Pendapat tentang perempuan yang sedang hamil tua tidak boleh banyak bergerak sepertinya mulai dianggap kuno. Justru semakin aktif dan bugar seorang perempuan selama kehamilan, mereka akan semakin mudah untuk beradaptasi dengan perubahan tubuhnya selama hamil.
Olahraga selama hamil, terutama pada tahap akhir kehamilan juga sudah banyak membantu para perempuan dalam persalinan mereka.
Para peneliti di Universitas Oslo menemukan bahwa perempuan yang berolahraga rutin selama kehamilan memasuki trimester ketiga dapat menurunkan risiko depresi setelah melahirkan menjadi seperlima dari risiko yang terlihat pada perempuan yang tidak berolahraga sama sekali.
Penelitian itu melibatkan 643 perempuan yang kehamilannya berusia 28 minggu atau sekitar 7 bulan. Para peneliti mengamati seberapa banyak olahraga yang para responden lakukan selama kehamilan. Mereka membagi para responden ke dalam 3 kelompok. Yang pertama, kelompok perempuan yang benar-benar tidak aktif. Kedua, kelompok yang melakukan aktivitas fisik selama 10 hingga 74 menit dalam intensitas sedang dalam seminggu, kelompok ketiga, melakukan aktivitas fisik selama 75 hingga 149 menit dalam seminggu atau lebih.
Ternyata ditemukan hampir 15 persen perempuan yang sama sekali tidak berolahraga selama hamil, menderita depresi setelah melahirkan anak mereka. Tetapi bagi mereka yang melakukan olahraga mingguan atau selama 150 menit per minggu seperti yang direkomendasikan, hanya sekitar tiga persen yang mengalami gejala depresi setelah melahirkan.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders ini juga menyatakan, depresi pasca persalinan dapat berdampak negatif pada hubungan di antara anggota keluarga dan ikatan antara bayi dan Mama, yang mungkin memiliki pengaruh negatif jangka panjang pada anak. Artinya, aktivitas fisik yang dilakukan di trimester ketiga dapat mengurangi gejala depresi pasca persalinan. Hal ini tentu sangat membantu para Mama dalam mengasuh Si Kecil nantinya.