Normalkah Kalau Bayi Jarang Menangis? Cari Tahu Jawabannya Disini, Ma!

Bayi kan identik dengan tangisan. Nah, kalau ia tidak menangis, ada apa ya?

18 September 2019

Normalkah Kalau Bayi Jarang Menangis Cari Tahu Jawaban Disini, Ma
Freepik/A3pfamily

Bayi, terutama yang baru lahir, biasanya sering menangis. Menangis adalah salah satu cara bayi untuk berkomunikasi, memberitahu ke Mama bila ia merasa tidak nyaman.

Jadi, bayi menangis adalah hal yang normal. Namun bagaimana bila bayi mama tenang dan jarang menangis? Tentu timbul banyak pertanyaan di benak mama. Apakah normal? Apakah ia baik-baik saja?

Ada beberapa alasan di balik bayi yang jarang menangis, Ma. Jadi, sebelumnya, Mama harus mengenali bayi terlebih dahulu baru kemudian mengambil tindakan.

Popmama.com merangkum mengenai bayi yang jarang menangis untuk Mama.

Tangisan Bayi yang Normal

Tangisan Bayi Normal
pixabay.com/joffi

Sebuah penelitian yang mengamati 9.000 bayi dari seluruh belahan dunia menyimpulkan bahwa rata-rata bayi yang baru lahir menangis sebanyak 2 jam per hari.

Seiring dengan perjalanan waktu, bayi akan mulai mengenal lingkungan sekitarnya, bayi pun akan lebih merasa nyaman dan bisa beradaptasi. Hal ini membuat frekuensi tangisan bayi akan berkurang.

Fungsi pencernaan bayi juga mulai matang saat bertambah umur, ini berdampak pada berkurangnya tangisan karena nyeri perut.

Saat bayi berusia 6-8 minggu, secara normal Mama akan merasakan bahwa bayi lebih jarang menangis dibanding sebelumnya. Selanjutnya, pada usia 10-12 minggu rata-rata bayi menangis sekitar satu jam per hari atau berkurang setengahnya dibandingkan saat minggu-minggu awal setelah bayi lahir.

Penyebab Bayi Jarang Menangis

Penyebab Bayi Jarang Menangis
Freepik/Tonefotografia

Tangisan adalah cara bayi berkomunikasi. Ia menangis bila merasa lapar, sakit, kepanasan, dan hal lain yang membuatnya tidak nyaman.

Ada sebagian bayi yang memang jarang menangis. Hal ini normal karena setiap bayi unik dan memiliki temperamen yang berbeda-beda. Sifat dasar bayi sudah terbentuk dan mulai terlihat di minggu-minggu awal sejak ia dilahirkan.

Mengamati dan mencari sifat dasar bayi bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan, Ma. Mama dapat mengamati bagaimana bayi saat lapar, mengantuk, popoknya basah, atau kepanasan. Dengan mengetahui tanda-tandanya, Mama dapat mengambil tindakan untuk mengatasi tangisan bayi.

Jarang menangis juga bisa menjadi tanda bayi mengalami kelainan atau penyakit, Ma. Ini yang perlu diwaspadai.

Editors' Picks

Cara Mengetahui Temperamen Bayi

Cara Mengetahui Temperamen Bayi
freepik.com/Phduet

Untuk mengetahui temperamen bayi, beberapa hal berikut dapat membantu Mama:

  • Tingkat aktivitas

Apakah bayi Mama pada umumnya gelisah dan aktif atau cenderung tenang dan santai?

  • Keteraturan

Apakah bayi memiliki jadwal makan dan tidur dalam waktu yang kurang lebih sama, ataukah berbeda-beda setiap harinya?

  • Adaptasi

Bagaimana respons bayi saat berada di situasi baru atau menemui orang-orang baru? Apakah dia lebih senang saat melihat sesuatu yang baru atau tidak? Jika bayi Anda marah, apakah dia cepat pulih kembali?

  • Ambang sensitivitas

Seberapa sensitif bayi terhadap paparan cahaya terang, suara keras, atau hal-hal yang berbeda dari biasanya?

