TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Anak Mama Ingin Menjadi Youtuber? Ini 7 Tips untuk Membimbingnya

Penghasilan yang tinggi dan follower yang banyak, sering membuat anak tergoda menjadi Youtuber

shutterstock/AndriiOleksiienko

Pada bulan Desember 2017, Washington Post memuat artikel tentang Ryan, anak berusia enam tahun yang menghasilkan 11 juta Dollar dalam setahun. Yang ia lakukan adalah mencoba mainan dan membahasnya di channel Youtube.

Sekarang ini, tidak hanya orang dewasa, anak pun mulai mencoba membuat video sederhana di Youtube. Mulai dari bercerita tentang kegiatan sehari-hari, traveling, sampai ke tutorial. Tidak semata-mata untuk mencari uang, videografer muda dan vlogger belajar bercerita, menggunakan perangkat lunak pengeditan, dan memasarkan channel mereka. Di sini anak pun belajar meningkatkan keterampilan komunikasi dan kreativitas.

Jika anak ingin membuat video, baik untuk bersenang-senang atau untuk mencari keuntungan, berikut adalah tujuh cara yang dirangkum Popmama.com untuk membimbing dan mendukung usaha anak:

1. Bicara tentang persetujuan

Freepik/peoplecreations

Sebelum Mama membiarkan anak mengunggah video mereka ke internet, bicarakan dengan mereka tentang cara-cara mereka untuk mendapatkan persetujuan-persetujuan. Lakukan percakapan jujur ​​tentang apa yang mereka harapkan untuk difilmkan dan tanggung jawab apa yang mereka miliki dengan rekaman tersebut.

Kapan mereka perlu memburamkan wajah? Kapan mereka membutuhkan izin untuk syuting di lokasi atau izin dari seseorang? Diskusikan apa yang harus mereka pertimbangkan ketika seseorang meminta mereka untuk merekam video atau menghapus rekaman mereka.

Untuk anak yang lebih besar, pertimbangkan untuk mendiskusikan video "lelucon", tema yang sensitif, dan cara mereka memanfaatkan orang atau situasi untuk keuntungan mereka sendiri. Ajarkan anak untuk bijak dalam mengunggah video ya, Ma.

2. Diskusikan mengenai privasi di internet

Freepik/peoplecreations

Jika anak merekam kehidupan mereka sendiri, berbicaralah dengan serius tentang privasi mereka. Saat ini, nama lengkap sering menjadi bagian dari merek pribadi seseorang, tetapi anak juga bisa menggunakan nickname. Diskusikan nilai lebih dan kekurangannya sebelum memutuskan untuk membuat akun.

Putuskan informasi apa bisa mereka bagi dan yang sebaiknya disimpan untuk pribadi. Sebaiknya hindari bagian video yang menunjukkan alamat rumah, sekolah, atau hal-hal yang menyangkut keamanan. Keamanan dan privasi sangat penting seringkali disalahgunakan untuk ancaman kekerasan atau pencurian.

3. Biarkan anak melakukan apa yang mereka sukai

depositphoto/gsdonlin

Mama mungkin terkejut mengetahui jenis video mana yang paling populer saat ini. Beberapa orang senang menonton orang lain membuka paket. Orang lain dapat menghabiskan berjam-jam menonton orang bermain boardgame atau video game. Beberapa orang suka menonton video memasak atau berbelanja.

Biarkan anak memutuskan jenis video apa yang ingin mereka buat, bahkan jika Mama tidak menyukai atau memahami pilihan mereka. Pertimbangkan untuk menetapkan beberapa batasan. Belajarlah untuk mengenali perbedaan antara video yang tidak sesuai dengan selera Mama dan video yang tidak boleh dikonsumsi publik.

4. Pastikan anak melakukannya untuk alasan yang benar

Freepik/rawpixel

Beberapa Youtuber menjadi sangat terkenal. Dengan pendapatan tinggi, mudah bagi anak untuk berpikir itu adalah cara mudah untuk menghasilkan banyak uang dan menjadi terkenal. Tentu saja, banyak pembuat video tidak pernah mendapatkan banyak pengikut dan tidak menghasilkan jutaan dolar setahun.

Diperlukan usaha, waktu, dan kerja keras untuk membuat video yang bagus. Banyak dari mereka memiliki tim yang bekerja untuk mereka juga. Jika anak sudah mengetahui tentang hal ini dan terus melakukannya, pastikan anak mengetahui mengapa mereka ingin membuat video.

Mungkin karena anak menyukai kegiatan ini atau sudah memiliki sejumlah pengikut. Apa pun alasan mereka membuat video, Mama dapat mengingatkannya kembali ketika mereka membutuhkan semangat.

5. Diskusikan soal kemungkinan berkarier di bidang ini

Freepik/User14699452

Beberapa orang masih dapat mencari nafkah dari video online. Yang lain menggunakan platform mereka sebagai batu loncatan untuk membuat film, bekerja dalam animasi, membuat lini produk mereka sendiri, atau menjadi juru bicara.

Yang lain lagi membuat video mereka sebagai hobi atau penghasilan sampingan sambil memiliki pekerjaan penuh waktu. Pada tahun 2015, banyak bintang YouTube berbicara tentang bagaimana mereka tidak menghasilkan cukup banyak untuk menyiarkan video mereka, tetapi mereka terlalu terkenal untuk memiliki pekerjaan dengan publik. Pastikan anak tahu tentang ini.

6. Cari tahu keterampilan yang diperlukan untuk membuat video

Freepik

Luangkan waktu untuk mempertimbangkan keterampilan apa yang telah dipelajari anak dari membuat video. Jika mereka membuat film, mereka belajar tentang skrip, pencahayaan, kostum, set, dan bekerja dengan orang lain.

Apakah mereka membuat animasi, menambah grafik, atau menghasilkan efek? Berapa banyak yang terlibat dalam proses pengeditan? Pernahkah Mama mempertimbangkan berapa banyak pengetahuan pemasaran yang diperoleh anak? Apa pun itu, anak mendapat keterampilan baru yang kelak bisa berguna untuk pekerjaannya.

Akui berapa banyak yang mereka pelajari sehingga mereka dapat melihat seberapa jauh mereka telah berkembang.

Mengenali keterampilan dan seberapa anak berkembang dapat meningkatkan semangat mereka, Ma.

7. Sekolah tetap nomor satu

Pexels/Pragyan Bezbaruah

Meskipun anak dapat belajar banyak dari membuat video sendiri, mereka tetap harus mengutamakan sekolah. Jangan mendiskusikan pendidikan mereka sebagai sesuatu yang mereka butuhkan jika mereka tidak berhasil dengan video mereka.

Sebaliknya, sekolah dapat menjadi inspirasi untuk video juga. Mungkin kelas sejarah mereka akan memicu ide film baru. Mungkin fisika akan memberi mereka ide untuk akrobat. Bahasa Inggris, sastra, dan kelas menulis kreatif memiliki ikatan yang jelas dengan industri video.

Apakah anak Mama suka mengunggah video sederhana? Yuk komen di bawah.

Baca juga:

The Latest