5 Mitos Tentang Olahraga saat Hamil yang Masih Dipercaya

Olahraga saat hamil baik bagi kesehatan janin, Ma

22 November 2018

5 Mitos Tentang Olahraga saat Hamil Masih Dipercaya
Pexels/Jessica Monte

Olahraga saat hamil adalah salah satu aktivitas yang baik untuk dilakukan. Selain melatih otot, rutin olahraga juga baik bagi tumbuh kembang janin.

Sayangnya, masih banyak mitos-mitos yang beredar soal efek negatif olahraga saat hamil.

Akibatnya, tak sedikit ibu hamil yang kemudian menjadi ragu untuk bisa rutin melakukan olahraga.

Nah, apa saja ya mitos yang sering dikaitkan dengan rutinitas olahraga saat hamil? Berikut rangkuman informasinya untuk Mama:

1. Olahraga bikin bayi lahir prematur

1. Olahraga bikin bayi lahir prematur
Pexels/Jeshoots.com

Sering disebutkan bahwa rutinitas olahraga dapat membuat risiko persalinan prematur menjadi lebih tinggi.

Faktanya Ma, penelitian terbaru justru membuktikan bahwa berolahraga saat hamil menurunkan risiko persalinan prematur, lho.

Yang paling penting adalah kenali dulu kekuatan dan batas kemampuan Mama untuk berolahraga. Hindari memaksakan diri melakukan olahraga yang terlalu berat.

Terlebih jika sebelum hamil Mama tidak pernah melakukan jenis olahraga tersebut, maka sebaiknya hindari dulu melakukannya saat hamil. Misalnya lari maraton atau latihan angkat beban.

Sebaliknya, pilih jenis olahraga yang tidak terlalu berat seperti yoga prenatal atau senam hamil. Asalkan rutin, olahraga apapun baik bagi kesehatan tubuh Mama.

2. Olahraga memicu berat badan lahir rendah

2. Olahraga memicu berat badan lahir rendah
Pixabay/Travisdmchenry

Selain memicu persalinan prematur, rutin olahraga juga sering disebut-sebut bisa mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan terlalu rendah.

Disebutkan bahwa melakukan latihan intensitas tinggi saat hamil dapat mengakibatkan penurunan suplai nutrisi ke janin yang sedang berkembang. Akibatnya, bayi pun jadi memiliki berat badan yang lebih kecil.

Namun demikian, penelitian terbaru justru mengungkapkan sebaliknya. Terbukti bahwa olahraga justru meningkatkan kemungkinan Mama memiliki bayi dengan berat badan normal.

Ini karena rutin olahraga dapat meningkatkan aliran darah, sehingga aliran suplai nutrisi dan oksigen untuk janin pun justru akan meningkat.

Tapi jangan lupa ya, Ma. Pilih-pilih jenis olahraga yang aman dan tidak terlalu berat untuk Mama jalani.

Editors' Picks

3. Olahraga dapat membuat janin stres

3. Olahraga dapat membuat janin stres
Pixabay/MedicalPrudens

Benarkah bahwa rutin berolahraga saat hamil dapat membuat janin dalam kandungan menjadi stres?

Penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut sama sekali tidak benar. Olahraga pada dasarnya tidak terlalu memengaruhi detak jantung janin.

Meskipun begitu, Mama tetap harus berhati-hati saat merencanakan jadwal olahraga yang berintensitas cukup tinggi. Lakukan hanya jika sebelumnya Mama sudah terbiasa melakukan jenis olahraga tersebut.

Jika perlu, mintalah instruktur pranatal untuk mendampingi Mama saat berolahraga. Dengan begitu, Mama bisa melakukan olahraga lebih tepat dan aman.

Baca juga: Tips Memilih Pakaian Olahraga yang Nyaman Saat Hamil

Baca juga: Ayo Bergerak! Ini 5 Olahraga yang Aman untuk Mama Saat Hamil

4. Olahraga di trimester pertama lebih memengaruhi janin

4. Olahraga trimester pertama lebih memengaruhi janin
Freepik/Yanalya

Terlalu banyak bergerak dan berkeringat saat hamil di trimester pertama disebut-sebut dapat mengganggu proses tumbuh kembang janin.

Namun demikian, teori ini terbantahkan. Sampai saat ini tidak ada bukti bahwa olahraga, dengan intensitas apa pun, bisa menghasilkan panas yang cukup untuk mengganggu perkembangan janin.

Mama bisa melakukan jenis latihan apapun selama trimester pertama, selama tubuh Mama sudah terbiasa melakukannya sejak awal.

Jika Mama ragu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan Mama, ya.

5. Olahraga harus dihentikan saat trimester kedua

5. Olahraga harus dihentikan saat trimester kedua
Pixabay/MedicalPrudens

Selain trimester pertama, waktu yang sering disebut-sebut bahaya untuk berolahraga adalah trimester kedua.

Pada dasarnya, olahraga tidak harus benar-benar dihentikan. Tetap aktif bergerak jauh lebih baik dilakukan, dibandingkan selama hamil Mama hanya berdiam diri.

Yang perlu diingat, setelah usia kehamilan mencapai 12 minggu, Mama harus lebih ketat mempertimbangkan jenis olahraga yang akan dilakukan.

Jauhi jenis olahraga yang dapat menempatkan Mama pada peningkatan risiko terkena benturan. Ini karena pada waktu tersebut rahim Mama kurang terlindungi oleh tulang panggul.

Jenis olahraga tersebut yakni berkuda, bersepeda, dan hoki. Para ahli juga menyarankan agar Mama tidak melakukan latihan apa pun yang mengharuskan berbaring telentang mulai usia kehamilan 16 minggu.

Pada waktu tersebut, berat bayi dapat menekan pembuluh darah utama dan menurunkan tekanan darah Mama.

Jadi, intinya rutinitas latihan yang benar akan sangat bermanfaat bagi kesejahteraan fisik dan emosional Mama saat hamil. Tapi jangan lupa untuk memeriksakan diri ke dokter untuk memilih jenis yang tepat.