Beda Vaksin Polio Tetes dan Vaksin Polio Suntik, Orangtua Harus Tahu!

Salah satu perbedaan vaksin polio tetes dan vaksin polio suntik adalah jenis virus di dalamnya

23 Juli 2024

Beda Vaksin Polio Tetes Vaksin Polio Suntik, Orangtua Harus Tahu
Freepik/freepik
joker with card

Vaksin polio merupakan salah satu jenis vaksin yang wajib diberikan pada bayi dan anak-anak. Vaksin ini diberikan dengan tujuan untuk mencegah penyakit dan penularan polio, yaitu penyakit yang menyerang sistem saraf pusat.

Penyakit polio termasuk penyakit yang serius dan berbahaya, Ma. Anak yang terkena polio memiliki risiko mengalami kelumpuhan bahkan hingga kematian. Oleh karena itu, bayi dan anak-anak wajib mendapatkan vaksin polio.

Berdasarkan jadwal vaksin yang dikeluarkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin polio diberikan pada anak sebanyak empat kali dan vaksin booster sebanyak satu kali.

Vaksin yang diberikan dapat berupa Oral Poliovirus Vaccine (OPV), yaitu vaksin tetes dan Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV), yaitu vaksin suntik.

Nah mesiki keduanya sama-sama dapat mencegah penyakit polio, tapi vaksin tetes dan vaksin suntik ini juga memiliki perbedaan, Ma.

Berikut Popmama.comtelah merangkum beda vaksin polio tetes dan vaksin polio suntik. Yuk, disimak, Ma!

Beda Vaksin Polio Tetes dan Vaksin Polio Suntik

Beda Vaksin Polio Tetes Vaksin Polio Suntik
pixnio.com/Amanda Mills

Vaksin polio terdiri dari dua jenis, yaitu vaksin polio tetes dan vaksin polio suntik. Berikut beda vaksin polio tets dan vaksin polio suntik:

  • Cara pemberian vaksin

Sesuai dengan namanya, vaksin polio tetes diberikan secara oral atau di teteskan ke dalam mulut sebanyak dua tetes. Sementara vaksin polio jenis suntik diberikan dengan menyuntikkan vaksin di otot lengan atau paha.

  • Jenis virus

Pada vaksin polio tetes, jenis virus yang ada di dalamnya adalah virus polio yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan, sedangkan pada vaksin polio suntik, jenis virus yang ada di dalamnya adalah virus polio yang sudah mati.

  • Respons tubuh pada vaksin

Jenis virus yang ada di dalam vaksin polio tetes adalah virus polio yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan, sehingga setelah masuk ke tubuh, virus tersebut bisa berkembang biak dan merangsang pembentukan kekebalan atau antibodi di dalam usus dan darah.

Pada vaksin polio suntik, isinya adalah virus polio yang sudah mati, sehingga tidak dapat berkembang biak dan tidak dapat membentuk antibodi di dalam usus. Vaksin polio suntik hanya membentuk antibodi di dalam darah saja.

  • Jadwal pemberian vaksin

Vaksin polio tetes diberikan sebanyak empat kali, yaitu saat bayi baru lahir, usia 2, 3, dan 4 bulan. Sementara untuk vaksin polio suntik diberikan saat usia 2, 4, 6-18 bulan, dan 6-8 tahun.

Editors' Pick

Mana Lebih Baik untuk Bayi, Vaksin Polio Tetes atau Vaksin Polio Suntik?

Mana Lebih Baik Bayi, Vaksin Polio Tetes atau Vaksin Polio Suntik
Unsplash/CDC

Jenis virus yang terdapat di vaksin polio tetes adalah virus polio yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan, sehingga virus tersebut bisa berkembang biak dan merangsang pembentukan antibodi di dalam usus dan darah.

Nah, jika seorang bayi mendapat vaksin polio tetes dan kemudian ada virus polio liar yang masuk ke dalam ususnya, maka virus polio liar tersebut akan dimatikan oleh antibodi yang sudah terbentuk di dalam usus dan darah. Karena virus polio liar tersebut telah mati di dalam usus, maka virus polio liar tidak akan ditemukan di dalam tinja dan tidak dapat menyebar ke anak-anak sekitarnya.

Sementara itu, vaksin polio suntik isinya adalah virus polio mati, sehingga tidak dapat berkembang biak di usus, dan antibodinya hanya terbentuk di dalam darah saja. Lalu jika ada virus polio liar yang masuk ke dalam usus bayi yang mendapat vaksin polio suntik, maka virus polio liar tersebut masih bisa berkembang biak di ususnya.

Meski virus polio liar tersebut bisa berkembang biak di usus, bayi tidak akan sakit. Hal ini karena ada antibodi di dalam darahnya. Namun, karena virus tersebut berkembang biak di usus, virus polio itu bisa menyebar ke anak-anak lain melalui tinja dan air yang telah terkontaminasi virus.

Oleh karena itu, menurut Ikatan Dokter Indonesia, di negara atau wilayah yang masih ada transmisi polio liar, semua bayi dan anak harus diberi virus polio yang diteteskan ke dalam mulut. Hal ini ditujukan agar ususnya mampu mematikan virus polio liar, sehingga menghentikan proses penyebaran.

Jadi, baik vaksin polio tetes maupun vaksin polio suntik sama-sama baik untuk bayi, Ma. Hanya saja pemberiannya disesuaikan dengan kondisi si Kecil dan kondisi di suatu daerah. Untuk itu, konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini, Ma.

Hal yang Perlu Diketahui Mengenai Pemberian Vaksin Polio

Hal Perlu Diketahui Mengenai Pemberian Vaksin Polio
Freepik

Jika si Kecil belum mendapatkan vaksin polio dan akan segera divaksin, Mama perlu memperhatikan beberapa hal.

Apabila saat akan mendapatkan vaksin bayi sedang sakit, disarankan agar menunda pemberian vaksinnya hingga bayi kembali sehat. Namun, jika hanya sakit ringan, seperti pilek atau batuk biasa tanpa demam, biasanya tetap boleh menjalani vaksinasi.

Lalu, menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) misalnya saat bayi diberikan vaksin polio tetes dan ia muntah, segera berikan lagi vaksin polio dengan dosis sama. Jika muntah berulang, berikan lagi pada keesokan harinya.

Selain itu, jika kemudian si Kecil menunjukan reaksi alergi setelah mendapatkan vaksin polio, disarankan agar bayi tidak mendapatkan vaksin polio lagi.

Apakah Setelah Bayi Diberikan Vaksin Polio akan Ada Efek Samping?

Apakah Setelah Bayi Diberikan Vaksin Polio akan Ada Efek Samping
Freepik/rawpixel.com

Setelah bayi mendapatkan vaksin polio, baik yang diteteskan ke mulut atau yang disuntikkan, bayi bisa mengalami demam ringan. Meski begitu Mama tidak perlu khawatir, karena demam ini bisa diatasi dengan obat sesuai anjuran dokter.

Selain itu, efek samping vaksin polio juga dapat menyebabkan diare. Namun, efek samping dari diare ini sangat jarang terjadi, Ma.

Itu tadi beda vaksin polio tetes dan vaksin polio suntik. Semoga bermanfaat, ya, Ma!

Baca juga:

The Latest