Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
9 Jenis Tes Keseimbangan Hormon pada Perempuan
freepik
  • Artikel menjelaskan pentingnya memahami keseimbangan hormon perempuan karena fluktuasi alami dapat memengaruhi energi, suasana hati, kesuburan, dan kesehatan jangka panjang.
  • Terdapat sembilan jenis tes hormon utama seperti estrogen, progesteron, testosteron, LH, FSH, DHEAS, SHBG, prolaktin, dan tiroid yang membantu mendeteksi gangguan reproduksi maupun metabolisme.
  • Beberapa metode pemeriksaan tersedia seperti tes serum darah, dried blood spot testing, pengumpulan urine 24 jam, dan dried urine testing untuk menyesuaikan kebutuhan pemantauan hormon secara akurat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Apakah Mama belakangan ini sering merasa lelah tanpa sebab, berat badan mendadak naik, atau siklus menstruasi jadi berantakan? Jangan buru-buru stres ya, Ma. Bisa jadi, tubuh Mama sedang memberikan sinyal bahwa ada yang tidak beres dengan sistem hormon. Sebagai perempuan, hormon memainkan peran yang sangat besar dalam mengatur suasana hati, energi, hingga kesuburan kita.

Melansir dari Dr. Ruscio, tes laboratorium satu kali terkadang belum cukup untuk memetakan masalah hormonal secara utuh. Hal ini dikarenakan kadar hormon perempuan secara alami terus berubah sepanjang siklus menstruasi, ditambah lagi standar nilai normal di setiap laboratorium bisa berbeda-beda. Oleh karena itu, memahami jenis tes yang tepat sangat penting agar Mama tidak salah langkah dalam menangani gejalanya.

Mengetahui kondisi hormon di dalam tubuh merupakan langkah awal yang sangat baik untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Biar Mama tidak bingung memilih pemeriksaan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan tubuh saat ini, berikut Popmama.com rangkum beberapa jenis tes keseimbangan hormon pada perempuan yang perlu Mama ketahui!

1. Tes estrogen

freepik

Estrogen bisa dibilang sebagai "ratu" dari hormon reproduksi perempuan. Hormon utama ini bertanggung jawab penuh dalam mengatur siklus bulanan, menjaga kesehatan tulang, melindungi jantung, hingga menjaga kelembapan area intim Mama. Jika kadarnya terlalu rendah atau tinggi, tubuh pasti akan langsung mengirimkan sinyal protes yang mengganggu kenyamanan aktivitas sehari-hari.

Pemeriksaan ini sangat direkomendasikan jika Mama sedang berjuang dengan program hamil, memiliki siklus haid yang tidak teratur, atau mulai merasakan gejala menopause seperti hot flashes (sensasi gerah mendadak) dan keringat di malam hari. Dokter juga sering menyarankan tes ini untuk mengevaluasi perdarahan tidak wajar setelah masa menopause guna memastikan tidak ada masalah medis yang lebih serius pada organ reproduksi.

Fluktuasi estrogen yang tidak stabil juga bisa memengaruhi suasana hati (mood swing) secara drastis serta memicu masalah pada ingatan atau konsentrasi. Dengan melakukan tes ini, dokter dapat mengetahui apakah keluhan yang Mama rasakan disebabkan oleh penurunan estrogen alami karena usia atau adanya gangguan klinis seperti ovarian hypofunction yang membutuhkan penanganan khusus.

2. Tes progesteron

freepik

Jika estrogen bertugas mengatur siklus, maka progesteron adalah hormon yang bertugas menyiapkan "rumah" yang nyaman bagi calon janin. Hormon ini bekerja ekstra keras untuk menebalkan dinding rahim (endometrium) agar siap menerima pembuahan, serta memegang peranan krusial dalam menjaga kekuatan dan stabilitas kehamilan, terutama di sepanjang trimester awal.

