Penting! Kenali Gejala dan Penyebab Hipoksia pada Janin!

Hipertensi dan anemia adalah salah satu penyebab hipoksia pada janin

10 Oktober 2020

Penting Kenali Gejala Penyebab Hipoksia Janin
Unsplash/Camylla Battani

Tahukah Mama, ternyata bukan hanya orang dewasa yang bisa mengalami hipoksia, lho. Bayi yang masih di dalam kandungan pun bisa mengalami hipoksia. Hal ini terjadi ketika suplai oksigen ke janin di dalam rahim ibu tidak mencukupi sehingga menyebabkan janin mengalami kondisi yang parah dan kemungkinan menyebabkan gawat janin. Bagaimana hipoksia janin terjadi?

Keadaan ini dapat terjadi selama persalinan atau pada trimester ketiga kehamilan, Ma. Namun sebelum membahas gejala, penyebab dan cara pengobatannya, terlebih dahulu kita harus memahami apa itu hipoksia.

Hipoksia adalah penyakit atau kondisi dimana tubuh kekurangan suplai oksigen. Ini adalah kondisi yang berbahaya karena dapat merusak otak, hati, dan organ vital lainnya.

Apa saja gejala dan penyebab hipoksia pada janin? Popmama.com akan memberikan informasinya berikut ini.

Simak bersama-sama yuk, Ma! 

Gejala Hipoksia pada Janin yang Perlu Mama Waspadai

1. Gerakan janin berkurang

1. Gerakan janin berkurang
Freepik

Saat waktu persalinan semakin dekat, pergerakan janin dapat berubah, karena janin memiliki ruang gerak yang lebih kecil di dalam rahim, namun frekuensi pergerakannya tetap sama. Pada saat yang sama, jika janin bergerak lebih jarang dari biasanya atau tidak bergerak sama sekali, bisa jadi janin tidak mendapat cukup oksigen.

Periksa gerak janin secara teratur. Hitung apakah Mama merasakan 10 tendangan dalam dua jam. Jika Mama tidak merasakan janin menendang, harap segera memeriksakan janin ke dokter ya, Ma. Jika tidak segera menyadari tanda gawat pada janin, bisa berakibat fatal.

2. Masalah pada tali pusat

2. Masalah tali pusat
Pixabay/Skitterphoto

Fungsi tali pusat adalah untuk mengirimkan nutrisi dan oksigen dari darah ibu ke janin. Jika tali pusat tertekan atau melilit bayi selama persalinan, hal ini dapat menyulitkan bayi untuk mendapatkan oksigen. Hal inilah yang bisa menyebabkan hipoksia.

Selain itu, kerusakan tali pusat juga dapat menyebabkan bayi kurang menyerap oksigen karena pengangkutan oksigen dari Mama ke janin tidak dapat dilakukan secara normal.

3. Detak jantung janin menurun

3. Detak jantung janin menurun
Freepik/dashu83

Sangatlah penting untuk memantau detak jantung janin secara rutin untuk memastikan kondisi janin dalam keadaan baik selama trimester kedua dan persalinan. Denyut jantung janin harus antara 110-160 per menit, tetapi jika lebih rendah dari 110-160 per menit, atau bahkan terus menurun, ini mungkin menunjukkan bahwa janin mama mengalami hipoksia.

Denyut jantung janin yang menurun dapat menyebabkan hal-hal yang serius bahkan kematian. Jika Mama mengalami hal tersebut segera pergi ke dokter ya Ma, biasanya dokter akan melakukan tiga hal berikut ini:

  1. Pemeriksaan USG Doppler. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mendeteksi denyut jantung janin (DJJ). DJJ normal berkisar antara 110-160. Pada kondisi gawat janin, DJJ kurang dari 120 kali per menit atau 160 kali per menit.

  2. Pemeriksaan cardiotocography (CTG).Melalui pemeriksaan ini, dapat diketahui respons DJJ terhadap pergerakan janin dan kontraksi rahim mama. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi kondisi gawat janin lebih dini dibandingkan dengan USG Doppler.