  • Mood

Apakah sehari-harinya bayi tampak senang atau lebih sering murung dan mudah marah?

  • Intensitas

Seberapa kencang tangisan bayi ketika dia sedang senang ataupun marah? Apakah bayi tampak mudah bergaul dengan orang baru atau lebih pemalu.

  • Pengalihan perhatian

Apabila bayi sedang lapar, misalnya, Apakah Mama dapat menghentikan tangisannya sementara dengan memberikan dot atau berbicara secara lembut padanya?

  • Ketekunan

Apakah bayi cenderung bermain dengan sejenis mainan dalam waktu yang lama, ataukah dia mudah bosan dan berganti-ganti mainan?

Contohnya, bila ambang sensitivitas rendah, bayi mungkin tidak suka bila lampu tiba-tiba dinyalakan atau mendadak kesal bila mendengar suara pesawat terbang melintas. Bayi yang sensitif terhadap sentuhan bisa jadi tidak suka digendong.

Sebagian karakter khas ini mulai terbentuk di minggu-minggu awal, Ma. Namun pembentukan karakter terjadi lebih lambat pada bayi yang lahir prematur.

Jadi, Mama tidak perlu cemas bila bayi jarang atau malah sering menangis.

Kapan Perlu Khawatir?

Kapan Perlu Khawatir
Freepik/A3pfamily

Biasanya, saat sakit bayi malah semakin sering menangis. Namun ada beberapa kondisi yang menyebabkan bayi malah jarang menangis saat sakit. Ini patut diwaspadai.

Kondisi hipoglikemia (kadar gula darah yang rendah) dapat menyebabkan bayi justru tampak lemah dan jarang menangis. Bayi bisa memiliki kadar gula darah yang rendah jika mengalami beberapa kondisi seperti kegemukan, bayi lahir dari ibu diabetes mellitus, atau bayi dengan kelainan bawaan yang memengaruhi hormon dan metabolisme. Namun kondisi ini jarang terjadi dan sudah terdeteksi sesaat setelah bayi dilahirkan karena pemeriksaan gula darah merupakan salah satu hal yang rutin dicek saat bayi baru lahir.

Kurang nutrisi juga merupakan salah satu alasan di balik bayi yang jarang menangis. Ini menyebabkan tubuh mengalami kondisi hipoglikemia. Terjadi karena bayi tidak memiliki cadangan nutrisi yang cukup dalam tubuh.

Selain itu, beberapa hal di bawah ini juga menjadi penyebab bayi jarang menangis:

  • Dehidrasi berat akibat muntah, diare, atau asupan cairan yang berat juga dapat membuat bayi yang awalnya rewel malah menjadi tidak menangis.
  • Kondisi sakit berat, misalnya infeksi berat yang awalnya membuat bayi rewel, jika dibiarkan juga dapat menyebabkan bayi lemas dan malah tidak menangis.
  • Masalah pada sistem saraf, seperti perdarahan otak atau infeksi otak, juga dapat menyebabkan bayi kurang aktif dan malah tidak menangis. Kondisi ini ditandai oleh adanya gejala lain seperti demam tinggi dan kejang.
  • Adanya kelainan di pita suaranya, sehingga bayi yang terlihat menangis namun tidak terdengar suara tangisannya.
  • Hipotiroid kongenital atau kekurangan hormon tiroid juga merupakan salah satu kondisi yang menyebabkan bayi jarang menangis. Selain itu, bayi juga menjadi kurang aktif dan lebih banyak tidur, lidah yang membesar serta terjulur, juga pusar menonjol dan kulit yang menjadi kering.
  • Bayi mengalami stres, yang disebabkan pengalaman menyakitkan dan menegangkan berulang yang dirasakannya awal kehidupan. Hal tersebut pun akan menimbulkan dampak negatif, yang berpengaruh pada perkembangan sistem saraf pusat.

Kuncinya adalah mengetahui karakter sehingga bila terjadi sesuatu di luar biasanya, Mama dapat mengambil tindakan yang tepat.

Bagaimana dengan Mama? Apakah bayi Mama sering menangis atau sebaliknya? Yuk komen di bawah.

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!