Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Fakta di balik menurunnya kualitas dan kuantitas sel telur
Freepik.com

Intinya sih...

  • Perempuan terlahir dengan 1-2 juta sel telur dan mengalami penurunan seiring bertambahnya usia, mulai dari sebelum pubertas hingga usia 30-an.

  • Jumlah sel telur tidak menentukan kesuburan, kualitasnya cenderung menurun seiring bertambahnya usia perempuan.

  • Kualitas dan jumlah sel telur dipengaruhi oleh usia, gaya hidup, stres, paparan racun, gangguan medis, IMT, dan kualitas tidur.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menurunnya kualitas dan kuantitas sel telur adalah salah satu faktor utama yang memengaruhi kesuburan perempuan seiring bertambahnya usia. Kesuburan perempuan cenderung mulai menurun saat memasuki usia pertengahan hingga akhir 30-an.

Meski begitu, setiap perempuan memiliki tingkat kesuburan yang berbeda ya, Ma,  ada yang mengalami penurunan kesuburan lebih cepat, sementara sebagian lainnya mungkin masih memiliki peluang hamil lebih lama tergantung  dari kualitas sel telur yang dihasilkan.

Oleh karena itu, penting bagi Mama untuk memahami kondisi sel telur dan memerhatikan kesehatannya lebih dini, terutama saat merencanakan kehamilan, agar program hamil dapat berjalan lebih optimal.

Lantas,  apa saja fakta mengenai kualitas dan kuantitas sel telur yang menurun, berikut Popmama.com, sudah merangkum informasinya.

1. Secara kuantitas perempuan terlahir dengan 1-2 juta sel telur dan terus mengalami penurunan

Freepik.com

Saat janin perempuan berkembang di dalam kandungan, tubuhnya sudah memiliki sekitar 6 hingga 7 juta sel telur. Melansir dari RMA New York, sel telur tersebut belum matang dan dikenal sebagai oosit. Oosit ini tersimpan di dalam folikel, yakni kantong berisi cairan di ovarium yang menjaga sel telur tetap berkembang hingga siap matang.

Ketika lahir, setiap perempuan sudah memiliki sekitar 1-2 juta sel telur yang akan dimilikinya sepanjang hidup dan tidak ada sel telur baru yang diproduksi selama masa hidup seorang perempuan. 

Jumlah ini akan terus berkurang secara bertahap, mulai dari sebelum memasuki masa pubertas, sel telur akan berkurang sekitar 10.000 sel telur setiap bulannya. Memasuki masa pubertas, jumlah sel telur yang tersisa berkisar antara 300.000 hingga 400.000, dengan penurunan bulanan melambat menjadi sekitar 1.000 sel telur selama masa menstruasi.

2. Jumlah sel telur yang banyak tidak dapat menjadi penentu kesuburan

Freepik.com

Banyak yang mengira bahwa kuantitas atau jumlah sel telur yang banyak menjadi penentu kesuburan dan memiliki peluang kehamilan yang besar. Namun, jumlah sel telur banyak tidak dapat menjamin kesuburan seorang perempuan, Ma.

Menurut ahli dari Harvard Medical School, kualitas telur cenderung menurun seiring bertambahnya usia, sehingga meskipun jumlahnya banyak, tetapi kualitasnya kurang baik, peluang untuk hamil tetap menurun.

3. Kualitas dan kuantitas sel telur dipengaruhi oleh usia

Freepik.com

Seiring bertambahnya usia, kualitas dan jumlah sel telur perempuan menurun secara alami. Melansir dari Ayaansh Hospital, proses ini biasanya mulai terasa sekitar usia 36 tahun dan dapat berlangsung cukup cepat. Bagi Mama yang sedang merencanakan kehamilan atau menjalani program hamil, memahami hal ini sangat penting agar peluang berhasil lebih optimal.

Data menunjukkan bahwa perempuan berusia di atas 35 tahun bisa mengalami penurunan kualitas sel telur hingga sekitar 40% akibat proses penuaan alami. Mengetahui fakta ini membantu Mama lebih sadar waktu dan strategi dalam merencanakan kehamilan dengan lebih bijak.

4. Faktor lainnya yang memengaruhi kualitas sel telur

Freepik.com

Dilansir dari Ayaansh Hospital, selain faktor usia, kualitas sel telur juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya seperti:

  • Gaya Hidup dan Nutrisi

Apa yang Bunda konsumsi sehari-hari berperan besar pada kesuburan, jadi pilih makanan kaya antioksidan, asam folat, dan omega-3, sambil mengurangi alkohol, rokok, dan makanan olahan.

  • Stres dan Kesehatan Mental

Stres yang berkepanjangan dapat mengganggu hormon reproduksi, sehingga penting menjaga kesehatan mental agar ovulasi tetap teratur dan konsultasi dengan profesional bisa sangat membantu.

  • Paparan Racun dan Polutan

Hindari paparan bahan kimia berbahaya seperti BPA, pestisida, atau logam berat, serta pilih produk ramah lingkungan dan makanan organik untuk melindungi sel telur sejak dini.

  • Gangguan Medis Tertentu

Kondisi seperti PCOS, endometriosis, atau gangguan tiroid dapat memengaruhi kualitas telur, sehingga deteksi dan pengelolaan sejak awal dengan dokter sangat dianjurkan.

  • Indeks Massa Tubuh (IMT)

Mempertahankan IMT ideal melalui pola makan seimbang dan olahraga rutin penting agar hormon tetap seimbang dan ovulasi berjalan lancar.

  • Jaga kualitas Tidur

Tidur cukup dan berkualitas, sekitar 7–8 jam per malam, membantu menjaga keseimbangan hormon reproduksi dan mendukung proses ovulasi secara optimal.

5. Kualitas sel telur tidak dapat diukur

Freepik.com

Saat ini, para ahli menjelaskan bahwa belum ada metode yang dapat menguji kualitas sel telur secara langsung, karena setiap tes yang tersedia hanya memberi gambaran jumlah atau cadangan telur, bukan kualitas sel telur itu sendiri.

Tidak seperti jumlah sel telur yang bisa diperkirakan melalui pemeriksaan hormon seperti AMH atau USG untuk menghitung folikel, belum ada tes darah atau tes sejenisnya yang dapat mengevaluasi apakah sel telur akan menghasilkan embrio yang sehat secara genetik, sehingga kualitasnya lebih sulit dipastikan.

Dilansir dari RMA New York, meskipun teknologi medis terus berkembang, tidak ada cara yang akurat untuk menilai kualitas telur secara langsung tanpa melalui proses fertilisasi dan evaluasi embrio yang dihasilkan melalui program IFV.

Itulah fakta mengenai menurunnya kualitas dan kuantitas sel telur yang dapat memegaruhi kesuburan, Ma. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Editorial Team