Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
IGN conference
Dok. IGN

International Global Network (IGN) merayakan satu dekade perjalanannya sebagai organisasi pendidikan global yang mencetak generasi pemimpin masa depan.

Melalui program seperti Model United Nations (MUN), IGN telah membimbing ribuan anak muda dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Presiden IGN, Muhammad Fahrizal, menekankan bahwa perjalanan ini adalah tentang jutaan mimpi anak muda yang tumbuh bersama, yang membekali mereka dengan pemikiran kritis, komunikasi, dan kolaborasi lintas budaya.

Di momen spesial ini, IGN juga meluncurkan langkah strategis ke depan. Namun, cerita paling menarik justru datang dari orangtua yang melihat langsung transformasi anak mereka.

Seperti apa manfaat yang bisa didapat anak dengan mengikuti organisasi internasional ini? Berikut Popmama.com rangkumkan informasi selengkapnya.

1. Pendidikan global yang mewujudkan mimpi

Dok. IGN

Berdasarkan keyakinan bahwa mimpi anak muda tak terbatas geografi, IGN selama sepuluh tahun berkarya telah menjadi wadah pendidikan internasional yang fokus pada karakter dan wawasan global.

Fahrizal, menyatakan bahwa perjalan sepuluh tahun ini adalah tentang jutaan mimpi anak muda yang tumbuh bersama. Di ruang-ruang belajar IGN, peserta diajak berkolaborasi, berdiskusi isu global, dan memahami bahwa kepemimpinan sejati ditentukan oleh karakter.

Program-programnya, seperti Model United Nations (MUN), dirancang untuk mengasah pemikiran kritis, komunikasi, dan kepemimpinan. Ribuan alumninya yang membuktikan kesuksesan kini berkontribusi di berbagai bidang dalam mendorong IGN untuk terus berinovasi.

2. MUN berhasil cetak generasi muda berprestasi global

Dok. IGN

Sebagai program unggulan yang telah membuktikan diri sebagai tempat mengasah kemampuan diplomasi dan kepemimpinan, IGN belum lama ini meluncurkan AYIMUN Chapter, program MUN berbasis regional yang lebih dekat dengan komunitas pelajar.

Ekspansi konferensi internasional ke lokasi strategis seperti Maldives dan Geneva juga diumumkan, memperkuat komitmen IGN untuk menghadirkan pengalaman diplomasi yang nyata bagi calon pemimpin masa depan.

Melalui simulasi konferensi PBB ini, peserta berlatih public speaking, negosiasi, dan analisis isu global dalam lingkungan internasional.

Dua bukti keberhasilannya adalah William Tristan Mahendra dan Edward Christian Kusuma. William meraih Best Delegate di AYIMUN Kuala Lumpur, sementara Edward menyabet penghargaan serupa di Asia World MUN XII.

Prestasi mereka menunjukkan bagaimana platform IGN tidak hanya mengajarkan teori, tapi juga memberikan panggung nyata untuk bersaing dan berkembang di kancah global.

3. Jadi paket komplit untuk masa depan anak

Popmama.com/Novy Agrina

William Tristan Mahendra, siswa kelas IX Victory Plus, menunjukkan perkembangan signifikan setelah mengikuti program MUN IGN.

Mama, Meidia Safitri, dengan antusias berbagi pengamatannya terhadap transformasi yang dialami putranya. Ia menekankan bahwa nilai yang ditanamkannya pada William adalah tentang growth mindset dan kemampuan mendengar sebagai fondasi kepemimpinan.

“Bukan karena Maminya lawyer ya, sehingga anak juga harus sama,” ujarnya. “Tetapi leader yang baik itu bukan hanya memerintahkan, tapi mampu mendengar apa sih yang jadi keluhan dari timnya.”

Ia melihat bahwa program MUN IGN menawarkan “paket komplit” untuk pengembangan diri anak. Menurut Mama dari William, adanya MUN membuat anak juga dapat belajar public speaking, negosiasi, dan lobby.

"Jadi tidak hanya kelebihannya itu dapat teman banyak, tapi paket komplit dan hemat ya ini,” tambah Meidia dalam konferensi pers Panel Discussion - A Decade of Inspiring Global Youth Leaders.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti nilai edukasi praktis yang didapat William. Sebagai orangtua, ia terus menanamkan mindset pada anakknya bahwa apa yang ia pelajari saat ini merupakan bekal saat dirinya bekerja.

"Di sekolah tidak pernah diajarkan hal ini, karena concern mungkin berbeda karena lebih akademik. Tetapi anak jadi lebih balance dengan adanya soft skills (yang didapat dengan mengikuti MUN) ini.”

Baginya, pengalaman di IGN adalah investasi berharga untuk kemandirian William di masa depan.

4. Soft skills yang tak didapat di sekolah formal

Popmama.com/Novy Agrina

Edward Christian Kusuma, siswa British School Jakarta, yang juga jadi contoh lain dari mengikuti program IGN. Mamanya, Syilvia Octavia, dalam kesempatan yang sama juga mengungkapkan betapa banyak perubahan positif dan skill yang diperoleh Edward melalui pengalaman Model United Nations.

“Tentu banyak sekali perubahannya. Banyak skill yang didapatkan di Edward di sini, communication skills, negotiation,” kata Syilvia.

Namun, ada dua hal yang paling menonjol dalam apa yang ia rasakan pada putranya. Pertama adalah pengasahan leadership. “Saya melihat anak saya ini bisa me-lead dengan bagaimana dia bernegosiasi untuk bisa bergabung, bagaimana memberikan peluang untuk teman-temannya, itu hal-hal yang saya lihat wow gitu ya.”

Yang kedua adalah pembentukan karakter dan problem solving skill. Syilvia menceritakan momen ketika Edward menghadapi kegagalan dan masalah teknis selama konferensi.

“Dia juga mengalami kegagalan, ada saat di mana dia frustasi karena ada filenya hilang nggak sengaja kehapus sama temannya, akhirnya cepat-cepat bikin buat balikin. Itu salah satu problem solving skill yang nggak didapat di sekolah," tambahnya.

Bagi Syilvia, pengalaman menghadapi tantangan nyata dalam simulasi diplomasi ini sangat berharga. Ia melihat langsung bagaimana karakter putranya terbentuk, tidak hanya melalui kesuksesan, tapi justru melalui proses mengatasi kendala. Hal-hal seperti inilah, menurutnya, yang melengkapi pendidikan akademis di sekolah formal.

Kisah dari IGN dan testimoni orangtua William serta Edward menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter dan soft skill adalah investasi tak ternilai untuk masa depan anak.

Melalui wadah yang tepat, anak-anak tidak hanya diajak bermimpi lebih besar, tapi juga dibekali dengan kemampuan nyata untuk mewujudkannya, siap menjadi pemimpin di komunitas mereka sendiri dan bagi dunia.

Editorial Team