7 Jenis Infeksi Berbahaya yang Perlu Diwaspadai saat Hamil

Perhatikan jika ada kondisi tak biasa yang Mama alami

29 Januari 2019

7 Jenis Infeksi Berbahaya Perlu Diwaspadai saat Hamil
Freepik/Rawpixel.com

Saat hamil, penting bagi Mama untuk selalu menjaga kesehatan dan kondisi tubuh Mama. Ini supaya sistem imun tetap kuat melawan virus dan bakteri yang datang.

Jika pola hidup Mama cenderung tidak sehat, misalnya jarang olahraga, makan tidak teratur dan hobi bergadang, Mama pun jadi lebih rentan terkena infeksi dan penyakit.

Beberapa jenis infeksi bisa sangat berbahaya apabila sampai dialami ibu hamil lho, Ma. Berikut rangkuman informasi tentang infeksi berbahaya yang bisa menyerang ibu hamil:

1. Hepatitis B

1. Hepatitis B
Pexels/JESHOOTS.com

Infeksi dari virus hepatitis B dapat memengaruhi hati, sehingga menyebabkan racun menumpuk di dalam tubuh Mama. Oleh sebab itu, biasanya saat kontrol ke dokter kali pertama, Mama biasanya akan diminta tes hepatitis B.

Yang berbahaya, tubuh Mama dapat mentransfer virus hepatitis B ke bayi selama proses persalinan.

Biasanya virus ini menyebar melalui hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi tanpa perlindungan apa pun, atau bahkan melalui kontak langsung dengan darah orang yang terinfeksi.

Tes hepatitis B pun menjadi sangat penting untuk dilakukan sejak awal, Ma. Ini guna bisa terlihat apakah ada tindakan pencegahan yang harus diambil selama kelahiran dan setelahnya, untuk melindungi bayi dari penularan virus.

Gejala infeksi hepatitis B biasanya berupa nyeri di bagian perut, muntah, beberapa bagian tubuh tampak berwarna kekuningan, nyeri sendi, dan kehilangan nafsu makan.

Jika hasil tes Mama terhadap infeksi hepatitis B menunjukkan hasil negatif, maka Mama bisa berdiskusi dengan dokter mengenai pemberian imunisasi.

2. Infeksi saluran kemih

2. Infeksi saluran kemih
Freepik/Jannoon028

Infeksi saluran kemih atau ISK adalah infeksi pada saluran kemih yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri ini biasanya masuk ke dalam saluran kemih melalui kulit, anus atau dari vagina.

Infeksi dari bakteri ini kemudian dapat memengaruhi beberapa bagian tubuh. Mulai dari kandung kemih (sistitis), ginjal (pielonefritis), atau bakteriuria asimptomatik (bakteri dalam saluran kemih tanpa gejala).

Jangan anggap enteng, Ma. Pielonefritis dan bakteriuria asimptomatik dapat menyebabkan persalinan prematur dan bayi lahir dengan berat rendah.

Salah satu hal yang disebut-sebut bisa memicu infeksi saluran kemih di antaranya suka menahan buang air kecil, proses pembersihan yang kurang higienis dan kurang minum air putih.

3. Infeksi vagina

3. Infeksi vagina
Pixabay/SerKuch

Infeksi di area vagina dan sekitarnya biasanya terjadi karena peningkatan kadar hormon estrogen dan progesteron.

Selain memicu rasa gatal, infeksi vagina juga bisa menyebabkan rasa nyeri dan sensasi terbakar, terutama saat Mama buang air kecil.

Keputihan yang cukup parah dan berwarna kekuningan serta berbau juga bisa terjadi saat Mama mengalami infeksi vagina.

Kebiasaan sehari-hari menjadi salah satu faktor penting yang dapat memicu terjadinya infeksi jenis ini. Misalnya karena kondisi lembap di area vagina dan proses pembersihan area vagina yang kurang baik.

Editors' Picks

4. Cacar air

4. Cacar air
Pixabay/Estebantroncosofoto0

Apabila Mama sudah pernah terkena cacar air saat kecil, kemungkinan besar Mama tidak akan mengalami penyakit ini lagi. Namun agar lebih aman, Mama bisa melakukan cek darah untuk memeriksa apakah sudah kebal terhadap cacar air.

Terkena infeksi cacar air di trimester pertama atau kedua bisa memicu munculnya risiko sindrom varicella kongenital pada janin. Kondisi ini ditandai dengan adanya cacat fisik dan mental.

Untuk memastikan hal ini, pemeriksaan seperti ultrasonografi (USG) biasanya akan dilakukan oleh dokter.

Namun apabila Mama terkena infeksi cacar air di trimester ketiga, risiko komplikasi umumnya berkurang karena adanya perlindungan antibodi di plasenta. Tapi sebaiknya tetap lakukan pemeriksaan ke dokter ya, Ma.

Cacar air biasanya ditandai dengan flu ringan diikuti oleh munculnya ruam merah dan berair di seluruh bagian tubuh.

5. Rubella

5. Rubella
Pexels/Andreas Wohlfahrt

Rubella menjadi salah satu dari tes TORCH yakni Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes simplex yang penting diperiksa Mama sebelum hamil.

Bukan tanpa alasan, infeksi-infeksi ini bisa sangat berbahaya jika dialami Mama, terutama di trimester awal. Beberapa efeknya yakni kerusakan serius pada organ janin, seperti otak, jantung, gangguan pendengaran dan katarak.

Pada kondisi parah, hal ini bahkan juga bisa menyebabkan keguguran.

Gejala-gejala infeksi rubella termasuk flu ringan, demam, ruam merah, pembengkakkan kelenjar getah bening, mata merah dan nyeri pada sendi. Jika Mama curiga terkena infeksi rubella, segera cek ke dokter ya.

6. Cytomegalovirus

6. Cytomegalovirus
Pexels/Amber Morse

Cytomegalovirus (CMV) adalah salah satu jenis virus yang termasuk di kategori TORCH juga, Ma. Biasanya infeksi virus ini menyebar melalui kontak cairan tubuh.

Anak-anak dapat terkena infeksi CMV saat lahir dan menunjukkan tanda-tanda seperti kepala kecil yang tidak biasa, kelainan sistem saraf, limfa yang membesar dan adanya penyakit kuning.

Ada juga yang terdampak dengan gangguan penglihatan, pendengaran dan saraf yang serius.

7. Toksoplasmosis

7. Toksoplasmosis
Pixabay/Travisdmchenry

Toksoplasmosis disebabkan oleh parasit yang dikenal sebagai Toxoplasma gondii. Risiko infeksi ini dapat ditularkan dari tubuh Mama ke janin selama kehamilan.

Biasanya infeksi penyakit ini ditularkan melalui daging atau makanan yang kurang matang. Bisa juga karena terkontaminasi melalui kotoran kucing.

Pada umumnya, penyakit ini tidak dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain dengan cara lain, selain dari ibu ke anak selama proses kelahiran atau transfusi darah.

Jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan ini ya, Ma.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;