Ini Dia 8 Mitos yang Menurut Dokter Harus Mulai Mama Tinggalkan!

Saat tumbuh gigi, bayi menjadi demam dan rewel. Mitos atau fakta, Ma?

31 Maret 2020

Ini Dia 8 Mitos Menurut Dokter Harus Mulai Mama Tinggalkan
Freepik/pch.vector

Mama bisa mendapatkan informasi dengan mudah di internet. Saking banyaknya, kadang terselip mitos-mitos yang dipercaya selama beberapa dekade. Karena muncul di mesin pencarian internet, mitos ini seringkali dijadikan pegangan oleh orangtua baru. 

Padahal, ada beberapa mitos yang tidak dapat diuji kebenarannya dan harus ditinggalkan demi kebaikan si Kecil.

Apa saja mitos-mitos yang menurut dokter harus mulai ditinggalkan oleh Mama? Yuk, simak ulasan Popmama.com berikut ini.

Mitos 1: Baby walker dapat membantu bayi untuk berjalan

Mitos 1 Baby walker dapat membantu bayi berjalan
livestrongcdn.com

Faktanya:

Menurut dokter anak, bayi sebaiknya tidak menggunakan baby walker karena 2 alasan.

Pertama, data terbaik menunjukkan bahwa dibandingkan dengan bayi tanpa baby walker, bayi yang menggunakan bantuan ini cenderung lebih lambat ketika belajar duduk, merangkak, atau berjalan sendiri.

Kedua, dengan bantuan baby walker, bayi dapat dengan mudah berjalan ke arah tangga dan terjatuh. Alih-alih membantu, alat ini dapat membahayakan bayi Mama.

Beberapa baby walker terbaru dirancang untuk membatasi risiko jatuh dengan tambahan rem dan bentuknya lebar sehingga sulit untuk melewati pintu atau tangga. Tetapi masih ada kemungkinan bahaya yang mengintai bayi, seperti membawa bayi dengan mudah ke kolam, menjangkau meja dan mengambil benda-benda berbahaya, atau tersangkut kabel.   

Untuk alasan ini, American Academy of Pediatrics (AAP) menentang produksi dan penjualan baby walker selama beberapa dekade. Untuk memastikan keamanan bayi, gunakan baby walker di tempat-tempat tertentu di rumah.

Mitos 2: Jus dan minuman berperisa baik untuk bayi dan balita

Mitos 2 Jus minuman berperisa baik bayi balita
dermaclara.com

Faktanya:

Setiap kali bayi dan balita haus, mereka diberi jus atau minuman berperisa. Apakah ini dapat meredakan rasa haus mereka? Jika bayi tidak dapat lepas dari jus, mereka juga kehilangan kemampuan untuk menikmati penghilang rasa haus yang asli yaitu air.    

Meskipun jus buah masuk dalam menu MPASI, konsumsi jus yang berlebihan, terutama yang mengandung banyak gula, dapat menyebabkan kerusakan gigi, perut kembung, dan obesitas. Ketika jus diberikan sebelum atau saat makan, ini membuat bayi kenyang, yang akhirnya menyebabkan bayi kekurangan berat badan.

Dokter merekomendasikan bayi dan anak usia 1 hingga 6 membatasi asupan jus mereka hingga 175 ml per hari. Dan bagi anak di atas usia 6 tahun konsumsi jus tidak lebih dari 350 ml sehari.

Untuk membantu bayi dan balita yang mengalami ketergantungan akan jus, Mama dapat menambah sedikit perasan lemon dan es. Jangan khawatir, Ma. Bayi dan balita tidak akan mengalami dehidrasi hanya karena ia tidak minum jus.    

Mitos 3: Roti bakar, nasi, pisang, dan puree apel adalah obat diare terbaik

Mitos 3 Roti bakar, nasi, pisang, puree apel adalah obat diare terbaik
Pexels/Pixabay

Faktanya:

Selama beberapa dekade, ini adalah diet yang direkomendasikan para dokter kepada bayi hingga orang dewasa yang menderita sakit perut atau diare. 4 jenis makanan ini lunak, rendah serat, lemak, protein dan tidak akan mengiritasi usus. Sehingga dianggap aman bagi mereka yang mengalami diare.

Namun, diet ini memberikan nilai gizi yang terbatas, menjadikannya lebih sulit untuk melawan infeksi dan mendapatkan kekuatan untuk melawan penyakit. Selain itu, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa cara ini paling baik dalam mengatasi diare (walaupun pektin dalam pisang mungkin membantu).

Alih-alih mengonsumsi 4 jenis makanan tersebut selama diare, sebaiknya bayi dan balita tetap mengonsumsi makanan seperti biasa kecuali jika mereka muntah, hindari makanan padat. Mereka juga sebaiknya menghindari semua jenis makanan manis yang dapat membuat diare bertambah parah.

Editors' Picks

Mitos 4: Menambahkan sereal ke botol bayi akan membantunya tidur

Mitos 4 Menambahkan sereal ke botol bayi akan membantu tidur
www.archanaskitchen.com
Ketika mama tidak bisa memberikan ASI, selalu sediakan makanan pendamping ASI (MPASI).

Faktanya:

Ini berawal dari pemahaman kuno yaitu jika bayi terbangun di malam hari, maka ia pasti lapar. Jadi jika Mama memberinya sereal sebelum tidur, bayi kenyang lebih lama dan tidak akan terbangun. Mitos ini dipercaya selama beberapa dekade, bahkan inilah yang menjadi nasihat dokter kepada orangtua baru yang membutuhkan banyak istirahat di malam hari.  

