Ciri-Ciri Nomophobia pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Sebuah gangguan ketika anak tidak bisa "lepas" dari ponselnya

26 Februari 2021

Ciri-Ciri Nomophobia Remaja Cara Mengatasinya
Freepik/Travnikovstudio

Apakah Mama melihat anak mama yang cemas bila tak ada sinyal atau baterai habis? Jika iya, maka Mama harus waspada terhadap kondisi Nomophobia alias 'NO MObile PHone PhoBIA'. Fobia modern ini menggambarkan sebuah ketakutan yang dialami seseorang akibat tidak boleh atau tidak dapat menggunakan ponsel cerdasnya.

Istilah ini diciptakan pada tahun 2008 dalam sebuah penelitian yang berusaha untuk mengevaluasi kemungkinan gangguan kecemasan di antara individu yang menggunakan ponsel secara berlebihan.

Dengan mudahnya mendapatkan akses teknologi, fobia tanpa smartphone kini semakin meningkat di kalangan generasi milenial di seluruh dunia. Lalu seperti apa tanda-tanda nomophobia yang umum pada remaja?

Kali ini Popmama.com akan membahas ciri-ciri nomophobia beserta cara mengatasinya di bawah ini!

1. Merasa cemas saat baterai ponsel hampir habis

1. Merasa cemas saat baterai ponsel hampir habis
Freepik/Miksturaproduction

Dilansir dari Ibtimes.com, ciri-ciri nomophobia pada remaja adalah ketika Mama melihat anak merasa cemas saat menyadari bahwa baterai ponselnya semakin rendah, kecemasan tersebut juga membuat jantung anak berdebar kencang, dan telapak tangannya jadi berkeringat.

Ini terjadi sebagai akibat dari kekhawatiran bahwa anak yang mungkin sebentar lagi ia akan kehilangan akses untuk membuka media sosialnya, atau menjadi tidak dapat menghubungi seseorang. Perasaan cemas seperti itu adalah tanda nomophobia yang jelas.

2. Terlihat selalu membawa ponselnya kemanapun

2. Terlihat selalu membawa ponsel kemanapun
Freepik

Apakah Mama selalu melihat anak tidak pernah bisa meninggalkan ponsel, ke mana pun ia pergi bahkan termasuk ke kamar mandi sekalipun? Remaja dengan nomophobia tampak seperti tidak dapat hidup tanpa ponselnya.

Bahkan anak tak ragu untuk bermain handphone saat makan malam bersama keluarga, atau disaat melakukan aktivitas yang paling biasa dalam kehidupan sehari-harinya. Ciri-ciri ini menandakan obsesi anak pada ponselnya yang tidak sehat.

Editors' Picks

3. Kesal ketika tidak dapat mengakses smartphone-nya

3. Kesal ketika tidak dapat mengakses smartphone-nya
Freepik/User14159562

Kondisi nomophobia ini disebut sebagai “kecemasan terpisah dengan ponsel cerdas” yang membuat anak merasa sangat kesal, karena ia tidak bisa menggunakan ponselnya. Hal ini bisa terjadi karena baterai habis, jaringan yang hilang, atau ponselnya sedang melakukan update dalam jangka waktu yang cukup lama.

Ciri yang juga sesuai dengan kondisi ini adalah, anak merasa gelisah ketika ia diperintahkan untuk tidak boleh menggunakan smartphone-nya, seperti dilarang menggunakan ponsel saat makan malam, acara keluarga, dan saat belajar di rumah atau di sekolah.

4. Ketika “kecanduan” ponsel memengaruhi produktivitasnya

4. Ketika “kecanduan” ponsel memengaruhi produktivitasnya
Freepik/sunlight19

Ketergantungan pada smartphone terkadang membuat anak berisiko malas belajar, mengabaikan pekerjaan rumah, tidak konsenstrasi saat belajar, hingga nilai akademik yang turun. Ini disebabkan akibat ketidakmampuan anak untuk menolak memainkan ponselnya bahkan selama jam belajar.

Ketika remaja sudah kecanduan ponsel cerdasnya, hal tersebut bisa menjadi penghalang karena memaksakan diri untuk multitasking dan memengaruhi konsentrasinya. Pada akhirnya anak menghabiskan beberapa jam lebih untuk menyelesaikan tugas, ciri tersebut jelas menunjukkan nomophobia.

5. Saat anak memprioritaskan penggunaan ponsel cerdas daripada keselamatan

5. Saat anak memprioritaskan penggunaan ponsel cerdas daripada keselamatan
Freepik/Vejaa

“Kecanduan” pada ponsel ini bisa mengakibatkan anak lupa untuk menjaga dirinya, seperti bermain ponsel saat berjalan di pinggir jalan, saat naik sepeda, atau lebih parahnya lagi ketika anak sedang menyebrang. Ciri ini tentunya sangat membahayakan keselamatan anak saat di jalan.

Ketika remaja mama yakin bahwa membalas pesan atau bereaksi terhadap postingan media sosial lebih penting daripada keselamatannya saat menyebran, maka anak mama sudah terkena gangguan nomophobia.

Seperti yang Mama lihat di atas, nomophobia dapat mengganggu keselamatan anak, menurunkan kualitas hubungan keluarga, hingga nilai akademik yang menurun. Maka dari itu segera atasi gangguan ini dengan menerapkan berbagai hal.

