Sejak lahir, saluran pencernaan bayi dipenuhi oleh bakteri, yang berperan besar dalam kesehatannya. Walaupun para peneliti belum bisa memahami seluruh peran bakteri yang ada, namun mereka mengetahui bahwa antibiotik memiliki dampak pada saluran pencernaan.
Padahal, saluran pencernaan merupakan rumah bagi mikroorganisme, yang berfungsi untuk menjauhkan si Kecil dari penyakit bahkan hingga ia dewasa.
Antibiotik tentunya akan membantu si Kecil melawan penyakitnya. Namun, ternyata antibiotik juga merusak bakteri baik dalam perutnya, dan hal ini berujung pada berkurangnya respon kekebalan tubuh. Apalagi, ternyata terdapat sekitar 80 persen sel imun di dalam saluran pencernaan.
Menurut para ahli, penggunaan antibiotik pada bayi juga akan meningkatkan risiko infeksi, alergi, serta obesitas.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Luisa Mohle, dari Max-Delbrueck-Centre for Molecular Medicine di Jerman, pada tikus, antibiotik dengan spektrum luas yang bisa membunuh berbagai tipe mikrob, juga bisa memperlambat perkembangan sel otak di hipokampus tikus. Hipokampus adalah bagian otak yang mengatur sistem saraf serta ingatan.
Selain itu, antibiotik ini juga mengurangi jumlah sel darah putih yang digunakan untuk melawan virus yang memasuki tubuh. Namun, saat antibiotik dihentikan penggunaannya pada tikus, para peneliti mencatat bahwa otak tikus kembali pada keadan seperti semula.
Kita tak bisa pungkiri bahwa antibiotik berguna di saat-saat tertentu. Namun, bagaimana cara menyembuhkan saluran cerna setelah antibiotik merusaknya?
Berikut cara yang bisa Mama lakukan!
