangsung hingga masa menopause.

Memasuki usia 35 tahun, kualitas sel telur juga cenderung mengalami penurunan. Selain itu, perlu dipahami bahwa memiliki banyak sel telur tidak selalu berarti bahwa kualitasnya baik dan dalam kondisi yang optimal untuk kehamilan.

Karena penurunan jumlah sel telur ini, tak sedikit perempuan yang masih bertanya-tanya tentang ketersediaan sel telur dalam tubuh mereka, serta sejauh mana hal tersebut dapat memengaruhi peluang kehamilan di masa depan.

Lalu apakah sel telur perempuan bisa habis? Berikut Popmama.com sudah merangkum informasinya.

1. Sel telur terbentuk sejak dalam kandungan

Freepik.com

Dilansir dari Healthline, memasuki usia kehamilan 20 minggu, janin perempuan memiliki sekitar 6-7 juta sel telur. Jumlah sel telur ini kemudian akan terus berkurang seiring perkembangan janin.

Saat lahir jumlah sel telur akan kembali berkurang hingga tersisa sekitar 1-2 juta sel telur. Artinya, bayi perempuan sudah terlahir dengan jumlah sel telur yang akan dimilikinya seumur hidup.

Setelah lahir, tubuh tidak lagi memproduksi sel telur baru, dan jumlahnya akan terus menurun seiring bertambahnya usia hingga memasuki masa menopause. Hal ini  juga dijelaskan oleh Meredith Wallis, seperti dikutip dari Medical News Today, bahwa tidak seperti sel tubuh lainnya, sel telur tidak dapat beregenerasi.

Meski ada beberapa penelitian yang menyebut kemungkinan terbentuknya sel telur baru, teori tersebut masih belum terbukti kuat secara ilmiah, ya, Ma.

2. Sel telur yang dimiliki perempuan selama masa pubertas

Freepik.com

Kembali melansir dari Healthline, saat memasuki pubertas, seorang anak perempuan umumnya memiliki sekitar 300.000 hingga 400.000 sel telur.

Jumlah ini sudah jauh berkurang dibandingkan saat lahir, karena sebagian sel telur akan mati secara alami. Bahkan, sebelum pubertas, sekitar 10.000 sel telur dapat berkurang setiap bulannya.

Memasuki pubertas, tubuh perempuan hanya menggunakan satu sel telur setiap bulan sebagai peluang terjadinya kehamilan. Sel telur ini akan berkembang menjadi folikel dominan, sementara sel telur lainnya akan mati secara alami melalui proses yang disebut atresia.

Karena proses inilah, setelah seorang perempuan mengalami menstruasi, tubuhnya bisa kehilangan sekitar 1.000 sel telur yang belum matang setiap bulannya.

3. Berapa banyak sel telur yang dimiliki seorang perempuan setelah pubertas?

Freepik.com

Setelah masa pubertas, jumlah sel telur yang hilang setiap bulan memang cenderung berkurang. Namun, sejak siklus menstruasi dimulai, tubuh perempuan kehilangan sekitar 1.000 sel telur yang belum matang setiap bulannya, atau setara dengan 30–35 sel telur per hari.

Hingga kini, para ahli belum mengetahui secara pasti penyebab utama berkurangnya sel telur tersebut. Menariknya, proses ini umumnya tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti hormon, penggunaan kontrasepsi, kehamilan, konsumsi suplemen, kondisi kesehatan, maupun pola makan.

Meski begitu, dalam beberapa kondisi tertentu, seperti kebiasaan merokok, menjalani kemoterapi, atau terapi radiasi, penurunan jumlah sel telur bisa terjadi lebih cepat.

4. Sel telur yang dimiliki perempuan saat memasuki usia dewasa

Freepik.com/ marymarkevich

Melansir dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), memasuki usia awal 30-an, tingkat kesuburan perempuan mulai mengalami penurunan secara bertahap.

Kondisi ini akan semakin terasa ketika memasuki usia pertengahan 30-an, karena jumlah dan kualitas sel telur terus berkurang seiring waktu. Menurut para ahli, proses ini merupakan bagian alami dari perubahan biologis tubuh perempuan.

Bahkan, berdasarkan sejumlah penelitian, saat seorang perempuan menginjak usia 40 tahun, cadangan sel telur yang tersisa umumnya kurang dari 10 persen dibandingkan jumlah yang dimiliki sejak lahir.

5. Mengapa kualitas sel telur menurun seiring bertambahnya usia?

Freepik.com/8photo

Selama ini, banyak perempuan lebih fokus pada jumlah sel telur yang dimiliki. Padahal, kualitas sel telur juga tak kalah penting dalam menentukan peluang kehamilan.

Seiring bertambahnya usia, kualitas sel telur akan ikut menurun secara alami. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), sel telur yang semakin “tua” lebih rentan mengalami kesalahan saat membelah menjelang ovulasi. Kondisi ini membuat risiko terbentuknya kromosom yang tidak normal menjadi lebih tinggi.

Tak hanya itu, menurunnya kualitas sel telur juga berdampak pada kondisi materi genetik di dalamnya. Materi genetik yang lebih mudah rusak dan sulit diperbaiki dapat meningkatkan risiko gangguan genetik pada embrio saat terjadi pembuahan.

6. Apa yang terjadi pada sel telur menjelang menopause?

Popmama.com/Antonia Rucita Nurak/AI

Saat jumlah sel telur yang masih sehat semakin menipis, ovarium akan mulai mengurangi produksi hormon estrogen. Kondisi ini menjadi salah satu tanda bahwa tubuh perempuan sedang memasuki fase menopause.

Waktu terjadinya menopause pun bisa berbeda-beda pada setiap perempuan, tergantung pada jumlah sel telur yang dimiliki sejak lahir dan seberapa cepat jumlahnya berkurang seiring bertambahnya usia.

Perempuan yang terlahir dengan jumlah sel telur lebih banyak biasanya memiliki peluang lebih besar untuk hamil secara alami hingga usia pertengahan, bahkan mendekati akhir 40-an. Namun, ada juga perempuan yang mengalami penurunan jumlah sel telur lebih cepat, bahkan sejak usia 30-an. Hal ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor tertentu, sehingga berisiko menimbulkan masalah kesuburan, menopause dini, atau gangguan fungsi ovarium.

Nah, Ma, itulah informasi mengenai sel telur perempuan yang bisa habis seiring bertambahnya waktu. Namun, perlu diingat ya, jumlah sel telur tidak dapat menentukan keseburan seorang perempuan namun kualitaslah yang menentukan.

Editorial Team