Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Marcel Siahaan dan Rima Melati
Popmama.com/Kevin Daniel Karalo

Intinya sih...

  • Perceraian bukan akhir tanggung jawab orangtua, anak tetap membutuhkan cinta dan perhatian dari kedua pihak

  • Keberhasilan co-parenting bergantung pada kematangan emosi, konsistensi, dan fokus pada kepentingan anak sehingga mereka tumbuh dengan rasa aman dan dicintai

  • Dengan komunikasi yang sehat dan cinta tanpa syarat, co-parenting bisa menjadi bentuk cinta yang berbeda namun tetap utuh bagi anak

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Memulai keluarga baru bukanlah akhir dari tanggung jawab sebagai orangtua dalam kehidupan sebelumnya. Justru di sinilah dimulai babak baru yang membutuhkan kematangan emosi dan komitmen kuat untuk tetap menghadirkan cinta tanpa syarat untuk anak.

Tidak semua pasangan yang berpisah mampu menjalani co-parenting dengan tepat, sehingga anak sering kali menjadi korban dari konflik yang belum selesai.

Rima Melati dan Marcell Siahaan adalah contoh pasangan yang berhasil menjalani co-parenting dengan baik. Meski hubungan pernikahan mereka berakhir, keduanya tetap menjaga komunikasi dan memastikan anak-anak merasa dicintai dari kedua belah pihak.

Berikut Popmama.com rangkum co-parenting sehat ala Rima Melati dan Marcell Siahaan yang bisa menjadi inspirasi.

1. Perceraian bukan masalah anak

Popmama.com/Kevin Daniel Karalo

Hal pertama yang perlu dipahami dalam co-parenting adalah bahwa perceraian merupakan masalah antara orangtua. Anak tidak memiliki kewajiban untuk menanggung beban dari keputusan yang diambil oleh orangtuanya.

"Perceraian itu bukan masalah anak. Hanya masalah di antara dua pasangan. Jadi jangan bikin segalanya sampai anaknya yang kena," ujar Rima.

Meski begitu, mempertahankan pernikahan yang sudah tidak bahagia demi anak juga tidak selalu menjadi solusi. Menurut Marcel, hal itu justru bisa menjadi “racun” secara perlahan bagi semua pihak.

Oleh karena itu, keputusan untuk bercerai atau bertahan sebaiknya dipertimbangkan secara objektif, dengan fokus utama menjaga stabilitas emosional anak.

2. Komunikasi adalah kunci utama

Popmama.com/Kevin Daniel Karalo

Komunikasi yang baik antara orangtua adalah fondasi utama dalam co-parenting. Tanpa komunikasi yang sehat, anak bisa merasakan ketegangan dan menjadi korban dari hubungan yang buruk.

"Komunikasi itu number one. Always making sure that your child is full of love," tegas Rima.

Co-parenting jarak jauh seperti yang dialami Rima dengan mantan suami di Singapura memiliki tantangan tersendiri, tetapi kunci utamanya tetap komunikasi yang konsisten dan penuh perhatian terhadap kebutuhan anak.

Marcell menambahkan bahwa ketika komunikasi tidak sejalan, sikap dan gestur orangtua akan terlihat dan anak pun menjadi korbannya karena stabilitas anak sangat bergantung pada cara orangtua berkomunikasi.

3. Cinta tanpa syarat dari kedua pihak

Popmama.com/Kevin Daniel Karalo

Anak harus tahu bahwa cinta dari kedua orangtuanya tetap ada, terlepas dari status hubungan orangtua mereka, dan cinta ini juga datang dari keluarga besar.

"Supaya dia tau bahwa cinta, unconditional love itu ada di antara kedua orangtuanya. Kita akan selalu ada di sampingnya kalo dia membutuhkan kita," jelas Rima.

