Menjadi seorang Mama untuk pertama kalinya tentu membuat banyak hal tentang si Kecil terasa baru, termasuk soal perawatannya.
Bayi baru lahir perlu ASI sedikit tetapi sering sesuai tanda lapar, tidur telentang di alas rata tanpa benda longgar, serta lingkungan kamar bersuhu nyaman.
Tali pusar harus dijaga terbuka dan kering tanpa olesan; kulit dibersihkan bertahap dengan air hangat, sementara pakaian lembut dan bedong longgar mendukung kenyamanan bayi.
Pantau BAK, BAB, dan perubahan warna tinja; bersihkan area popok dari depan ke belakang, serta mata dengan kain bersih. Gejala infeksi perlu diperiksakan ke tenaga kesehatan.
Tidak sedikit Mama yang bingung atau tidak tahu harus melakukan apa saja terkait perawatan bayi baru lahir.
Meski begitu, Mama tidak perlu khawatir. Ada beberapa perawatan dasar bayi baru lahir yang penting diketahui untuk membantu menjaga bayi tetap nyaman, bersih, dan sehat.
Untuk memudahkan first time Mama, berikut Popmama.com telah merangkum 8 perawatan bayi baru lahir yang dihimpun dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Baby Center. Yuk, disimak, Ma!
Table of Content
1. Pemberian makan dan nutrisi

Pexels/RDNE Stock project Karena lambungnya masih sangat kecil, bayi baru lahir perlu menyusu dalam jumlah sedikit tetapi lebih sering.
Umumnya, bayi menyusu setiap 2-3 jam dengan durasi 5-30 menit. Berikan ASI sesuai kemauan dan tanda lapar yang ditunjukkan si Kecil.
Tanda bayi mulai lapar antara lain memasukkan tangan ke mulut, menggenggam tangan, atau mengeluarkan suara seperti mengecap dan ah uh ah.
Bayi baru lahir juga cenderung mudah mengantuk. Jadi, Mama mungkin perlu membangunkannya untuk menyusu, misalnya dengan mengusap lembut kepala atau punggung serta mengajaknya berbicara.
Salah satu target dalam pemenuhan nutrisi ini adalah diharapkan berat badan bayi kembali ke berat lahir saat pemeriksaan sekitar usia 2 minggu.
2. Tidur dan istirahat

Pexels/Kasia Mizera Bayi baru lahir bisa tidur hingga 20 jam dalam sehari, tetapi waktunya terbagi dalam beberapa periode, mulai dari sekitar 20 menit hingga 4 jam.
Saat bayi tidur, pastikan kamar bayi memiliki suhu yang tidak terlalu dingin atau panas, serta memiliki pencahayaan dan ventilasi yang cukup.
Selalu posisikan bayi tidur telentang untuk mengurangi risiko sudden infant death syndrome (SIDS). Gunakan alas tidur yang rata, tidak terlalu empuk, serta jauhkan bantal, mainan, selimut longgar, bumper, dan benda lain yang bisa menutupi wajah atau kepala bayi.
Mama juga bisa membedong bayi untuk membuat si Kecil lebih nyaman dan mengurangi kemungkinan refleks kaget yang membuatnya terbangun. Pastikan bedong tidak terlalu ketat, ya, Ma.
3. Perawatan tali pusar

Pexels/freestocks.org Setelah dipotong, tali pusar sebaiknya dibiarkan terbuka dan kering. Mama tidak perlu mengoleskan apa pun dan biarkan tali pusar terlepas dengan sendirinya.
Pastikan tali pusar tidak terkena urine dan tinja bayi. Mama juga perlu pastikan tali pusar untuk tidak tertutup dengan kasa, popok, maupun gurita.
Jika area sekitar tali pusar terlihat merah, bengkak, mengeluarkan nanah, atau berbau tidak sedap, segera periksakan bayi ke tenaga kesehatan karena bisa menjadi tanda infeksi.
4. Perawatan kulit bayi

Pexels/Jonathan Borba Bayi tidak perlu langsung dimandikan setelah lahir. Lapisan putih seperti lemak yang menempel di kulit bayi (vernix caseosa) berfungsi membantu melindungi kulit dan menjaga suhu tubuhnya.
Setelah sekitar 6 jam, bayi dapat dilap menggunakan kain dan air hangat.
Sebelum tali pusar lepas, Mama bisa memandikan bayi dengan metode sponge bath. Setelah tali pusat lepas, bayi dapat dimandikan dengan cara berendam menggunakan air hangat kuku serta sabun dan sampo khusus bayi.
Jangan menggunakan terlalu banyak produk mandi, ya, Ma karena kulit bayi masih sangat sensitif.
5. Memilih pakaian bayi

Magnific/pvproductions Pilih pakaian berbahan lembut dan mampu menyerap keringat. Bayi umumnya cukup memakai pakaian, popok atau celana.
Mama tidak perlu terus-menerus memakaikan sarung tangan atau kaus kaki karena indera peraba membantu bayi mengenali lingkungan di sekitarnya.
Bedong yang terlalu ketat juga sebaiknya dihindari karena dapat membatasi gerak bayi. Begitu pula dengan pemakaian gurita yang dapat membatasi pergerakan perut bayi.
6. Memantau BAK dan BAB bayi

Pexels/Gabi Oricco Bayi umumnya akan BAK dalam 24 jam pertama dan BAB paling lambat dalam 48 jam setelah lahir.
Setelahnya, bayi biasanya BAK sekitar 5-6 kali sehari, sedangkan pola BAB dapat berbeda-beda.
Bayi yang mendapat ASI bisa BAB beberapa kali sehari atau hanya sekali dalam beberapa hari, sedangkan bayi yang minum susu formula biasanya BAB beberapa kali sehari.
Warna BAB juga akan berubah dari hitam pekat, kemudian kehijauan, hingga kekuningan sekitar hari kelima.
Jika perubahan warna tidak terjadi, Mama sebaiknya berkonsultasi untuk memastikan bayi mendapatkan asupan ASI yang cukup.
7. Membersihkan area popok dan kemaluan

Pexels/Emma Bauso Saat mengganti popok, bersihkan area kemaluan bayi menggunakan kapas atau kain bersih yang dibasahi air.
Usap dari arah depan ke belakang, terutama pada bayi perempuan. Hindari mengusap dari area anus ke arah kemaluan agar kotoran tidak berpindah ke area genital.
8. Membersihkan mata, telinga, dan hidung

Pexels/Ferhat Kocakaya Mata bayi dapat dibersihkan menggunakan kapas atau kain bersih yang dibasahi air hangat, dengan gerakan dari arah hidung ke luar. Gunakan kapas yang berbeda untuk setiap mata.
Sementara itu, telinga bayi tidak perlu dikorek karena kotoran telinga biasanya dapat keluar dengan sendirinya. Bagian dalam hidung juga tidak perlu dibersihkan secara khusus, cukup lap bagian luarnya saat mandi.
Jika mata bayi terlihat merah, bengkak, atau mengeluarkan nanah, segera bawa si Kecil ke dokter karena bisa menjadi tanda infeksi.
Itulah 8 perawatan bayi baru lahir. Dengan memahami kebutuhan perawatan dasar si Kecil, Mama bisa lebih percaya diri dalam merawat si Kecil.
Semoga informasi ini bermanfaat untuk Mama dalam memberikan perawatan terbaik untuk si Kecil.





















