Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bayi Usia 28 Hari di Surabaya Meninggal usai Diduga Dicekoki Telur Mentah
Pexels/Vidal Balielo Jr
  • Bayi Alena di Surabaya diduga diberi telur mentah oleh neneknya saat demam, lalu kondisinya memburuk, dirawat intensif, sempat kejang, dan meninggal pada usia 28 hari.

  • RSUD Dr. Soetomo menyatakan tim medis telah memberikan penanganan maksimal sesuai standar pelayanan; bayi tersebut meninggal pada 11 Oktober 2026 pukul 07.10 WIB.

  • Bayi di bawah enam bulan dianjurkan hanya mendapat ASI atau formula karena ginjal dan pencernaannya belum matang; telur mentah berisiko terkontaminasi salmonella.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Selama 6 bulan pertama kehidupannya, bayi dianjurkan untuk mendapatkan ASI eksklusif tanpa tambahan makanan atau minuman lain, termasuk air putih, kecuali atas indikasi medis. Hal ini penting untuk diperhatikan oleh orangtua, anggota keluarga, maupun pengasuh yang terlibat dalam perawatan si Kecil sehari-hari.

Pemberian makanan atau minuman sebelum bayi berusia 6 bulan perlu dihindari karena sistem pencernaan dan kebutuhan nutrisinya masih dalam tahap perkembangan. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang yang merawat bayi untuk memahami jenis asupan yang sesuai dengan usia dan kebutuhannya.

Pentingnya hal ini kembali menjadi perhatian setelah muncul kabar seorang bayi usia 28 hari di Surabaya meninggal dunia usai diduga dicekoki telur mentah oleh neneknya. Kasus ini pun menimbulkan pertanyaan mengenai kejadian tersebut.

Informasi selengkapnya sudah Popmama.com rangkum pada ulasan berikut ini.

Bayi Usia 28 Hari di Surabaya Meninggal usai Diduga Dicekoki Telur Mentah

Magnific/rawpixel

Bayi bernama Alena yang berusia 28 hari ramai diperbincangkan setelah pengguna Threads @calistaarisha sempat meminta bantuan agar si Bayi segera mendapatkan ruang perawatan intensif NICU di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Dalam unggahannya, kondisi bayi Alena disebut semakin kritis hingga membutuhkan penanganan medis segera. Warganet pun diajak mendoakan agar bayi tersebut bisa melewati masa kritisnya.

“Mohon bantuannya buat adik A agar bisa mendapatkan ruang nicu segera. Keadaan A semakin kritis, bayi 28 hari ini dicekoki telur mentah oleh neneknya dan membutuhkan ruang NICU di RSUD Dr. Soetomo,” tulis Calista Arisha dalam unggahan tersebut pada 9 Oktober 2026.

Berdasarkan informasi yang dibagikan akun tersebut, bayi Alena sebelumnya dikabarkan mengalami demam dan diduga diberi telur mentah oleh neneknya. Telur mentah itu disebut diberikan dengan alasan untuk menurunkan demam.

Alih-alih membaik, kondisi si Bayi dilaporkan memburuk hingga membutuhkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit. Dua hari setelah diberi telur mentah, kondisi kesehatan bayi Alena dikabarkan tidak kunjung membaik membaik. Si Bayi bahkan sempat kejang setelah hari ketiga menjalani perawatan di rumah sakit.

Namun, pada tanggal 11 Oktober 2026 sekitar pukul 09.00 WIB, Calista kembali mengabarkan bahwa bayi Alena telah meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif.

Humas RSUD Dr Soetomo, Adin Niken membenarkan bahwa Alena meninggal pada Minggu pagi pukul 07.10 saat berusia 28 hari. Ia mengatakan tim medis telah berupaya memberikan penanganan maksimal sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien.

Mengapa Bayi Tidak Boleh Mengonsumsi Makanan Padat sebelum Usia 6 Bulan?

Magnific

Mama mungkin sudah mengetahui bahwa bayi belum dianjurkan mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI) sebelum berusia 6 bulan, terutama bayi baru lahir yang masih membutuhkan ASI eksklusif.

