7 Penyebab Janin Tidak Berkembang dalam Kandungan

Perhatikan gaya hidup dan kesehatan mama selama hamil

25 September 2020

7 Penyebab Janin Tidak Berkembang dalam Kandungan
Freepik

Saat hamil, setiap calon Mama tentu menginginkan pertumbuhan sang buah hati bisa berjalan dengan normal dan berjalan sebagaimana mestinya. Namun dalam beberapa kondisi, pertumbuhan janin bisa saja tidak berkembang dengan baik.

Janin tidak berkembang alias pertumbuhan janin yang lambat dikenal juga sebagai intrauterine growth restriction (IUGR). IUGR adalah suatu kondisi yang menandakan bahwa janin tumbuh lambat dibandingkan yang seharusnya saat berada dalam kandungan.

Saat diukur secara rutin, berat badan janin akan lebih rendah daripada seharusnya, terutama jika dibandingkan dengan janin yang tumbuh normal pada periode kehamilan yang sama.

Perkembangan, pertumbuhan, dan pertambahan berat badan janin sangat penting. Jika janin tidak berkembang, maka berat badan bayi saat dilahirkan akan menjadi rendah. Nah, kondisi ini pun berisiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi.

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan janin tidak berkembang, mulai dari penyakit yang dialami Mama saat hamil maupun faktor genetik. Berikut Popmama.com berikan informasi lengkap tentang penyebab janin tidak berkembang:

1. Gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari yang buruk

1. Gaya hidup kebiasaan sehari-hari buruk
Pexels/Basil MK

Gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari mama selama hamil menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kesehatan janin. Studi bahkan menyebutkan bahwa gaya hidup dan kebiasaan saat hamil memiliki efek jangka panjang bagi kehidupan anak.

Oleh sebab itu, gaya hidup seperti memilih makanan, pola istirahat serta beberapa kebiasaan buruk lainnya seperti merokok atau minum minuman beralkohol pun perlu diperhatikan oleh ibu hamil.

Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ibu hamil termasuk seperti yang disebutkan di atas dapat memperbesar kemungkinan janin tidak berkembang dengan baik.

Selain itu, kebiasaan kurang mengonsumsi asam folat, baik dari suplemen maupun dari makanan sehari-hari juga turut memengaruhi perkembangan janin, Ma. Terutama di trimester pertama, asam folat sangat penting bagi proses tumbuh kembang janin, terutama di bagian saraf dan otak.

2. Preeklampsia

2. Preeklampsia
Freepik

Tahukah Mama alasan mengapa tekanan darah selalu diperiksa saat melakukan kontrol bulanan ke dokter? Ini untuk mengetahui apakah Mama berisiko mengalami peningkatan tekanan darah saat hamil alias preeklampsia.

Kondisi ini juga sering disebut sebagai hipertensi kehamilan.

Preeklampsia menyebabkan pembuluh darah menjadi mengerut dan mengecil, yang kemudian akan memengaruhi pertumbuhan janin karena adanya pembatasan aliran darah ke plasenta.

Janin yang sedang berkembang pun akan mendapatkan lebih sedikit oksigen dan nutrisi dari yang seharusnya, sehingga berisiko tidak berkembang dengan optimal.

Editors' Picks

3. Infeksi

3. Infeksi
Pixabay/Jaytaix

Beberapa penyakit dan infeksi yang dialami ibu hamil juga bisa menjadi penyebab janin tidak berkembang. Misalnya, jika janin terinfeksi sifilis (infeksi bakteri menular seksual), cytomegalovirus (infeksi virus yang memiliki dampak signifikan ketika kekebalan tubuh lemah selama kehamilan) dan toksoplasmosis (infeksi dengan parasit yang ditularkan terutama melalui kontak dengan hewan).

Infeksi virus maupun bakteri bisa memberikan efek yang berbahaya bagi ibu hamil. Selain membuat janin tidak berkembang dengan baik, infeksi juga bisa menimbulkan risiko keguguran, gangguan penglihatan dan pendengaran.

4. Kehamilan janin kembar

4. Kehamilan janin kembar
Freepik/Freepic.diller

Saat hamil dengan janin kembar, seringkali perkembangan janin tidak melaju dengan normal seperti seharusnya. Janin tidak berkembang saat kehamilan kembar salah satunya karena plasenta tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dan oksigen dengan optimal.

Selain itu, kehamilan janin kembar juga dua kali lebih mungkin untuk berisiko mengalami preeklampsia. Oleh sebab itu, penting bagi Mama untuk rutin melakukan konsultasi ke dokter saat mengetahui hamil janin kembar.

Sehingga, bisa diketahui lebih awal jika memang terdapat masalah atau adanya hambatan perkembangan pada janin selama hamil.

5. Plasenta tidak berfungsi optimal

5. Plasenta tidak berfungsi optimal
Freepik/Pressfoto

Saat plasenta tidak mampu melaksanakan tugasnya selama kehamilan dengan optimal, kesehatan janin yang Mama kandung bisa terancam.

Seperti diketahui plasenta memiliki fungsi penting yakni mengirimkan suplai nutrisi dan oksigen untuk janin. Apabila terjadi kelainan atau masalah pada fungsi plasenta, maka janin pun tidak bisa mendapatkan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan. Efeknya, janin tidak berkembang dengan optimal.

6. Kelainan kromosom

6. Kelainan kromosom
Freepik/Freepik

Masalah kromosom atau genetik juga turut andil dalam faktor risiko janin tidak berkembang selama kehamilan. Biasanya kondisi ini mulai terlihat pada tahap awal kehamilan, Ma. Tepatnya setelah proses pembuahan terjadi, di mana justru janin tidak dapat berkembang.

Faktor penyebab masalah genetik ini bisa berasal dari kualitas sel telur dari Mama atau kualitas sperma dari Papa. Kombinasi masalah dari kedua faktor tersebut juga bisa meningkatkan risiko janin tidak berkembang.

7. Cairan ketuban terlalu sedikit

7. Cairan ketuban terlalu sedikit
Pixabay/MedicalPrudens

Sama seperti plasenta, cairan ketuban juga memiliki peran penting bagi tumbuh kembang janin. Oleh sebab itu, saat tingkat cairan ketuban terlalu sedikit alias oligohidramnion terjadi, maka salah satu risikonya adalah janin tidak berkembang.

Oligohidramnion bisa terjadi karena berbagai alasan, mulai dari konsumsi obat tertentu, kondisi kesehatan dari Mama sendiri, atau adanya kelainan pada plasenta.

Itu dia tujuh penyebab janin tidak berkembang. Segera cek ke dokter jika Mama merasa ada yang tak biasa pada kondisi kehamilan, ya. Jangan ragu untuk berkonsultasi tentang tindakan apa yang bisa Mama lakukan agar janin kembali berada dalam fase tumbuh kembang yang normal.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.