Mama yang sedang merencanakan kehamilan atau pernah mengalami riwayat keguguran berulang sangat disarankan untuk mengambil tes ini demi memantau kesiapan rahim. Selain itu, tes progesteron juga efektif untuk mendeteksi gangguan fase luteal, memastikan apakah ovarium melepaskan sel telur secara normal (ovulasi), serta mengantisipasi komplikasi kehamilan berbahaya seperti kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan).

Kadar progesteron yang terlalu rendah di luar masa kehamilan juga sering kali menjadi penyebab utama mengapa Mama mengalami sindrom pra-menstruasi (PMS) yang sangat parah atau perdarahan haid yang terlalu banyak (menoragia). Melalui pemeriksaan darah ini, dokter bisa memberikan terapi progesteron tambahan yang tepat untuk menyeimbangkan siklus dan meminimalkan risiko keguguran di masa depan.

3. Tes testosteron

freepik

Meskipun sering dikenal sebagai hormon laki-laki, tubuh perempuan tetap memproduksi testosteron dalam jumlah kecil melalui ovarium dan kelenjar adrenal, lho. Kehadirannya dalam kadar yang seimbang sangat krusial untuk menjaga gairah seksual (libido), memberikan dorongan energi, menjaga massa otot dan kepadatan tulang, serta menjaga stabilitas suasana hati Mama sehari-hari.

Tes ini wajib dipertimbangkan jika Mama mencurigai adanya gejala PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome), yang biasanya ditandai dengan munculnya jerawat parah yang meradang, berat badan yang sulit turun, hingga hirsutisme atau tumbuhnya bulu halus berlebih di area wajah, dada, atau perut. Sebaliknya, kadar testosteron yang terlalu rendah juga perlu diwaspadai karena bisa membuat tubuh Mama terasa sangat lemas dan kehilangan gairah hidup.

Ketidakseimbangan testosteron pada perempuan sering kali berkaitan erat dengan masalah resistensi insulin, di mana tubuh kesulitan mengolah gula menjadi energi. Oleh sebab itu, mendeteksi kadar testosteron sejak dini bukan hanya sekadar untuk mengatasi masalah kesuburan, melainkan juga untuk melindungi Mama dari risiko gangguan metabolisme jangka panjang.

4. Luteinizing hormone (LH)

freepik

Hormon LH diproduksi oleh kelenjar kecil di otak yang bernama pituitari. Tugas utamanya sangat spesifik dan penting dalam sistem reproduksi, yaitu memberikan perintah atau stimulasi langsung kepada ovarium untuk melepaskan sel telur yang sudah matang ke dalam rahim, atau yang biasa kita sebut dengan proses ovulasi.

Bagi Mama yang sedang memantau masa subur demi menyukseskan program kehamilan, tes LH akan sangat membantu menentukan kapan waktu terbaik untuk berhubungan intim. Pemeriksaan ini juga sering digunakan oleh petugas medis untuk menganalisis penyebab haid yang datangnya tidak teratur, mencari tahu pemicu masalah ketidaksuburan, hingga mendeteksi apakah tubuh mulai bertransisi menuju masa menopause.

Kadar LH yang melonjak tinggi secara tidak normal di luar jadwal ovulasi juga bisa menjadi indikator kuat adanya gangguan fungsi ovarium atau tanda dari PCOS. Melalui tes ini, dokter dapat memetakan pola komunikasi antara otak dan organ reproduksi Mama, sehingga intervensi medis yang dilakukan bisa lebih terarah dan efektif.

5. Follicle stimulating hormone (FSH)

freepik

Bekerja erat dengan LH, hormon FSH juga diproduksi oleh kelenjar pituitari dan memiliki andil besar dalam mendukung pertumbuhan folikel (kantung sel telur) di dalam ovarium tempat sel telur berkembang hingga matang. Tidak hanya itu, FSH juga bertindak sebagai pemicu utama agar tubuh memproduksi kadar estrogen yang cukup untuk mendukung seluruh sistem reproduksi perempuan.