Pemberian makanan selain ASI atau susu formula sebelum waktunya sebaiknya dihindari, kecuali jika terdapat indikasi medis dan dokter menyarankan penanganan khusus. Pasalnya, ada beberapa alasan mengapa bayi belum siap mengonsumsi makanan padat sebelum berusia 6 bulan, di antaranya:

  • ASI atau susu formula memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Pada 6 bulan pertama kehidupannya, ASI merupakan sumber nutrisi utama yang dianjurkan. Jika bayi tidak mendapatkan ASI, susu formula yang sesuai dengan usianya dapat menjadi alternatif.

  • Kemampuan makan bayi masih berkembang. Bayi perlu mencapai kesiapan perkembangan tertentu untuk mengonsumsi makanan padat, termasuk kemampuan mengontrol kepala dan menelan makanan dengan aman.

  • Pemberian makanan terlalu dini dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan. Bayi yang belum siap menerima makanan padat berisiko mengalami kesulitan menelan dan tersedak.

  • Makanan padat tidak menjamin bayi tidur lebih nyenyak. Memulai MPASI lebih awal tidak terbukti secara konsisten membantu bayi tidur lebih lama sepanjang malam.

  • Ginjal bayi masih berkembang. Pada usia dini, ginjal bayi masih mengalami pematangan sehingga pemberian asupan selain susu perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatannya.

  • Sistem pencernaan bayi masih berkembang. Sebelum berusia sekitar 6 bulan, bayi umumnya belum siap menerima makanan padat sebagai bagian dari pola makannya.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua dan siapa pun yang terlibat dalam pengasuhan untuk memahami waktu pemberian MPASI yang tepat. Jika Mama memiliki kekhawatiran mengenai kecukupan nutrisi atau kesiapan bayi menerima makanan, konsultasikan dengan dokter anak.

Pentingnya Edukasi bagi Orangtua dan Keluarga dalam Merawat Bayi

Popmama.com/AI/Sysilia Tanhati

Bila Mama membaca berita, mungkin Mama pernah menemukan kasus bayi yang mendapatkan makanan pendamping sebelum waktunya. Situasi seperti ini menjadi pengingat bahwa pemahaman mengenai kebutuhan bayi sesuai usianya penting diketahui oleh setiap orang yang terlibat dalam pengasuhan si Kecil.

Dalam keluarga, setiap orang tentu memiliki pengalaman dan pandangan masing-masing mengenai cara merawat bayi. Kakek, nenek, paman, bibi, atau kerabat lainnya mungkin memiliki pengalaman mengasuh anak yang ingin dibagikan kepada orangtua. Namun, seiring berkembangnya ilmu kesehatan, ada sejumlah rekomendasi perawatan bayi yang perlu disesuaikan dengan pengetahuan medis terkini.

Perlu diingat bahwa setiap bayi memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Pengalaman yang pernah diterapkan pada satu anak belum tentu sesuai untuk anak lainnya. Karena itu, penting bagi keluarga untuk saling berdiskusi dan mempertimbangkan rekomendasi tenaga kesehatan sebelum memberikan makanan atau melakukan tindakan tertentu pada bayi.

Orangtua juga perlu menyampaikan dengan baik mengenai pola pengasuhan dan hal-hal yang perlu diperhatikan saat merawat si Kecil. Komunikasi yang terbuka dapat membantu setiap anggota keluarga memahami kebutuhan bayi sekaligus menciptakan lingkungan pengasuhan yang aman dan nyaman bagi semua pihak.

Di sisi lain, keluarga dan kerabat juga diharapkan dapat menghargai keputusan orangtua serta mengikuti anjuran medis yang berlaku. Hal ini penting, terutama ketika menyangkut pemberian makanan kepada bayi yang sistem pencernaan dan daya tahan tubuhnya masih berkembang.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pemberian telur mentah kepada bayi. Telur mentah berisiko terkontaminasi bakteri Salmonella, baik melalui cangkang maupun isi telur. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, kram perut, dan diare, yang terkadang disertai demam. Gejala umumnya muncul dalam rentang 6 jam hingga 6 hari setelah infeksi, meski waktunya dapat bervariasi.

Kabar mengenai bayi usia 28 hari di Surabaya meninggal usai diduga diberi telur mentah, menjadi pengingat akan pentingnya memahami kebutuhan nutrisi bayi sejak lahir. Meski penyebab pasti kejadian tersebut perlu merujuk pada hasil pemeriksaan pihak berwenang, setiap bayi perlu mendapatkan asupan yang sesuai dengan usianya.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi masa sulit ini, ya, Ma.

Curated For You

Editorial Team

Related Article