Edward Christian Kusuma, siswa British School Jakarta, yang juga jadi contoh lain dari mengikuti program IGN. Mamanya, Syilvia Octavia, dalam kesempatan yang sama juga mengungkapkan betapa banyak perubahan positif dan skill yang diperoleh Edward melalui pengalaman Model United Nations.
“Tentu banyak sekali perubahannya. Banyak skill yang didapatkan di Edward di sini, communication skills, negotiation,” kata Syilvia.
Namun, ada dua hal yang paling menonjol dalam apa yang ia rasakan pada putranya. Pertama adalah pengasahan leadership. “Saya melihat anak saya ini bisa me-lead dengan bagaimana dia bernegosiasi untuk bisa bergabung, bagaimana memberikan peluang untuk teman-temannya, itu hal-hal yang saya lihat wow gitu ya.”
Yang kedua adalah pembentukan karakter dan problem solving skill. Syilvia menceritakan momen ketika Edward menghadapi kegagalan dan masalah teknis selama konferensi.
“Dia juga mengalami kegagalan, ada saat di mana dia frustasi karena ada filenya hilang nggak sengaja kehapus sama temannya, akhirnya cepat-cepat bikin buat balikin. Itu salah satu problem solving skill yang nggak didapat di sekolah," tambahnya.
Bagi Syilvia, pengalaman menghadapi tantangan nyata dalam simulasi diplomasi ini sangat berharga. Ia melihat langsung bagaimana karakter putranya terbentuk, tidak hanya melalui kesuksesan, tapi justru melalui proses mengatasi kendala. Hal-hal seperti inilah, menurutnya, yang melengkapi pendidikan akademis di sekolah formal.
Kisah dari IGN dan testimoni orangtua William serta Edward menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter dan soft skill adalah investasi tak ternilai untuk masa depan anak.
Melalui wadah yang tepat, anak-anak tidak hanya diajak bermimpi lebih besar, tapi juga dibekali dengan kemampuan nyata untuk mewujudkannya, siap menjadi pemimpin di komunitas mereka sendiri dan bagi dunia.