  3. Biometri janin. Pemeriksaan biometri janin diukur melalui USG. Bila hasil pemeriksaan biometri menunjukkan ukuran janin lebih kecil dari yang seharusnya, itu bisa menandakan adanya gangguan plasenta yang mendasari terjadinya gawat janin.

Editors' Picks

4. Terdapat mekonium (feses janin) dalam air ketuban

4. Terdapat mekonium (feses janin) dalam air ketuban
healthline.com

Mekonium (feses janin) dalam cairan ketuban merupakan salah satu tanda hipoksia janin. Janin yang hipoksia mengalami stres untuk mengeluarkan mekonium. Namun, hal ini juga bisa terjadi jika waktu kelahiran terlambat sehingga memengaruhi cairan ketuban, yang biasanya berwarna bening dengan bekas merah jambu, kuning, atau merah.

Namun, bila bercampur dengan mekonium, cairan ketuban bisa berubah warna menjadi coklat atau hijau. Saat mekonium kental memasuki saluran napas janin, dapat menyebabkan masalah pernapasan saat bayi lahir.

Penyebab Hipoksia pada Janin

1. Hipertensi dan anemia pada ibu hamil

1. Hipertensi anemia ibu hamil
Freepik

Ibu hamil dengan tekanan darah tinggi atau anemia dapat menurunkan suplai oksigen ke janin. Maka dari itu menjaga tekanan darah ibu hamil tetap normal sangatlah penting. Ibu hamil yang terkena hipertensi ataupun anemia dapat menyebabkan kurangnya pasokan oksigen pada janin.

Jika hal tersebut tidak segera diatasi, hal ini dapat menyebabkan janin mengalami hipoksia sehingga berisiko lahir dengan berat badan yang rendah (BBLR), atau bahkan lahir mati (stillbirth).

2. Solusio plasenta

2. Solusio plasenta
Freepik

Solusio plasenta adalah pemisahan sebagian atau seluruh plasenta dari dinding rahim. Hal tersebut dapat mengurangi atau menghalangi suplai oksigen dari ibu ke janin lho, Ma. Selain itu, solusio plasenta juga dapat menyebabkan Mama mengalami perdarahan yang cukup hebat dan hal tersebut bisa mengakibatkan ibu kehilangan darah yang cukup banyak.

3. Persalinan macet (distosia)

3. Persalinan macet (distosia)
Freepik/jcomp

Obstruksi atau distosia dapat terjadi karena berbagai sebab, di antaranya kelainan jalan lahir seperti panggul yang sempit atau kesulitan dalam membuka serviks, sehingga bayi sulit untuk lewat atau keluar. Hal ini dapat menyebabkan bayi kurang menyerap oksigen, mati lemas, dan memiliki detak jantung yang tidak normal.

Bagaimana Cara Mengatasi Hipoksia pada Janin

Bagaimana Cara Mengatasi Hipoksia Janin
Freepik

Kini setelah Mama merasakan gejala hipoksia janin, sebaiknya segera hubungi dokter kandungan untuk memeriksakan bayi mama ya. Karena akan lebih baik jika mengatasi gejala hipoksia janin secepat mungkin, dan bayi bisa diselamatkan.

Biasanya dokter akan melakukan pengobatan dengan cara berikut:

  1. Tingkatkan jumlah cairan mama melalui minum atau infus.
  2. Mama dianjurkan berbaring miring ke kiri untuk mengurangi tekanan uterus pada vena utama. Ini mencegah aliran darah ke plasenta dan bayi berkurang.
  3. Sarankan Mama untuk berhenti menggunakan obat-obatan yang dapat memengaruhi suplai oksigen bayi. Jika janin masih menunjukkan tanda-tanda hipoksia setelah menggunakan cara-cara ini, ia akan bekerja secepatnya.
  4. Jika bayi lahir dengan kekurangan oksigen, ia akan menerima terapi oksigen atau terapi ventilasi.

Itu dia Mama penyebab hipoksia pada janin dan apa saja gejalanya. Jika itu terjadi dengan Mama segera periksa ke dokter ya, Ma! 

Semoga Mama selalu sehat sampai waktu persalinan tiba.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.