4 Jenis Kontraksi yang Akan Dihadapi Saat Persalinan

Apakah kontraksi selalu menandakan bahwa waktu persalinan sudah dekat?

2 Oktober 2018

4 Jenis Kontraksi Akan Dihadapi Saat Persalinan
Pixabay/Freestocks-Photos

Kontraksi seringkali diidentikkan oleh perempuan hamil sebagai tanda semakin dekatnya proses persalinan. Padahal, kondisi ini tidak hanya dialami pada trimester akhir kehamilan saja.

Pada saat hamil, dinding rahim yang membesar seiring dengan pertumbuhan janin sangat peka terhadap gerakan dan sentuhan. Bukan hal yang mustahil apabila gerakan tiba-tiba atau benturan keras pada perut perempuan dapat menyebabkan kontraksi.

Begitu pula dengan gerakan janin yang semakin kuat seiring dengan pertumbuhannya, hal tersebut juga bisa menimbulkan kontraksi meskipun due date persalinan masih lama.

Itulah sebabnya sangat penting bagi calon Mama untuk memahami macam-macam kontraksi yang ada. Pada dasarnya setiap kontraksi menimbulkan sensasi rasa yang sama, perut yang tiba-tiba terasa kencang dari bagian tengah ke arah bawah selama beberapa detik atau menit.

Namun, tidak semua kontraksi berujung pada persalinan. Kontraksi bahkan dapat terjadi di trimester pertama kehamilan.

Seperti apa perbedaannya? Simak penjelasan Popmama.com mengenai macam-macam kontraksi berikut ini.

1. Kontraksi dini

1. Kontraksi dini
Pixabay/Mirlidera

Jenis kontraksi ini pada umumnya terjadi pada trimester awal kehamilan, dimana tubuh masih beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi. Jenis kontraksi ini disebabkan meregangnya jaringan ikat di sekitar rahim yang umumnya diiringi dengan perut kembung, sembelit dan kekurangan cairan.

Jangan khawatir, Ma, kontraksi ini normal terjadi di awal kehamilan dan tidak membahayakan janin. Namun, jika kontraksi terus menerus terjadi yang diikuti oleh beberapa tanda seperti adanya flek darah, maka Mama harus segera memeriksakan kandungannya ke dokter.

2. Kontraksi saat berhubungan seks

2. Kontraksi saat berhubungan seks
Pixabay/Sasint

Mama pasti pernah mendengar anjuran para orangtua tentang larangan berhubungan seks di awal-awal kehamilan bukan? Ya, sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya salah.

Pasalnya, pada sperma laki-laki mengandung hormon prostaglandin yang dapat menyebabkan terjadinya kontraksi yang dikhawatirkan berujung pada abortus atau keguguran.

Meski demikian, berhubungan seks tetap boleh dilakukan selama laki-laki memakai kondom dan melakukan gerakan seks secara perlahan.

Baca juga: 5 Hal yang Suami Inginkan dari Istri Saat Berhubungan Seks

Baca juga: Berapa Lama Setelah Berhubungan Seks Terjadi Kehamilan?

Baca juga: 5 Keuntungan dari Berhubungan Seks Secara Rutin

Editors' Picks

3. Kontraksi palsu

3. Kontraksi palsu
Pixabay/1041483

Kontraksi Braxton-Hicks atau lebih dikenal dengan sebutan kontraksi palsu biasanya terjadi pada minggu-minggu akhir kehamilan, yakni sekitar 32-35 minggu. Perempuan hamil seringkali terkecoh dengan kontraksi ini akibat rasa yang ditimbulkan dan durasi kontraksi palsu hampir mirip dengan kontraksi sebenarnya.

Kontraksi palsu biasanya terjadi selama 20-30 detik dengan interval waktu kontraksi yang cukup jauh, yakni 15-30 menit. Sementara jeda antar kontraksi pada kontraksi sebenarnya lebih pendek dengan durasi kontraksi yang lebih lama.

4. Kontraksi jelang persalinan

4. Kontraksi jelang persalinan
Freepik/Rawpixel.com

Jenis kontraksi inilah yang menandai waktu persalinan sudah semakin dekat. Kontraksi ini menyebabkan terbukanya jalan rahim (serviks) sebagai jalan untuk bayi keluar dari rahim Mama.

Mama dapat meyakini bahwa waktu melahirkan akan semakin dekat apabila terjadi kontraksi dengan frekuensi yang teratur. Kontraksi biasanya terjadi setiap 15 menit sekali dengan durasi kontraksi yang cukup panjang, sekitar 40 detik hingga 1 menit.

Semakin lebar serviks yang terbuka, maka interval antar kontraksi akan semakin pendek, misalnya 5 menit atau bahkan 3 menit sekali.

Kontraksi ini tentu saja menimbulkan rasa sakit yang hebat serta diiringi keluarnya lendir bercampur darah, air ketuban dan bahkan membuat perempuan hamil secara refleks mengejan seiring dengan menguatnya kontraksi.

Hal terpenting yang harus Mama lakukan ketika merasakan kontraksi di minggu-minggu akhir kehamilan adalah berusaha untuk selalu tenang dan menghitung berapa lama kontraksi berlangsung. Jika frekuensi kontraksi semakin sering, tandanya Mama siap untuk melahirkan sang buah hati.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;