5 Kondisi Ibu Hamil yang Dianjurkan Tidak Ikut Puasa di Bulan Ramadan

Perhatikan yang ini dulu yuk Ma, kondisi kamu termasuk salah satu diantaranya nggak?

25 Mei 2019

5 Kondisi Ibu Hamil Dianjurkan Tidak Ikut Puasa Bulan Ramadan
Unsplash/Taylor Ann Wright

Meski ibu hamil diperbolehkan untuk tidak ikut berpuasa dengan mengikuti syarat membayar fidyah, tapi masih banyak juga ibu hamil yang masih ingin mencobanya.

Puasa di bulan Ramadan memang sangat ditunggu-tunggu, momen yang datang hanya setahun sekali.

Tapi Mama tidak boleh egois, berikut ini adalah keadaan ibu hamil yang tidak dapat puasa di bulan Ramadan menurut hasil wawancara Popmama.com dengan dr. Feby SpOG.

“Pada kondisi berikut, ibu hamil tidak dapat berpuasa,” kata dr.Feby.

Orang yang Harus Membayar Fidyah

Berikut ini adalah kategori orang yang harus membayar fidyah, karena tidak bisa berpuasa:

  • Orang yang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk sembuh lagi,
  • Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi berpuasa,
  • Ibu hamil dan ibu menyusui apabila ketika puasa mengkhawatirkan janin yang ada dikandungannya, lalu ibu menyusui yang jika berpuasa dikhawatirkan bayi yang disusuinya. Mereka wajib membayar fidyah saja. Namun menurut sebagian ulama, selain wajib membayar fidyah juga wajib mengqadha’ puasanya. Sedangkan menurut pendapat lain, tidak membayar fidyah tetapi cukup mengqadha’. Mama bisa konsultasikan lagi hal ini dengan orang yang mengerti ilmu islam lebih dalam, mengingat keadaan masing-masing orang berbeda-beda.

Terkait dengan kesehatan, ini dia 5 kondisi ibu hamil yang tidak dianjurkan puasa menurut dr. Feby. Simak yuk Ma penjelasannya!

1. Hiperemesis gravidarum

1. Hiperemesis gravidarum
Unsplash/Christopher Campbell

Hipermesis gravidarum adalah kondisi mual dan muntah yang hebat biasanya lebih dari 3 kali. Terutama pada kehamilan trimester pertama, ini adalah masa mual dan muntah yang berat bagi ibu hamil.

Efek dari hipermesis gravidarum adalah mual dan lemas yang berkepanjangan. Jika kamu mengalami ini tapi tetap berpuasa, hati-hati ya Ma. Dikhawatirkan tubuh kamu bisa dehidrasi dalam waktu singkat.

2. Perdarahan

2. Perdarahan
Freepik/dashu83

Ibu hamil dengan keluhan pendarahan, baik itu karena plasenta previa atau pendarahan lainnya, biasanya kesehatannya melemah. Maka tidak disarankan untuk mengikuti puasa.

Ibu hamil dengan kondisi pendarahan biasanya harus banyak beristirahat dan mungkin mengonsumsi obat-obatan dari dokter.

Baca juga:

Editors' Picks

3. Kontraksi atau ancaman persalinan prematur

3. Kontraksi atau ancaman persalinan prematur
Unsplash/Paul Lin

Kontraksi palsu mungkin tidak masalah. Tapi ada juga ibu hamil yang mengalami kontraksi terus-menerus meski belum waktunya persalinan. Inilah yang dimaksud dengan ancaman persalinan prematur.

Jika ibu hamil, baik di kehamilan trimester kedua maupun kehamilan trimester ketiga mengalami ini maka sebaiknya segera batalkan puasanya. Makan dan minumlah dengan takaran yang cukup. Semata-mata ini dilakukan agar tidak memberi risiko pada perkembangan janin di dalam perut Mama.

4. Hamil kembar

4. Hamil kembar
Unsplash/Andrew Seaman

Orang dengan kehamilan kemabar memiliki risiko kehamilan dalam jumlah yang meningkat. Nutrisi yang dibutuhkan ibu dan janin tentu juga dobel.

Baca Juga: 5 Makanan Bernutrisi Wajib Bagi Mama di Kehamilan Trimester Kedua

Baca Juga: Nutrisi dan Manfaat Kacang Hijau untuk Kehamilan Trimester Ketiga

5. Berbagai penyakit penyerta bagi ibu hamil

5. Berbagai penyakit penyerta bagi ibu hamil
Unsplash/William Stitt

“Hipertensi, preeeklampsia, diabetes, asma, dll merupakan kondisi lain atas penilaian dokter kandungan,” kata dr. Feby.

Jika ada riwayat ibu hamil memiliki salah satu penyakit di atas maka penting untuk mengkonsultasikan ke dokter, apakah kesehatan ibu hamil dinyatakan aman jika tetap ikut berpuasa. Sebaiknya jangan memaksakan diri demi keselamatan ibu dan janin.

Baca juga: 5 Tanda Kondisi Ibu Hamil yang Aman dan Diperbolehkan untuk Berpuasa

Itulah 5 kondisi ibu hamil yang tidak dianjurkan ikut puasa di bulan Ramadan. Ibadah memang penting, sangat penting. Tapi jangan melupakan keselamatan Mama dan janin di dalam kandungan ya. Semoga sehat selalu di masa kehamilannya, Ma.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!