Sulit Hamil Kembali? Mungkin Mama Menderita Infertilisas Sekunder

Sulit untuk mendapatkan anak ke dua bisa menjadi pertanda dari infertilisasi sekunder.

7 Juni 2019

Sulit Hamil Kembali Mungkin Mama Menderita Infertilisas Sekunder
Freepik/Jcomp

Setelah anak pertama lahir dan usianya dianggap sudah cukup untuk memiliki adik, banyak Mama yang segera merencanakan kehamilan ke dua. Namun sayang, beberapa diantaranya sulit untuk mendapatkan kembali momongan, dengan berbagai macam alasan.

Kesulitan untuk mendapatkan momongan ke dua atau anak kembali ini dikenal dengan sebutan infertilisasi sekunder. Menurut Dr. Anthony Luciano, ahli kandungan dari Center for Fertility and Reproductive Endocrinology, New Britain General Hospital, Connecticut, AS, sekitar 60 persen ibu yang sudah sudah pernah memiliki anak, entah baru memiliki satu atau lebih, berisiko mengalami infertilitas sekunder. Bahkan, pasangan yang  tidak memiliki gangguan pada organ reproduksinnya pun, tetap memiliki risiko untuk mengalammi  infertilitas sekunder.

Lalu kira-kira, apa penyebab dari infertilisasi sekunder? Mama penasaran? Simak rangkuman dari Popmama.com berikut ini yuk Ma!

Penyebabnya infertilisasi sekunder

Penyebab infertilisasi sekunder
creativaimages.com

Dilansir dari Parents, Jamie Grifo, MD, Ph.D., direktur program dari the New York University Fertility Center, New York, mengungkap bahwa tidak diketahu pasti apa yang menyebabkan sebagian besar kasus infertilisasi sekunder. Namun menurutnya, pertambahan usia turut berkontribusi.

Menurut Jamie, kesuburan seorang perempuan berada pada puncaknya saat menginjak usia 25 tahun. Lalu terjadi penurunan ketika usia sudah memasuki 30 hingga 40 tahun. Pada usia tersebut, peluang hamil bisa menurun sebanyak 50 persen.

Selain hal tersebut hal lain yang juga bisa menyebabkan infertilisasi yaitu:

  • Dilansir dari Mayo Clinic, adanya gangguan produksi sperma bisa menjadi penyebabnya. Begitupun dengan penurunan kualitas sel telur pada perempuan yang dipengaruhi oleh pertambahan usia.
  • Menderita fibroid dan endometriosis, kondisi keduanya dapat menyebabkan infertilitas.
  • Penambahan berat badan, atau obesitas.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu yang memengaruhi kesuburan.
  • Komplikasi yang berkaitan dengan kehamilan atau tindak pembedahan sebelumnya.
  • Kurangnya waktu untuk melakukan hubungan intim baik karena kesibukan pekerjaan atau kesibukan mengurus anak
  • Ketidakmampuan mengendalikan emosi baik kemarahan, kesedihan, ataupun keputusasaan karena tidak segera memiliki anak kembali.

Editors' Picks

Cara mengatasi infertilisasi sekunder

Cara mengatasi infertilisasi sekunder
Freepik/Tirachardz

Menurut Julie Tan, MD., seorang ginekolog di Cleveland Clinic Center for Reproductive Medicine, Ohio menyarankan Mama dan pasangan untuk segera memeriksakan diri ke dokter segera jika sudah merasa khawatir tidak segera mendapatkan kehamilan.

 Apalagi jika Mama sudah selama setahun ini tidak menggunakan kontrasepsi ataupun kondom saat sedang melakukan hubungan intim. Dengan berkonsultasi ke dokter, dokter mungkin akan membantu Mama dan pasangan merencanakan kehamilan kembali.

Adapun dilansir dari Mom Junction, ada beberapa penanganan infertilisasi sukender yang bisa dilakukan. Berikut diantaranya:

  • Obat infertilitas
    Dokter mungkin akan meresepkan beberapa obat untuk mengatasi infertilisasi. Obat-obatan oral seperti letrozole dan clomid (clomiphene citrate) mungkin akan diresepkan. Obat ini mampu membantu memicu folikel ovarium untuk melepaskan telur sehingga dapat meningkatkan peluang kehamilan.
    Atau bisa pula obat-obatan yang dapat disuntikkan, seperti hormon perangsang folikel dan hormon luteinizing, yang dapat menstimulasikan beberapa produksi telur.
  • Inseminasi intrauterus (IUI)
    Perawatan ini dilakukan dengan mengumpulkan sampel air mani (baik dari pasangan), berkonsentrasi dan kemudian menempatkannya di dalam rongga uterus pada saat ovulasi. Ini dapat membantu dalam menempatkan sperma dekat dengan tuba fallopi, di mana pembuahan terjadi.
  • Fertilisasi in vitro (IVF)
    Sel telur dan sperma disisir dalam kondisi laboratorium khusus untuk membentuk embrio, dan kemudian ditransfer ke rongga rahim. Terkadang, operasi diperlukan untuk meningkatkan kemungkinan kesuburan dan konsepsi.

Selain menerapkan cara tersebut, Mama juga disarankan untuk melakukan hubungan intim secara teratur dan nikmati hubungan intim dengan baik. Lalu jangan lupa pula untuk menerapkan pola hidup sehat dengan menjaga berat badan dan mengonsumsi makanan sehat. Jangan lupa pula untuk mengontrol emosi Mama dan pasangan dengan baik karena emosi turut memengaruhinya.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!