4 Penyebab dan Tanda Bayi Meninggal dalam Kandungan

Bayi meninggal dalam kandungan bisa terjadi pada siapa saja!

14 April 2021

4 Penyebab Tanda Bayi Meninggal dalam Kandungan
Pexels/João Paulo de Souza Oliveira

Setiap ibu hamil tentu ingin memiliki kehamilan yang sehat dan melahirkan bayi dengan selamat. Namun, ada beberapa kondisi yang menyebabkan bayi meninggal dalam kandungan atau dikenal dengan istilah stillbirth. 

Stillbirth adalah kematian janin sebelum dilahirkan. Janin meninggal di dalam kandungan ini terjadi ketika usia kehamilan sudah di atas 20 minggu. Umumnya kasus stillbirth tidak bisa dicegah karena terjadi di dalam kandungan, namun masih bisa dikurangi risikonya dengan memahami berbagai faktor pemicu serta langkah pencegahan yang tepat. 

Berdasarkan data WHO pada tahun 2015 tercatat 2,6 juta bayi di dunia meninggal dalam kandungan. Mayoritas kasus terjadi di negara-negara berkembang. 

Bayi meninggal dalam kandungan bisa terjadi pada siapa saja. Oleh karena itu, Mama dianjurkan lebih memahami tanda dan penyebab stillbirthagar dapat mencegahnya lebih dini. 

Kali ini Popmama.com telah merangkum penjelasan terkait stillbirth mencakup tanda bayi meninggal dalam kandungan, penyebab serta cara pencegahannya. 

Apa Saja Tanda dari Stillbirth?

Apa Saja Tanda dari Stillbirth
Freepik/onlyyouqj

Tanda umum yang bisa menunjukkan bayi meninggal dalam kandungan adalah bayi jarang bergerak. Padahal, ketika usia kehamilan menginjak 6 bulan, bayi akan bergerak 10 kali dalam 2 jam. Sejak kehamilan 6 bulan, Mama sudah bisa merasakan gerakan, tendangan, maupun cegukan bayi. 

Tanda lainnya yang terjadi ketika bayi meninggal dalam kandungan adalah pendarahan vagina. Pendarahan terjadi terutama selama trimester kedua kehamilan. 

Hingga saat ini, tidak ada yang mengetahui secara pasti penyebab stillbirth. Namun, peneliti kesehatan memperkirakan beberapa faktor yang menjadi penyebab bayi meninggal dalam kandungan.

Kira-kira apa saja ya, Ma?

1. Gangguan Plasenta

1. Gangguan Plasenta
Pixabay/sbtlneet

Penyebab pertama, yakni gangguan plasenta. Plasenta merupakan organ yang menyalurkan nutrisi dan oksigen dari Mama ke bayi dalam kandungan. Gangguan plasma akan menyebabkan perkembangan bayi terhambat. 

Gangguan plasenta tersebut mencakup pembekuan darah, peradangan, masalah pada pembuluh darah plasenta hingga plasenta lepas dari dinding rahim sebelum waktunya. Perempuan yang aktif merokok biasanya memiliki risiko lebih besar untuk mengalami gangguan plasenta saat hamil

Editors' Picks

2. Riwayat kesehatan

2. Riwayat kesehatan
Freepik/look-studio

Bayi meninggal dalam kandungan bisa terjadi ketika Mama memiliki riwayat sejumlah penyakit seperti diabetes gestasional, tekanan darah tinggi saat hamil, preeklampsia, lupus dan obesitas. Tekanan darah tinggi saat hamil bahkan bisa meningkatkan bayi meninggal dalam kandungan dua kali besar dibanding penyakit lainnya. 

Riwayat kesehatan lainnya yang meningkatkan risiko bayi meninggal dalam kandungan adalah trauma atau kecelakaan, penyakit tiroid dan trombofilia atau kelainan pembekuan darah. 

3. Infeksi bakteri

3. Infeksi bakteri
Pexels/amina-filkins

Ibu hamil yang terinfeksi bakteri dan tidak mendapatkan penanganan medis bisa berisiko menyebabkan bayi meninggal dalam kandungan. Pasalnya, bakteri dan kuman akan menyebar dari vagina ke rahim hingga menginfeksi bayi. 

Beberapa infeksi yang bisa menyebabkan stillbirth adalah rubella, infeksi saluran kencing, toksoplasmosis, dan listeriosis akibat keracunan makanan. Oleh karena itu, Mama dianjurkan menjaga kebersihan lingkungan dan makanan yang akan dikonsumsi selama kehamilan. 

4. Bayi terlilit tali pusat

4. Bayi terlilit tali pusat
freepik.com/biancoblue

Bayi terlilit tali pusat memang normal terjadi. Apabila tali pusat melilit leher bayi hingga menghambat aliran oksigen, maka kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko stillbirth. 

Namun, kondisi bayi terlilit bayi pusat jarang menjadi penyebab utama stillbirth. Sebab, sebagian besar kasus stillbirth disebabkan oleh masalah kesehatan yang dihadapi oleh Mama. 

Bagaimana Cara Mencegah Stillbirth?

Bagaimana Cara Mencegah Stillbirth
Freepik/nensuria

Setelah mengetahui tanda dan penyebab stillbirth, Mama tak perlu khawatir karena masih ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Pertama, jalani pola hidup sehat selama kehamilan dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang. Hindari paparan asap rokok atau mengonsumsi minuman beralkohol selama kehamilan. 

Kemudian, pastikan Mama memiliki berat badan ideal selama kehamilan. Selanjutnya, perhatikan gerakan bayi terutama pada minggu ke 26 hingga ke-28. Mama bisa mencatat gerakan bayi setiap hari guna mengetahui ritme pergerakan bayi.

Hal terpenting, yakni rutin memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui kondisi bayi dalam kandungan.

Tanda bayi meninggal dalam kandungan memang bisa terjadi pada siapa saja. Namun, Mama masih bisa mendeteksi atau mencegahnya sejak dini agar kematian bayi tidak dapat terjadi. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.