Sikap responsif seperti ini menunjukkan bahwa anak adalah prioritas utama. Cinta bukan soal kesempurnaan, tetapi soal konsistensi hadir sehingga anak merasakan kasih sayang tetap utuh meski keluarganya tidak lagi sama seperti dulu.

4. Lihat situasi secara objektif dan tidak impulsif

Popmama.com/Kevin Daniel Karalo

Setiap kasus co-parenting berbeda dan membutuhkan pendekatan yang berbeda pula, sehingga penting untuk melihat situasi secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan.

"Berusaha untuk melihat sesuatu jangan hitam putih. Bener-bener naik ke helicopter view dulu, liat dari jauh. Jadi jangan impulsif," saran Marcell.

Helicopter view berarti tidak langsung mengambil kesimpulan atau memaksakan satu cara penyelesaian untuk semua masalah. Setiap situasi memiliki banyak angle yang harus dipertimbangkan secara pelan-pelan.

Ada masalah yang bisa diselesaikan dengan satu pendekatan, ada yang memerlukan cara lain, dan ada juga yang memang tidak bisa diselesaikan sama sekali.

Keputusan yang diambil harus selalu berdasarkan kepentingan anak, bukan ego atau dendam pribadi. Dengan melihat situasi secara objektif, kedua orangtua dapat menciptakan lingkungan yang lebih stabil untuk anak.

5. Tips menjalani co-parenting ala Marcell dan Rima

Popmama.com/Kevin Daniel Karalo

  • Terapkan pola asuh yang terbuka dan penuh kasih sayang

Marcell dan Rima menekankan pentingnya parenting yang berbeda dari generasi terdahulu. Dulu, orangtua jarang mengungkapkan kata "I love you" atau memuji anak secara langsung. Kini, mereka selalu memastikan anak merasakan kasih sayang, mulai dari hal kecil seperti saat mematikan telepon atau pergi ke luar.

Marcell juga menceritakan pengalamannya ketika masih kecil. Ayahnya bukan tipe yang bisa memuji langsung, tetapi ia selalu mendengar pujian ayahnya dari teman-temannya yang mengatakan bahwa ayahnya sangat bangga.

Namun, Marcell merasa tidak perlu mendengar pujian dari orang lain, ia ingin mendengarnya langsung dari ayahnya.Pengalaman inilah yang membuatnya bertekad membiasakan anaknya merasakan kasih sayang dan pujian langsung, agar tidak mengulang pola yang sama.

  • Jaga bonding dengan quality time sederhana

Co-parenting bukan berarti anak kehilangan momen kebersamaan.Marcell dan Rima membuktikan bonding keluarga tidak harus dengan aktivitas besar. Travelling, olahraga bersama, atau bahkan di rumah saja bisa menjadi cara membangun kedekatan.

Momen sederhana seperti ngobrol di ruang tengah atau ruang makan, makan bersama saat semua ada di rumah, atau bahkan mendengarkan anak bercerita tentang video yang mereka anggap lucu adalah cara membangun kedekatan. "Home is where your heart is," tambah Rima.

  • Selalu hadir untuk anak kapanpun mereka butuh

Kehadiran yang konsisten memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada anak bahwa mereka tidak sendirian, meskipun orangtua tidak lagi tinggal bersama. Marcell dan Rima selalu memastikan bahwa anak tahu mereka bisa diandalkan kapan saja.

Intinya, Ma, co-parenting sehat ala Marcell dan Rima dimulai dari kesadaran bahwa anak bukan masalah dalam perceraian, komunikasi adalah kunci, dan cinta harus tetap ada dari kedua pihak. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, anak dapat tumbuh dengan rasa aman dan dicintai meskipun orangtua tidak lagi bersama.

Keberhasilan co-parenting membutuhkan kematangan emosi, komitmen, dan konsistensi dari kedua orangtua. Ketika semua pihak fokus pada kepentingan terbaik anak, co-parenting bukan lagi beban tetapi menjadi bentuk cinta yang berbeda namun tetap utuh

Editorial Team