Tes FSH biasanya direkomendasikan ketika seorang perempuan mengalami masalah kesuburan yang sulit dipecahkan atau saat menstruasi mendadak berhenti sama sekali (amenore). Jika Mama mencurigai adanya tanda-tanda penuaan dini pada ovarium sebelum usia yang seharusnya, tes ini menjadi langkah diagnostik yang wajib dilakukan untuk memeriksa cadangan sel telur (ovarian reserve) yang tersisa.

Kadar FSH yang sangat tinggi pada perempuan usia produktif sering kali menjadi sinyal bahwa ovarium harus bekerja ekstra keras karena fungsinya mulai menurun. Hasil dari tes FSH ini nantinya akan sangat membantu dokter dalam menentukan langkah program kehamilan yang paling realistis atau memberikan terapi pengganti hormon jika diperlukan.

6. DHEA sulfate (DHEAS)

freepik

DHEAS merupakan jenis hormon androgen (hormon seks pria) yang diproduksi hampir seluruhnya oleh kelenjar adrenal, yaitu kelenjar kecil yang terletak di atas ginjal Mama. Hormon ini ibarat "bahan baku" atau fondasi dasar yang nantinya akan diolah dan diubah oleh tubuh menjadi hormon estrogen dan testosteron sesuai dengan takaran yang dibutuhkan.

Ketika produksi DHEAS melonjak terlalu tinggi, Mama mungkin akan menyadari perubahan fisik yang cukup mengganggu penampilan, seperti kulit wajah yang mendadak sangat berminyak, jerawat parah yang kebal obat, hingga kerontokan rambut dengan pola kebotakan pria (male pattern baldness). Jika gejala-gejala ini mulai mengganggu, tes DHEAS bisa membantu dokter melihat seberapa baik fungsi kelenjar adrenal Mama.

Selain memicu masalah penampilan fisik, kadar DHEAS yang tidak normal juga bisa menjadi indikasi adanya stres kronis pada tubuh, hiperplasia adrenal kongenital, atau potensi tumor kelenjar adrenal. Dengan melakukan pemeriksaan ini, dokter dapat membedakan apakah masalah hormon androgen Mama murni berasal dari ovarium atau justru berakar dari gangguan kelenjar adrenal.

7. Sex hormone binding globulin (SHBG)

freepik

SHBG sebenarnya bukanlah sebuah hormon, melainkan sejenis protein khusus yang diproduksi secara alami oleh organ hati (liver). Fungsinya mirip seperti polisi lalu lintas di dalam aliran darah, yaitu mengikat dan mengontrol jumlah hormon seks (khususnya estrogen dan testosteron) yang aktif agar tidak mengalir bebas dan berlebihan di dalam tubuh mama.

Pemeriksaan SHBG sangat membantu ketika dokter ingin mendapatkan diagnosis yang lebih akurat mengenai gejala PMOS, masalah resistensi insulin, hingga gangguan pada kelenjar tiroid. Dengan mengetahui kadar protein ini, dokter dapat menghitung jumlah "testosteron bebas" yang benar-benar aktif di tubuh Mama, sehingga evaluasi terhadap masalah kesuburan atau gangguan menstruasi bisa berjalan jauh lebih optimal.

Kadar SHBG yang terlalu rendah sering kali membuat hormon testosteron bebas melonjak tajam, meskipun total testosteron mama terlihat normal pada tes biasa. Hal inilah yang kerap mengecoh diagnosis, sehingga tes SHBG ini menjadi pelengkap medis yang sangat vital untuk melihat gambaran klinis yang lebih jujur dan mendalam.

8. Prolaktin

freepik

Secara alami, kadar hormon prolaktin akan meningkat drastis setelah Mama melahirkan demi menstimulasi kelenjar payudara untuk memproduksi air susu ibu (ASI). Namun, jika kadar hormon ini tetap tinggi atau melonjak di saat Mama sedang tidak dalam kondisi hamil ataupun menyusui, hal tersebut bisa menjadi pemicu masalah baru dalam keseimbangan tubuh.

