Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bayi Tidak Sendawa setelah Menyusu, Berbahayakah?
Pexels/Дмитрий Зайцев
  • Bayi yang tidak sendawa setelah menyusu umumnya tidak berbahaya; gas tetap dapat keluar lewat mulut atau kentut, dan tidak semua bayi perlu disendawakan setiap kali minum.

  • Kebutuhan sendawa dipengaruhi cara serta waktu menyusu: bayi yang menyusu langsung atau minum lebih pelan cenderung menelan lebih sedikit udara. Sendawa juga tidak terbukti mencegah kolik atau kembung.

  • Bantu sendawa bila bayi rewel, gelisah, melengkungkan punggung, atau menarik kaki. Periksakan jika muntah menyembur, demam atau lesu, menolak menyusu, atau menangis terus-menerus.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Bayi tidak bersendawa setelah menyusu umumnya bukan tanda bahaya. Udara yang tertelan dapat keluar melalui mulut atau kentut, dan tidak selalu menyebabkan kembung.
  • Who?
    Bayi menyusu, orang tua atau pengasuh, serta dokter, bidan, dan tenaga kesehatan terlibat dalam pemantauan kondisi bayi bila muncul gejala yang mengkhawatirkan.
  • Where?
    Kondisi ini dapat terjadi saat bayi menyusu di rumah atau tempat perawatan. Pemeriksaan dapat dilakukan di layanan dokter anak, bidan, atau tenaga kesehatan.
  • When?
    Situasi ini dapat terjadi setelah sesi menyusu, terutama ketika bayi menyusu perlahan atau menelan sedikit udara. Bayi umumnya semakin mampu minum tanpa banyak udara pada usia 4–6 bulan.
  • Why?
    Bayi mungkin tidak sendawa karena menelan sedikit udara, terutama saat menyusu langsung dari payudara atau menyusu lebih pelan. Kebutuhan sendawa juga dapat berkurang seiring perkembangan cara minumnya.
  • How?
    Bayi dapat dibantu dengan posisi di bahu, duduk di pangkuan, atau tengkurap di pangkuan sambil punggungnya diusap lembut. Segera periksakan bila muntah menyembur, demam, menolak menyusu, atau menangis tanpa henti.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bayi kadang tidak sendawa setelah minum susu, dan biasanya itu tidak bahaya. Udara di perut bisa keluar lewat mulut atau kentut. Bayi yang minum pelan atau minum dari payudara bisa lebih sedikit menelan udara. Kalau bayi rewel, punggungnya melengkung, atau menangis terus, Mama bisa bantu sendawa. Jika muntah banyak, demam, atau tidak mau minum, perlu ke dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap kali menyusui, hampir semua Mama punya ritual yang sama, yaitu menepuk-nepuk lembut punggung si Kecil sambil menunggu bunyi tanda sendawa ke luar. Tapi, bagaimana kalau sudah ditunggu lama, sendawanya tak kunjung muncul?

Momen seperti ini sering bikin Mama parno, takut si Kecil jadi kembung, rewel, atau sakit perut nantinya. Padahal, faktanya tidak selalu sesederhana itu, Ma.

Daripada Mama terus memikirkan hal tersebut dan semakin penasaran dengan kondisi si Kecil, berikut Popmama.com mengulas bayi tidak sendawa setelah menyusu, berbahayakah? Yuk, simak sampai habis!

Bayi Tidak Sendawa Setelah Menyusu, Apakah Berbahaya?

Pexels/Evgeniya Davydova

Kabar baiknya, tidak sendawa setelah menyusu umumnya bukan tanda bahaya. Melansir Health Digest, tidak semua bayi memang perlu bersendawa setiap kali habis minum susu.

Dr. Cindy Gellner dari University of Utah Health juga menegaskan bahwa perut si Kecil tidak akan kembung hanya karena tidak bersendawa. Gas yang tertahan pada akhirnya tetap akan keluar juga, entah lewat mulut atau lewat angin dari bawah.

Faktanya, anak yang lebih besar dan orang dewasa pun tidak pernah disendawakan setelah makan dan baik-baik saja. Jadi, Mama tidak perlu langsung panik kalau si Kecil absen bersendawa sekali dua kali.

Mengapa Bayi Tidak Sendawa setelah Menyusu?

Pexels/Anna Shvets

Ada beberapa alasan kenapa si Kecil terkadang malas bersendawa. Menurut Health Digest, waktu menyusu ikut berpengaruh, sebab bayi cenderung menyusu lebih pelan saat malam hari sehingga udara yang tertelan pun lebih sedikit.

Cara menyusui juga jadi faktor penting. Bayi yang menyusu langsung dari payudara umumnya menelan lebih sedikit udara dibandingkan dengan yang minum dari botol, sehingga kebutuhan bersendawa jadi berkurang dengan sendirinya.

Seiring waktu, bayi mama juga akan belajar minum tanpa banyak menelan udara berlebih. Bahkan, kebanyakan bayi sudah bisa disendawakan begitu usianya mencapai 4-6 bulan.

Jadi, kalau si Kecil tiba-tiba jarang bersendawa padahal biasanya rutin, bisa jadi itu pertanda dia semakin pintar mengatur pola minumnya sendiri.

Apakah Bayi yang Tidak Sendawa Bisa Mengalami Kembung?

Pexels/Sarah Chai

Ini pertanyaan yang paling sering bikin Mama cemas. Sebuah studi yang diulas oleh University of Utah Health menemukan bahwa tidak ada perbedaan gejala kolik antara bayi yang rutin disendawakan dan yang tidak.