Namun hal ini tidak benar. Alih-alih membuat bayi kenyang lebih lama, memberi sereal atau makanan padat kepada bayi sebelum waktunya akan membahayakan bayi.

Sistem pencernaan bayi belum siap untuk makanan padat, termasuk sereal bayi, sampai sekitar usia 6 bulan. Memberi makan makanan padat lebih awal dapat menyebabkan tersedak, menghirup makanan ke paru-paru, obesitas, dan alergi makanan.

Ada satu pengecualian, dokter kadang-kadang akan menyarankan orangtua untuk mengentalkan susu formula atau ASI sebagai pengobatan untuk penyakit refluks gastroesofageal (GERD). Jika bayi menemui dokter untuk refluks, pastikan Mama mendapatkan arahan khusus sebelum mengganti botolnya.

Dalam hal ini, Mama perlu sabar, bayi akan memiliki ritme tidur yang baik pada waktunya.

Mitos 5: Tumbuh gigi menyebabkan demam dan diare

Mitos 5 Tumbuh gigi menyebabkan demam diare
Freepik/User6014584

Faktanya:

Sebagian orangtua menyalahkan tumbuh gigi karena demam, diare, dan batuk sepanjang waktu. Hal ini ternyata sudah berlangsung selama berabad-abad. Sebuah catatan kuno menunjukkan bahwa tabib pernah menduga tumbuh gigi menyebabkan kejang, muntah, kelumpuhan, dan bahkan kematian bayi dan balita.

Tumbuh gigi, yang dimulai sekitar 6 bulan dan berakhir sekitar 3 tahun, tampaknya menyebabkan air liur berlebih, bayi menggigiti semua benda, dan menjadi lebih rewel. Selain itu, diiringi dengan berkurangnya nafsu makan untuk makanan padat dan demam yang ringan.

Namun, tumbuh gigi tidak menyebabkan diare atau demam yang signifikan lebih dari 38.9°C. Ketika gejala-gejala itu terjadi pada seorang bayi dan balita, Mama harus mencari penyebab selain dari tumbuh gigi dan melakukan pengobatan jika dibutuhkan.

Mitos 6: Car seat diubah menghadap ke depan ketika bayi berusia 12 bulan

Mitos 6 Car seat diubah menghadap ke depan ketika bayi berusia 12 bulan
freepik.com

Faktanya:

Dari 1.500 anak yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di Amerika Serikat per tahun, setengahnya tidak menggunakan car seat di kursi mobil atau mengenakan sabuk pengaman. Tentu saja, menggunakan car seat atau sabuk pengaman saja belum cukup, keduanya harus digunakan dengan benar. Dan di sinilah kebingungan berawal.

Beberapa tahun yang lalu, AAP memperbarui pedomannya untuk merekomendasikan bahwa bayi dan balita duduk di car seat yang dipasang menghadap ke belakang hingga usia 2 atau sampai mereka mencapai ketinggian maksimum dan batas berat tertentu.

Penelitian telah menunjukkan bahwa bayi dan balita yang duduk menghadap ke belakang lima kali lebih aman daripada yang menghadap ke depan, salah satu alasannya karena melindungi kepala, leher, dan tulang belakang mereka.

Mungkin kelihatannya tidak nyaman dan menghambat mereka untuk menikmati pemandangan dari depan. Namun cara ini lebih aman dan bayi serta balita Mama akan beradaptasi.

Mitos 7: Cuaca dingin membuat bayi dan balita pilek

Mitos 7 Cuaca dingin membuat bayi balita pilek
Shutterstock/szefei

Faktanya:

Pilek jelas lebih sering terjadi selama musim hujan, tetapi sains jarang menemukan alasannya. Jika udara dingin menyebabkan pilek, alangkah baiknya untuk mengetahui, misalnya, mengapa ada bayi yang tidak pilek ketika memasuki musim hujan.

Jauh sebelum ditemukannya virus, Benjamin Franklin meragukan kearifan konvensional “catching a chill”. Sebuah studi yang melibatkan tikus yang kedinginan dan sukarelawan yang merendam kaki mereka di air dingin menyatakan bahwa suhu rendah berperan dalam penyebaran virus, tetapi hal ini juga masih diragukan kebenarannya.   

Satu teori yang dapat dipahami: Ketika udara dingin, semua orang berkumpul di tempat yang hangat dan menyebarkan kuman satu sama lain dan virus tertentu muncul di musim tertentu.

Mitos 8: Vaksin menyebabkan autisme

Mitos 8 Vaksin menyebabkan autisme
Freepik/wavebreakmedia

Faktanya:

Dari semua mitos di sini, ini yang paling berbahaya dan sulit diberantas, Ma. Orangtua yang memiliki masalah vaksin sering mengatakan kepada dokter bahwa mereka ingin melakukan lebih banyak penelitian sendiri sebelum mereka membuat keputusan.

Banyak penelitian dan artikel ilmiah yang menunjukkan bahwa vaksin campak, gondong, dan rubela (MMR) tidak menyebabkan autisme. Bahkan ada laporan terbaru yang menganalisis 20.478 artikel tentang keamanan vaksin dan tidak menyatakan hubungan antara autisme dengan vaksin. Yuk, tinggalkan mitos ini demi kebaikan si Kecil.

Mitos apa yang pernah Mama dengar? Yuk, komen di bawah ini.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.