Kadar prolaktin yang melonjak tinggi di luar masa menyusui (kondisi yang disebut hiperprolaktinemia) dapat mengacaukan sinyal ovulasi di otak, menghentikan menstruasi, dan mengganggu kesuburan Mama yang sedang ingin hamil lagi. Tes ini sangat dianjurkan jika Mama merasakan nyeri pada payudara, mengalami sakit kepala kronis tanpa sebab, atau menyadari adanya cairan bening menyerupui ASI yang keluar secara spontan dari puting.

Tingginya prolaktin secara tidak wajar juga sering kali dipicu oleh stres berat, efek samping obat-obatan tertentu, atau adanya pertumbuhan tumor jinak di kelenjar pituitari otak (prolaktinoma). Memeriksa kadar hormon ini akan membantu dokter mendeteksi akar masalah tersebut dengan cepat sebelum mengganggu sistem metabolisme tubuh lainnya.

9. Hormon tiroid

freepik/jcomp

Meskipun kelenjar tiroid terletak di leher dan tidak termasuk dalam organ reproduksi, hormon yang dihasilkannya memegang kendali penuh atas metabolisme tubuh yang berdampak langsung pada keseimbangan hormon seks. Pemeriksaan tiroid ini umumnya mencakup pemantauan kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone), Free T3, Free T4, hingga pengecekan antibodi tiroid.

Gangguan tiroid seperti hipotiroidisme (kelenjar kurang aktif yang bikin tubuh lemas dan berat badan naik) atau hipertiroidisme (kelenjar terlalu aktif yang bikin jantung berdebar dan berat badan turun drastis) bisa menjadi dalang utama di balik rusaknya siklus menstruasi Mama. Ketika hormon tiroid terganggu, sinyal komunikasi antara otak dan ovarium ikut kacau, menyebabkan sel telur gagal matang sempurna.

Memastikan kelenjar tiroid berada dalam kondisi prima adalah kunci penting untuk mendapatkan keseimbangan hormon yang menyeluruh dan memulihkan kesuburan Mama. Oleh karena itu, dokter kandungan hampir selalu menyertakan tes tiroid ini sebagai rangkaian awal pemeriksaan kesuburan maupun evaluasi gangguan menstruasi bagi perempuan.


Memilih Metode Tes yang Tepat untuk Mama:

  • Tes Serum (Darah):  Metode standar dengan mengambil sampel darah dari pembuluh vena. Sangat akurat untuk mendeteksi tanda menopause dan PCOS, serta umumnya ditanggung oleh asuransi. Namun, metode ini kurang efektif jika Mama membutuhkan cycle mapping (pemantauan hormon sepanjang bulan).

  • Dried Blood Spot Testing: Dilakukan dengan mengambil tetesan darah kecil dari ujung jari pada kertas khusus. Metode ini lebih praktis untuk memantau ovulasi secara mandiri di rumah jika Mama memiliki masalah kesuburan.

  • Pengumpulan Urine 24 Jam: Mengukur total produksi hormon selama satu hari penuh tanpa perlu jarum suntik. Cocok untuk Mama yang ingin menghindari tes darah, meski proses pengumpulan sampelnya membutuhkan ketelatenan ekstra.

  • Dried Urine Testing: Menggunakan sampel urine kecil yang dikumpulkan pada waktu-waktu tertentu. Metode modern ini sangat direkomendasikan bagi Mama yang sedang menjalani terapi hormon atau ingin melakukan cycle mapping yang mendetail guna melihat metabolisme hormon secara utuh.

Menjaga keseimbangan hormon adalah bentuk investasi terbaik untuk kebahagiaan dan kesehatan diri Mama sendiri. Jangan ragu untuk mencatat setiap perubahan yang Mama rasakan pada tubuh dan mengonsultasikannya dengan dokter kepercayaan Mama. Ingat ya, Ma, tubuh yang sehat adalah modal utama kita untuk bisa terus mendampingi dan memberikan yang terbaik bagi keluarga tercinta. Yuk, lebih peduli dengan sinyal tubuh mulai hari ini!

Editorial Team