Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cara Dampingi Anak Remaja Hadapi Isu Body Image saat Puber
Magnific/pvproductions
  • Orangtua perlu peka pada keluhan remaja tentang berat badan, tinggi, atau bentuk tubuh sebagai tanda kecemasan body image selama pubertas.

  • Hindari menyuruh anak sekadar bersyukur serta mengomentari bentuk tubuh dan warna kulit; arahkan percakapan pada kepribadian, kemampuan, minat, kerja keras, dan kepedulian.

  • Yakinkan perubahan fisik pubertas adalah normal dan berbeda tiap orang, ajak berolahraga, serta beri dukungan dan pujian tulus agar anak merasa didengar dan diterima.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memasuki usia remaja, anak mulai mengalami banyak perubahan fisik yang pesat. Sayangnya, di era media sosial yang semakin marak, perubahan ini sering memicu kecemasan tersendiri bagi mereka.

Banyak anak remaja yang mulai membandingkan bentuk tubuhnya dengan orang lain. Tak jarang, hal ini membuat anak sering mengeluh merasa gendut, terlalu pendek, atau tidak percaya diri.

Dokter spesialis anak, dr. Citra, SpA, IBCLC, MKes, melalui media sosial pribadinya membagikan edukasi mengenai isu puber body image ini.

Menurutnya, kita sebagai orangtua memiliki peran penting untuk mencegah anak terjebak dalam tekanan penampilan tersebut, Ma. Alih-alih membiarkan anak merasa sendirian, Mama dan Papa perlu hadir memberikan dukungan.

Nah, melansir dari penjelasan dr. Citra terkait isu body image saat puber, berikut Popmama.com rangkumkan informasi selengkapnya.

1. Kenali tanda anak mulai cemas dengan body image-nya

Freepik

Isu body image pada remaja sering kali muncul tanpa kita sadari, Ma. dr. Citra menjelaskan bahwa anak yang tertekan dengan penampilannya biasanya akan melontarkan keluhan tertentu.

Mereka mungkin mengatakan hal seperti, "Aku nggak suka aku gendut," atau "Kok aku nggak setinggi teman-temanku?"

Bahkan, ada pula yang khawatir berlebihan soal tubuhnya, seperti bertanya, "Aku pendek, jangan-jangan stunting?"

Keluhan-keluhan ini adalah sinyal bahwa anak sedang berjuang dengan penerimaan dirinya. Nah, tugas Mama dan Papa di sini perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku dan ucapan mereka.

2. Hal yang sebaiknya dihindari orangtua

Freepik/yanalya

Saat anak mengeluh soal tubuhnya, reaksi pertama orangtua biasanya adalah menyuruh anak bersyukur. Bukan begitu, Ma, Pa?

Namun, dr. Citra dalam unggahannya justru mengingatkan bahwa menekan anak dengan kalimat seperti, "Bersyukur, masih mending kamu..." justru tidak membantu.

Selain itu, hindari kebiasaan mengomentari bentuk, ukuran, dan warna kulit, baik pada diri sendiri maupun orang lain di depan anak karena mereka akan merekam kebiasaan ini dan menganggap penampilan adalah hal yang paling penting.

Sebagai contoh bagi anak, kita juga sebaiknya tidak mengomentari kekurangan fisik orang lain agar mereka tidak merasakan hal serupa.

Fokuslah untuk membicarakan hal-hal yang lebih berharga, seperti kepribadian, kemampuan, minat, kerja keras, dan kepedulian.

3. Cara tepat mendampingi anak saat puber

Magnific/freepik

Masa pubertas bisa menjadi masa yang penuh kekhawatiran bagi anak. Karena itu, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah meyakinkan mereka bahwa perubahan fisik yang dialami adalah hal yang normal.

Setiap orang mengalami pubertas dengan kecepatan yang berbeda-beda, jadi ingatkan mereka untuk tidak perlu membandingkan diri dengan teman sebaya, Ma.

dr. Citra juga menyarankan tips lain sebagai bentuk menjaga kesehatan tubuh anak dengan sering mengajak mereka berolahraga bersama.

Aktivitas fisik ini mendorong anak untuk aktif bergerak dan bersenang-senang. Dengan begitu, anak dapat lebih menghargai kemampuan tubuhnya, daripada terlalu berfokus pada bagaimana tubuhnya terlihat.

4. Fokus pada kemampuan bukan penampilan

Magnific/freepik

Mama dan Papa juga bisa memanfaatkan momen bermain, membaca, atau menonton bersama sebagai sarana edukasi.

Jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk mengajarkan konsep penerimaan terhadap keberagaman bentuk tubuh. Tekankan prinsip bahwa "appearance is not everything" atau penampilan bukanlah segalanya.

Selain itu, pastikan untuk memberikan pujian yang tulus pada kepribadian, kemampuan, dan kerja keras anak, bukan hanya pada fisiknya.

Jika anak masih merasa tidak nyaman dengan bentuk tubuhnya, cobalah beri pengertian dengan lembut. Misalnya dengan mengatakan, "Gapapa kalau kamu masih belum suka bentuknya, tapi Mama Papa tetap bangga, sayang, dan percaya sama kemampuan kamu."

Menghadapi isu body image pada anak remaja memang membutuhkan kesabaran ekstra dari orangtua. Yang terpenting, pastikan anak selalu merasa didengar dan diterima, apa pun kondisi fisiknya.

Jangan langsung menghakimi anak dan mengomentari penampilannya ya, Ma, Pa. Dengan pendampingan yang tepat, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan menghargai dirinya sendiri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article