Apa Faktor yang Membuat Perempuan Tidak bisa Melakukan IVF?

Selama masih punya sel telur, maka masih bisa IVF

23 Agustus 2021

Apa Faktor Membuat Perempuan Tidak bisa Melakukan IVF
Freepik/valeria_aksakova

Hampir setiap perempuan punya keinginan untuk memiliki anak. Namun beberapa kondisi tidak memungkinkan untuk punya anak, meskipun melalui cara IVF. 

Saat tidak bisa hamil secara alami, biasanya pasangan akan memilih opsi promil. Sebelum menuju IVF, biasanya akan dilakukan terapi kesuburan dan inseminasi. 

Ketika kesemuanya itu tidak bisa dilakukan, maka sudah waktunya harus menyerah untuk bisa mengalami kehamilan.

Namun sebenarnya, apa saja penyebab seseorang tidak bisa melakukan IVF? Popmama.com akan merangkumkannya untuk Mama. 

1. Ketika tidak memiliki sel telur lagi

1. Ketika tidak memiliki sel telur lagi
Ket. dr. Reino

Setiap perempuan memproduksi sel telur sekali seumur hidup, itupun saat ia masih menjadi janin. 

Dilansir dari Cleveland Clinic, setiap perempuan biasanya memiliki 6-7 juta sel telur dan tersisa sekitar 1 juta telur saat ia lahir. Setelah mencapai usia pubertas, sel telur tersisa sekitar 300.000.

Seiring bertambahnya umur, sel telur semakin menurun dan ketika mencapai menopause maka sel telur perempuan sudah habis. 

Inilah yang menjadi salah satu penyebab kenapa seseorang tidak bisa mengikuti prosedur IVF. Hal ini diungkapkan juga oleh dr Reino Rambey, SpOG, salah satu Dokter Obgyn di Morula IVF Jakarta.

"Ketika tidak punya sel telur lagi," tuturnya saat ditanyakan apa penyebab seseorang tidak bisa melakukan IVF. 

Editors' Pick

2. Kondisi yang membuat seseorang kehabisan sel telur

2. Kondisi membuat seseorang kehabisan sel telur
Freepik/jcomp

Menurut medlineplus.gov, ada beberapa kondisi yang membuat seorang perempuan kehilangan atau kehabisan sel telur meski ia belum sampai umur 40 tahun. 

Kondisi telur habis atau sel telur tidak berfungsi dengan semestinya disebut primary ovarian insufficiency (POI). Menurut penelitian, POI berhubungan erat dengan masalah yang ada pada folikel. Beberapa masalahnya antara lain karena genetik, folikel yang sedikit, penyakit autoimun, kemoterapi, masalah metabolisme, dan kebiasaan buruk seperti merokok. 

Jika mengalami hal ini, kemungkinan besar tidak bisa ada telur yang matang dan otomatis tidak bisa melakukan IVF. 

3. Jika rahimnya harus diangkat

3. Jika rahim harus diangkat
Pexels/cliffbooth

"Atau rahimnya diangkat," ujar dr Reino. 

Satu kondisi lagi yang tidak memungkinkan seseorang melakukan IVF adalah saat rahimnya diangkat. Di mana, kehamilan bisa terjadi jika ada rahim yang sehat untuk ditinggali oleh embrio. 

Saat rahim harus diangkat, berarti tidak ada tempat untuk embrio berkembang menjadi janin dan lahir menjadi anak. Mau tak mau, harus menyerahkan mimpi memiliki anak. 

4. Penyebab rahim harus diangkat

4. Penyebab rahim harus diangkat
Freepik/valuavitaly

Salah satu keunikan dan anugerah yang hanya dimiliki perempuan adalah kepemilikan rahim. Namun ada beberapa keadaan yang membuat seorang perempuan harus melakukan pengangkatan rahim. 

Menurut dr Reino, beberapa penyebab perempuan harus melakukan pengangkatan rahim diantaranya adalah perempuan mengalami kanker leher rahim, kanker endometrium, kanker indung telur, serta kerusakan organ reproduksi yang sangat berat.

Pada dasarnya, setiap perempuan punya kesempatan hamil selama tidak memiliki dua kondisi di atas. 

"Jadi, selama perempuan masih punya benih, dalam hal ini masih menstruasi, biasanya kesempatan hamilnya masih ada," tutur dr Reino. 

Namun dr Reino menambahkan, bahwa kualitas sel telur juga menentukan dalam keberhasilan kehamilan. 

"Meski kualitas sel telur sangat ditentukan oleh faktor umur. Semakin berumur maka kualitas sel telurnya semakin menurun," tutupnya. 

Jadi, masih ada kesempatan ya, Ma. 

Baca juga:

The Latest