Jika menjemur bayi di tengah panas terik, maka kulit bayi berisiko terbakar karena kulit bayi masih sangat sensitif, Ma.
Contoh menjemur bayi yang baik misalnya di bawah teras atau di bawah pohon sehingga sinar matahari tidak langsung mengenai tubuh bayi. Kenapa? Yang dibutuhkan adalah sinar UVnya, bukan panasnya matahari.
Jadi, jika cuaca berawan, mendung, dan tidak ada panas, namun selama masih ada sinar matahari, Mama masih bisa menjemur bayi dan mendapatkan paparan sinar UV. Sinar UV bisa membantu bayi mendapatkan vitamin D yang baik untuk pertumbuhan tulang dan gigi bayi.
Selain itu, dr. Miza Afrizal, bayi di bawah usia 6 bulan tidak disarankan untuk dijemur di bawah matahari langsung. Hal ini karena bayi di bawah 6 bulan kulitnya sangat tipis dan melanin pada kulitnya belum terbentuk.
Melanin ini adalah bagian dari kulit yang fungsinya untuk memberikan warna kulit, mata, dan rambut. Melanin juga berfungsi untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV yang berbahaya.
Mengutip dari akun Instagram milik dr. Miza Afrizal (@mizaafrizal) menjemur bayi di bawah 6 bulan di bawah sinar matahari langsung bisa menyebabkan kulit bayi terbakar, kulit menjadi kemerahan, dan menggelap.
Bayi baru boleh dijemur di bawah sinar matahari ketika berusia lebih dari 6 bulan. Di usia itu, melamin pada kulitnya sudah terbentuk.
Cara menjaga dan merawat anak zaman dulu dan sekarang tentu bisa berubah seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan zaman, Ma.
Namun ada satu hal yang tidak berubah, yaitu semangat agar si Kecil selalu mendapatkan yang terbaik, sehat, dan tidak mudah sakit.
Itu penjelasan tentang soal boleh atau tidaknya menjemur bayi menurut IDAI.
Ingat, cara menjaga anak zaman dulu dan sekarang memang bisa saja berubah. Namun semangat kita tetap sama, yakni agar anak selalu mendapatkan yang terbaik di masanya