TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

5 Hal yang Perlu Dicermati sebelum Membeli MPASI Kemasan

Lebih praktis sih, tapi apakah sama sehatnya dengan MPASI buatan sendiri?

Freepik

Semua orang pasti sepakat, membuat sendiri MPASI bayi jauh lebih sehat ketimbang membeli makanan bayi kemasan. Namun, ada kalanya Mama sesekali terpaksa membeli MPASI dalam kemasan karena berbagai alasan. Ketika harus bepergian dalam beberapa waktu bersama bayi, misalnya. 

Membeli MPASI dalam kemasan bisa jadi hal yang menantang. Mama harus memastikan apapun yang Mama beli aman untuk si Kecil dan apakah makanan itu memberikan nutrisi yang tepat. Belum lagi di pasaran tersedia banyak pilihan yang bisa jadi membingungkan. 

Sebagai panduannya, berikut ini Popmama.com merangkum lima tips sebelum membeli MPASI kemasan yang bisa Mama jadikan acuan:

1. Pilih yang mengandung zat besi

Freepik/detry

Zat besi adalah nutrisi yang penting di masa-masa awal tumbuh-kembang bayi. Zat besi berperan dalam perkembangan otak dan organ-organ tubuh.

Jadi pastikan Mama memilih MPASI kemasan yang mengandung zat besi. Misalnya, di dalamnya terkandung daging, sereal dengan biji-bijian tunggal yang juga merupakan sumber zat besi yang baik. Mama juga bisa memastikan kandungan zat besi dengan membaca label pada kemasan MPASI. Hindari sereal dengan rasa karena mengandung gula yang sebetulnya tidak diperlukan bayi.

2. Baca label nutrisi pada kemasan

Eater.com

Label nutrisi pada kemasan MPASI seringkali membingungkan bagi orang awam. Ketidakjelasan persentase dalam bahan-bahan makanan suatu produk MPASI kemasan juga bisa menyesatkan. Sebagai panduan sederhana, bahan dengan jumlah terbanyak akan muncul pada urutan pertama, kemudian persentasenya akan semakin sedikit sesuai urutan. 

Hindari produk MPASI kemasan yang mengandung gula tinggi, garam dan agen pengental, seperti tepung dan pati.

3. Pilih MPASI kemasan berbahan dasar sayur

Freepik

Di masa MPASI, Mama tidak boleh lupa untuk memperkenalkan sayur-sayuran. Sebagian besar MPASI kemasan memiliki konsentrasi buah-buahan yang tinggi agar rasanya lebih enak. Hal ini menyebabkan bayi terlalu terbiasa dengan bahan-bahan yang rasanya manis dan mengonsumsi gula lebih banyak. Akibatnya bayi akan kesulitan mengembangkan indera perasa rasa yang gurih di kemudian hari. 

Carilah MPASI kemasan yang berisi campuran sayur, termasuk sayuran yang terasa sedikit pahit seperti brokoli. 

4. Cek kalori dalam MPASI kemasan

Upload.wikimedia.org

Air adalah bahan yang sering ditambahkan pada MPASI kemasan. Seringkali jumlahnya tidak sesuai dengan yang tercantum pada label kemasannya. Air dapat membuat MPASI kemasan jadi lebih berat, tetapi lebih encer sehingga kandungan nutrisinya berkurang. Akibatnya, kalorinya pun berkurang. 

Jika kalori dalam makanannya berkurang, bayi pun menjadi mudah lapar. Rata-rata MPASI kemasan hanya memiliki sekitar 59 kalori per 100 gram. Bayi membutuhkan sekitar 70 kalori per 100 gram untuk memastikan kebutuhan nutrisinya tercukupi. 

5. Waspada alergi

Pixabay/Ben_Kerckx

Pada usia enam bulan, bayi cukup rentan terhadap intoleransi dan alergi. Ketika Mama mulai proses penyapihan dan memulai MPASI, cobalah memperkenalkan makanan seperti kacang tanah, gluten, dan produk susu dalam dosis kecil.

Hal tersebut penting untuk mencegah intoleransi dan memastikan Mama tahu persis makanan apa yang memicu reaksi alergi. Sebagai alternatif agar aman, pilih MPASI kemasan yang bebas dari produk susu dan gluten jika Mama belum tahu dengan pasti alergi dan intoleransi apa yang diderita si Kecil. 

Pasar makanan kemasan adalah bisnis yang menggiurkan. Pengiklan akan berusaha yang terbaik agar produknya terjual. Di sinilah pentingnya Mama membekali diri dengan edukasi seputar bahan-bahan yang digunakan dan membaca label kemasan. Makanan dengan embel-embel organik dan sehat, tak selalu benar-benar sehat. Terkadang sama saja seperti makanan bayi pada umumnya, dengan sedikit nutrisi tambahan.

Semoga informasi lima tips sebelum membeli MPASI kemasan tersebut dapat menjadi panduan Mama dalam membeli MPASI kemasan. 

Baca Juga:

The Latest