Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
8 Hal dari Perjuangan IVF Rifky dan Yulia setelah 9 Tahun Menanti
Popmama.com/NasywaQurrotuAini
  • Setelah sembilan tahun menanti dan menghadapi berbagai tantangan medis, Rifky Alhabsyi dan Yulia Rahmayani akhirnya dikaruniai anak pertama melalui program bayi tabung di Smart Fertility Clinic.
  • Proses IVF mereka penuh perjuangan, dari kesiapan mental hingga hasil satu embrio yang bertahan, menunjukkan pentingnya dukungan pasangan serta sikap positif selama perjalanan kehamilan.
  • Dengan pendampingan dokter dan tenaga medis yang intens, kisah Rifky dan Yulia menjadi inspirasi bagi pasangan lain untuk tetap berusaha dan tidak menyerah dalam meraih impian memiliki buah hati.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menanti kehadiran si Kecil terkadang membutuhkan perjuangan panjang, Ma. Hal inilah yang dirasakan pasangan Rifky Alhabsyi dan Yulia Rahmayani yang akhirnya berhasil menyambut anak pertama mereka setelah sembilan tahun penantian melalui program bayi tabung atau IVF (in vitro fertilization).

Kisah perjuangan tersebut dibagikan Rifky dan Yulia dalam konferensi pers di Primaya Evasari Hospital, Jakarta, Senin (18/5/2026). Dalam acara itu, hadir pula sejumlah dokter yang mendampingi perjalanan program kehamilan dan persalinan mereka, yakni dr. Laura Leandra Setiawan selaku CEO Smart Fertility Clinic, dr. Darma Syanty, dr. Desy Dewi Saraswati, serta dr. Wily Kurniady.

Setelah melewati berbagai tantangan infertilitas, mulai dari kehamilan ektopik hingga operasi pengangkatan kedua tuba falopi, Rifky dan Yulia akhirnya berhasil menyambut putra pertama mereka, Muhammad Rafasya Zayyan Alhabsyi, melalui program IVF bersama Smart Fertility Clinic dan proses persalinan di Primaya Evasari Hospital.

Bukan hanya cerita haru, perjalanan mereka juga menyimpan banyak pelajaran untuk pasangan pejuang garis dua yang masih terus berusaha.

Berikut Popmama.com rangkum 8 pelajaran dari perjuangan IVF Rifky dan Yulia setelah 9 tahun menanti anak.

1. Perjalanan memiliki anak tidak selalu mudah

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Bagi Rifky dan Yulia, perjalanan menjadi orangtua dimulai jauh sebelum program IVF dilakukan. Selama sembilan tahun pernikahan, keduanya menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kehamilan di luar kandungan hingga operasi saluran reproduksi.

Rifky mengungkapkan bahwa mereka pernah berada di titik lelah dan hampir menyerah.

“Kita sudah jatuh bangun melewati prosesnya. Pernah berpikir, yaudah lah, kalau memang nggak dikasih ya mungkin memang jalannya. Tapi lagi-lagi kita minta sama Allah, kita berdoa, kita tetap berusaha,” ujar Rifky.

Ia mengatakan bahwa selama bertahun-tahun mereka sudah mendatangi banyak dokter dan rumah sakit demi mencari jalan terbaik.

“Kalau dihitung-hitung, kita sudah ketemu dengan 7–8 dokter, satu profesor, dan tiga rumah sakit berbeda,” tambahnya.

2. Tidak semua pasangan bisa hamil secara alami

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Dalam kasus Yulia, kehamilan alami bukan lagi pilihan medis yang memungkinkan.

Menurut dr. Darma Syanty, Yulia mengalami kerusakan pada kedua tuba falopi sehingga harus menjalani salpingektomi atau pengangkatan tuba.

“Kalau tubanya dipotong dua-dua, tentu tidak bisa lagi terjadi pembuahan secara alami,” jelas dr. Darma.

Ia menerangkan bahwa pada kondisi tertentu seperti gangguan tuba, IVF memang menjadi opsi terbaik karena proses pembuahan dilakukan di luar tubuh sebelum embrio dipindahkan ke rahim.

Namun, dr. Darma menegaskan bahwa IVF tidak selalu menjadi “jalan terakhir” bagi semua pasangan.

“Tidak semua orang infertil harus IVF. Tergantung penyebabnya. Ada yang masih bisa program alami, stimulasi, atau inseminasi,” jelasnya.

3. Menjalani IVF ternyata juga butuh kesiapan mental

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Meski sudah disarankan menjalani IVF sejak 2022, Yulia mengaku belum siap secara mental.

Rasa takut gagal membuat keduanya memutuskan mengambil waktu untuk menguatkan diri terlebih dahulu sebelum akhirnya mantap memulai program di 2025.

