TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Levofloxacin, Obat untuk Hentikan Pertumbuhan Bakteri

Cara kerja levofloxacin, yakni dengan menghentikan pertumbuhan bakteri

Pexels/Artem Podrez

Apa itu obat Levofloxacin? Levofloxacin adalah jenis obat antibiotik yang bisa digunakan untuk mengobati berbagai infeksi bakteri. Cara kerjanya dengan menghentikan pertumbuhan bakteri dan tidak akan bekerja untuk infeksi virus.

Levofloxacin termasuk dalam kelas antibiotik fluoroquinolones. Fungsinya untuk mengobati penyakit infeksi bakteri seperti pneumonia, sinusitis, prostatitis hingga konjungtivitis.

Agar lebih jelas, berikut Popmama.com berikan ulasan selengkapnya:

1. Bagaimana interaksi levofloxacin dengan obat lain?

Pexels/Karolina Grabowska

Interaksi dari jenis obat levofloxacin termasuk produk yang mengandung zat besi, kalsium, seng atau magnesium. Bahkan bagian dari obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID) dan warfarin.

Sedangkan interaksi yang mungkin terjadi jika menggunakan levofloxacin bersamaan dengan obat-obatan tertentu, yaitu:

  • Menurunkan penyerapan levofloxacin jika digunakan bersama dengan suplemen besi, seng dan obat jenis antasida. Bisa meningkatkan risiko gangguan pada sistem saraf pusat dan kejang. Ini terjadi jika digunakan bersama obat yang mempengaruhi ambang kejang seperti teofilin dan obat golongan NSAID.
  • Meningkatkan risiko kerusakan tendon jika digunakan bersama obat golongan kortikosteroid.
  • Meningkatkan risiko pemanjangan interval QT jika digunakan bersama obat golongan antiaritmia.
  • Memengaruhi pemeriksaan laboratorium seperti tes urin untuk obat golongan opioid.

2. Kondisi apa saja yang tidak memungkinkan konsumsi levofloxacin?

Pexels/ MART PRODUCTION

Dalam kasus yang jarang terjadi, levofloxacin dapat menyebabkan kerusakan pada aorta, arteri darah utama tubuh. 

Dapatkan bantuan medis darurat jika mengalami nyeri yang parah dan terus-menerus di dada, perut atau punggung. Beri tahu dokter juga jika kamu pernah mengalami:

  • Masalah tendon, masalah tulang, radang sendi atau masalah sendi lainnya (terutama pada anak-anak)
  • Masalah sirkulasi darah, aneurisma, penyempitan atau pengerasan arteri
  • Masalah jantung, tekanan darah tinggi
  • Penyakit genetik seperti sindrom Marfan atau sindrom Ehler's-Danlos
  • Diabetes
  • Gangguan otot atau saraf seperti myasthenia gravis
  • Penyakit ginjal
  • Kejang atau epilepsi
  • Cedera kepala atau tumor otak
  • Sindrom QT panjang 
  • Rendahnya kadar kalium dalam darah Anda (hipokalemia)
  • Hamil
  • Menyusui

Ingat, jangan berikan obat ini kepada anak tanpa arahan dari dokter!

3. Berapa dosis yang tepat dari levofloxacin?

Pexels/Artem Podrez

Dokter biasanya memberikan dosis untuk dewasa dengan pneumonia nosokomial sebanyak 750 mg secara oral atau IV setiap 24 jam selama 7-14 hari.

Levofloxacin akan diresepkan oleh dokter sesuai kondisi dan penyakit yang diderita oleh pasien. Namun, secara umum berikut dosis penggunaan levofloxacin:

  • Dosis levofloxacin oral (tablet dan sirup), yaitu 250-500 mg per hari. Durasi pengobatan bervariasi mulai dari 3 hari hingga 8 minggu.
  • Dosisi levofloxacin tetes mata 1-2 tetes tiap 2 jam (maksimal 8 kali per hari) selama 1-2 hari pertama. Hari ke-3 sampai ke-5, frekuensi menurun menjadi 1-2 tetes, 4 kali sehari.
  • Dosis levofloxacin pada anak akan disesuaikan berat badan dan rekomendasi dokter.
  • Levofloxacin suntik hanya boleh diberikan oleh dokter atau oleh petugas medis di bawah pengawasan dokter, biasanya saat menjalani rawat inap di rumah sakit.
  • Dosisi levofloxacin oral (tablet dan sirup) dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Khusus levofloxacin sirup, minum obat ini 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan. Minum obat (tablet atau sirup) bersama segelas air putih.

4. Apa saja efek samping dari levofloxacin?

Pexels/Andrea Piacquadio

Umumnya, efek samping utama levofloxacin akan mengalami mual, diare dan sakit kepala. 

Namun dokter harus meresepkan levofloxacin untuk pasien dengan riwayat interval QT yang berkepanjangan secara hati-hati.

Sebab levofloxacin berpotensi menyebabkan efek samping yang lebih parah seperti:

  • Tendinitis
  • Ruptur tendon
  • Hiper-hipoglikemia
  • Kejang
  • Interval QT yang berkepanjangan dan neuropati perifer
  • Sembelit
  • Muntah
  • Gangguan tidur.

Akan tetapi efek samping ini bisa hilang dalam beberapa hari. Jika efek tersebut terasa lebih berat atau tidak membaik, segera hubungi dokter. Berikut reaksi lainnya:

  • Perubahan volume dan warna urine
  • Alami nyeri atau pembengkakan otot, tendon dan sendi
  • Kesemutan atau mati rasa
  • Dada terasa nyeri
  • Gangguan indra penglihatan, perasa, pencium atau pendengaran
  • Diare berat atau terdapat darah pada tinja
  • Halusinasi

5. Bagaimana aturan pakai levofloxacin?

Pexels/Anna Shvets

Sebelum meminumnya, penting untuk mengetahui aturan pakai levofloxacin. Berikut informasinya:

  • Apabila dosis konsumsi levofloxacin satu kali per hari, sebaiknya konsumsi obat di pagi hari.
  • Jika kamu diresepkan lebih dari satu kali per hari, pastikan ada jarak waktu yang cukup antar dosis.
  • Pastikan untuk menghabiskan seluruh dosis obat yang diresepkan dokter meski sudah merasa lebih baik. Hal ini penting untuk mencegah kembalinya infeksi.
  • Namun saat gejala tidak membaik setelah menghabiskan obat, segera temui dokter.
  • Obat-obatan golongan antasida, sucralfate serta multivamin dengan kandungan zinc atau zat besi dapat mengganggu penyerapan dan kinerja levofloxacin. Jangan menggunakannya kurang dari 2 jam sebelum sampai 2 jam setelah jadwal konsumsi obat.

Itulah mengenai jenis obat levofloxacin. Beri tahu dokter tentang riwayat kesehatan dan obat-obatan yang sedang kamu konsumsi sebelum meminum obat levofloxacin.

Baca juga:

The Latest