Menariknya, penelitian yang sama justru menemukan bayi yang disendawakan mengalami gumoh dua kali lebih sering dibandingkan dengan yang tidak disendawakan. Jadi, sendawa bukan jaminan bebas kembung, begitu pula sebaliknya.

Menurut Australian Breastfeeding Association, udara yang tertelan saat menyusu memang wajar terjadi pada semua bayi, tapi tidak selalu menimbulkan rasa tidak nyaman. Cegukan pun termasuk hal normal dan bukan berarti ada udara yang terjebak di perutnya.

Dengan kata lain, kembung pada si Kecil dipengaruhi banyak faktor, bukan cuma soal sendawa atau tidak. Jadi, Mama tidak perlu merasa gagal kalau usaha menyendawakan tidak selalu berhasil setiap saat.

Bagaimana Cara Membantu Bayi Bersendawa Setelah Menyusu?

Pexels/Nataliya Vaitkevich

Meski tidak wajib, menyendawakan tetap bisa membantu si Kecil merasa lebih nyaman setelah menyusu. Mengutip NHS, berikut beberapa posisi yang bisa Mama coba di rumah:

  1. Posisi sandaran bahu
    Sandarkan dagu si Kecil di bahu Mama, topang kepala dan bahunya dengan satu tangan, lalu tepuk atau usap lembut punggungnya dengan tangan lainnya. Sambil berjalan pelan, posisi ini bisa membantu udara naik lebih cepat.

  2. Posisi duduk di pangkuan
    Dudukkan si Kecil menghadap ke luar di pangkuan Mama, topang dagu dan dadanya dengan satu tangan (hindari menekan area leher), lalu condongkan tubuhnya sedikit ke depan sambil menepuk punggungnya.

  3. Posisi tengkurap di pangkuan atau lengan
    Baringkan si Kecil tengkurap di atas pangkuan atau lengan Mama dengan kepala sedikit lebih tinggi, lalu usap atau tepuk punggungnya perlahan. Posisi ini memberi tekanan lembut pada perut yang bisa membantu udara keluar.

  4. Kombinasi baring lalu duduk
    Baringkan si Kecil di pangkuan selama satu menit, lalu angkat perlahan ke posisi duduk dengan punggung tetap lurus. Menurut Australian Breastfeeding Association, cara ini bisa membantu gelembung udara naik ke atas.

Apa Tanda Bayi Perlu Disendawakan Setelah Menyusu?

Pexels/hartono subagio

Walau tidak wajib, ada beberapa sinyal yang menunjukkan si Kecil sebenarnya butuh dibantu bersendawa. Menurut NHS, tanda paling umum adalah rewel atau terlihat tidak nyaman di tengah sesi menyusu.

Melansir Pregnancy, Birth and Baby, Mama bisa memperhatikan momen ketika hisapan si Kecil melambat atau dia mulai gelisah dan berhenti menyusu tiba-tiba. Ini bisa jadi waktu yang tepat untuk jeda sebentar sambil menepuk punggungnya.

Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah punggung melengkung, kaki ditarik ke arah perut, tangan mengepal, atau tangisan yang terdengar berbeda dari biasanya. Kombinasi gejala ini, bisa menandakan ada angin yang terjebak dan butuh dikeluarkan.

Sebaliknya, kalau si Kecil tampak tenang dan santai saja setelah menyusu, itu artinya dia memang tidak sedang membutuhkan sendawa. Percayakan saja pada insting Mama dan respons alami dari bayi mama sendiri. Meski begitu, ada beberapa situasi yang tetap sebaiknya tidak dianggap remeh.

Kapan Bayi Tidak Sendawa setelah Menyusu Perlu Diperiksakan?

Pexels/Jonathan Borba

Pada sebagian besar kasus, bayi yang tidak sendawa memang tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Menurut Pregnancy, Birth and Baby, beberapa kondisi berikut merupakan alasan Mama sebaiknya segera memeriksakan si Kecil ke dokter:

  1. Muntah dalam jumlah banyak atau menyembur
    Kalau si Kecil memuntahkan susu dalam jumlah besar, apalagi sampai menyembur (proyektil) setiap habis menyusu, ini bukan gumoh biasa dan perlu dicek lebih lanjut oleh dokter.

  2. Tampak tidak sehat atau demam
    Suhu tubuh tinggi disertai bayi yang terlihat lesu atau rewel berlebihan bisa jadi tanda ada masalah lain di luar soal sendawa, bukan sekadar perut kembung biasa.

  3. Menolak menyusu atau porsi minum berkurang drastis 
    Jika si Kecil tiba-tiba menolak menyusu atau asupannya kurang dari separuh biasanya, sebaiknya jangan menunda untuk berkonsultasi dengan dokter anak.

  4. Menangis terus-menerus tanpa henti
    Kalau tangisan si Kecil tidak kunjung reda apa pun yang Mama coba, ini saatnya memastikan tidak ada penyebab medis lain di baliknya. Mama disarankan untuk menghubungi bidan atau tenaga kesehatan bila berbagai cara menyendawakan sudah dicoba tapi si Kecil masih menunjukkan tanda tidak nyaman.

Selain empat kondisi di atas, dengarkan juga insting Mama sendiri. Kalau ada yang terasa tidak biasa pada bayi mama, tidak ada salahnya untuk langsung memastikan ke dokter.

Jadi, bayi tidak sendawa setelah menyusu sebenarnya bukan hal yang perlu bikin Mama panik setiap saat. Selama si Kecil tampak nyaman, tumbuh dengan baik, dan tidak menunjukkan tanda-tanda seperti yang sudah dibahas di atas, semuanya masih dalam batas normal.

Nah, itulah pembahasan mengenai bayi tidak sendawa setelah menyusu, berbahayakah? Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article