“Aku belum siap mental, takut gagal. Jadi kita jalan-jalan dulu, nikmatin dulu, berdoa dulu. Butuh waktu dua tahun buat menguatkan diri,” kata Yulia.

Bagi pasangan ini, kesiapan mental ternyata sama pentingnya dengan kesiapan medis.

“Manusia cuma bisa berusaha, selebihnya kita berserah. Tapi jangan pernah menyerah,” tambah Rifky.

4. Dari 16 embrio, hanya satu yang bertahan

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Salah satu momen paling emosional selama program IVF adalah ketika hasil embrio mulai terlihat.

Meski Yulia memiliki cukup banyak sel telur, perjalanan pembentukan embrio tidak berjalan mudah. Dari total 16 embrio awal, hanya satu yang akhirnya bertahan.

“Harapan kami cuma satu. Kalau itu gagal, kami harus mengulang lagi dari awal,” ungkap Rifky.

dr. Darma menjelaskan bahwa jumlah sel telur yang banyak tidak selalu menjamin keberhasilan pembentukan embrio.

“Tidak selalu jumlah yang banyak akan menghasilkan embrio yang bagus. Banyak faktor yang memengaruhi,” jelasnya.

Meski demikian, satu embrio tersebut akhirnya berkembang baik hingga berhasil menjadi kehamilan yang sehat.

5. Dukungan pasangan jadi hal yang sangat penting

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Selama proses panjang tersebut, Rifky dan Yulia mengaku saling menguatkan satu sama lain.

Bahkan di masa kehamilan, Rifky ikut beradaptasi dengan perubahan yang dialami istrinya, termasuk ketika Yulia tidak tahan mencium aroma parfum.

“Saya sampai nggak pernah pakai parfum lagi karena Yulia nggak bisa cium bau parfum,” cerita Rifky sambil tertawa.

Menurut Yulia, penting bagi pasangan untuk menikmati proses bersama dan tidak terlalu tertekan.

“Kita coba enjoy aja, jalan-jalan dulu, nikmatin dulu, jangan terlalu kepikiran,” ujarnya.

6. Sikap positif disebut bisa membantu perjalanan IVF

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Selain kondisi medis, kesiapan emosional pasien ternyata juga menjadi perhatian tim dokter.

dr. Darma menyebut bahwa positive vibes atau sikap positif pasien dapat memengaruhi perjalanan IVF.

“Sikap positif pasien itu sangat memengaruhi. Kesiapan psikis dalam menghadapi hasil program juga menentukan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa tidak ada klinik IVF di dunia yang dapat menjamin keberhasilan 100 persen.

“Kemungkinan keberhasilan rata-rata sekitar 20–40 persen,” kata dr. Darma.

Karena itu, pasien juga perlu siap dengan berbagai kemungkinan selama proses berlangsung.

7. Dukungan tenaga medis membuat pasangan merasa lebih tenang

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Rifky mengaku salah satu hal yang membuat mereka nyaman adalah pendampingan intens dari dokter dan tenaga kesehatan selama proses IVF hingga persalinan.

“Kami merasa benar-benar didampingi sejak awal program kehamilan sampai persalinan,” kata Rifky.

Menurutnya, komunikasi yang hangat dari dokter, perawat, hingga staf rumah sakit membuat perjalanan panjang terasa lebih ringan.

“Feels rumah sakit ini homey banget, nyaman, nggak crowded,” ujarnya.

Sementara itu, pihak Smart Fertility Clinic menyebut pendekatan one-stop solution menjadi salah satu fokus layanan mereka, mulai dari screening, program hamil alami, inseminasi, hingga IVF.

8. Kisah mereka diharapkan bisa jadi semangat bagi pejuang garis dua

Popmama.com/NasywaQurrotuAini

Kini, Rifky dan Yulia akhirnya menyambut kelahiran putra pertama mereka, Muhammad Rafasya Zayyan Alhabsyi, yang lahir pada Jumat pukul 08.05 pagi dengan berat 2,45 kg dan panjang 45 cm.

Bagi Rifky, perjalanan mereka diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa setiap pasangan memiliki waktunya masing-masing.

“Buat teman-teman pejuang garis dua, jangan menyerah. Tetap usaha, semoga diberikan sama Allah,” tutur Rifky.

Sementara itu, tim Smart Fertility berharap kisah pasangan ini bisa memberi semangat bagi pasangan lain yang masih berjuang.

“Pasrah boleh, tapi tidak boleh menyerah,” ujar pihak Smart Fertility Clinic.

Pada akhirnya, setiap perjalanan menuju hadirnya buah hati memang berbeda-beda, Ma. Namun seperti yang dialami Rifky dan Yulia, dukungan pasangan, kesiapan mental, serta pendampingan yang tepat bisa menjadi kekuatan besar untuk terus melangkah.

Editorial Team