Cara Mengatasi Nomophobia pada Remaja

Cara Mengatasi Nomophobia Remaja
Freepik

Nomophobia dapat mengganggu kelangsungan hidup seorang remaja, maka dari itu Mama perlu mengatasinya sejak dini sebelum kecanduan anak pada ponselnya semakin parah. Dilansir dari Healthline.com, ada berbagai cara untuk mengatasi nomophobia, yaitu:

Cognitive behavioral therapy (CBT)

Cognitive behavioral therapy (CBT)  atau terapi perilaku kognitif dapat membantu anak belajar mengelola pikiran dan perasaan negatif yang muncul saat anak tidak dapat menggunakan ponselnya.

Pikiran "Jika saya kehilangan ponsel, saya tidak akan pernah bisa berbicara dengan teman saya lagi" mungkin membuat anak merasa cemas dan takut. Tetapi terapi ini dapat membantu anak belajar menantang pikiran tersebut secara logis.

Misalnya, anak dapat berkata, "Kontak saya telah dicadangkan, dan di kemudian hari saya akan mendapatkan ponsel baru.” walaupun beberapa hari pertama pasti akan sulit, tetapi hal ini mengajarkan anak bahwa kejadian tersebut tidak akan menjadi akhir dari dunia.

Exposure therapy

Exposure therapy atau terapi pemaparan membantu anak untuk belajar menghadapi ketakutannya melalui pemaparan secara bertahap. Jika anak mengidap nomophobia, anak dihadapkan dengan pengalaman tidak memiliki atau tidak bisa menggunakan ponselnya secara perlahan-lahan.

Terapi ini mungkin tampak menakutkan pada awalnya, terutama jika anak sangat membutuhkan ponselnya untuk tetap berhubungan. Tetapi tujuan terapi ini sebenarnya bukanlah untuk sepenuhnya menghindari penggunaan ponsel, kecuali itu adalah tujuan pribadi anak.

Namun terapi pemaparan membantu anak untuk belajar mengatasi kepanikan yang ia alami saat tidak dapat mengakses ponselnya. Mengelola rasa takut ini dapat membantu anak untuk menggunakan ponsel dengan cara yang lebih sehat.

Pengobatan

Obat dapat membantu anak untuk mengatasi gejala nomofobia yang sangat parah, tetapi tidak mengatasi akar penyebabnya. Sehingga, menangani fobia dengan pengobatan saja tidak dapat membantu.

Bergantung pada gejala anak, psikiater mungkin merekomendasikan penggunaan obat untuk waktu yang singkat, pada saat anak belajar mengatasi gejalanya dalam terapi. Berikut ini beberapa contoh obat yang diberikan:

  • Beta blocker: obat ini dapat membantu mengurangi gejala fisik fobia, seperti pusing, kesulitan bernapas, atau detak jantung yang cepat. Anak mengonsumsi ini sebelum menghadapi situasi yang melibatkan ketakutannya. Misalnya, ketika anak harus ke lokasi dengan sinyal yang buruk.
  • Benzodiazepin: obat ini dapat membantu anak mengurangi rasa takut dan cemas ketika ia merasa tidak bisa menggunakan ponselnya. Obat ini bisa berisiko mengembangkan ketergantungan pada anak, jadi dokter biasanya hanya akan meresepkannya untuk penggunaan jangka pendek.

Perawatan diri

Anak juga dapat mengambil langkah untuk mengatasi nomofobia sendiri. Coba beberapa tips berikut ini:

  • Matikan telepon di malam hari untuk mendapatkan tidur yang lebih nyenyak. Jika anak membutuhkan alarm untuk bangun, jaga jarak dengan ponselnya sampai cukup jauh sehingga anak tidak dapat dengan mudah memeriksanya di malam hari.
  • Cobalah meninggalkan ponsel di rumah untuk waktu yang singkat, seperti ketika anak sedang berolahraga di pagi hari
  • Luangkan waktu untuk jauh dari semua teknologi. Cobalah duduk dengan tenang, menulis surat, berjalan-jalan, atau menjelajahi area luar ruangan baru.

Saat anak menjalankan perawatan untuk mengatasi fobianya, penting juga bagi Mama untuk mengajak anak melakukan kebiasaan baru agar gangguan nomophobianya tidak kembali lagi. Di bawah ini adalah tips untuk mencegah nomophobia pada remaja

Tips Mencegah Nomophobia pada Remaja

Tips Mencegah Nomophobia Remaja
Freepik

Anak yang mengalami nomophobia mungkin merasa sangat terhubung dengan ponselnya karena ia ingin menjaga kontak dengan teman-teman terdekatnya. Ini memang bisa mempersulit jarak anak dengan ponselnya.

Maka dari itu, Mama bisa mencegahnya dengan mempertimbangkan untuk melakukan hal berikut:

  • Dorong teman atau keluarga untuk melakukan interaksi secara langsung dengan anak, jika memungkinkan. Rutin melakukan pertemuan, jalan-jalan, atau rencanakan liburan akhir pekan.
  • Jika sahabat dekat anak tinggal di kota atau negara yang berbeda, cobalah untuk menyeimbangkan waktu yang anak habiskan di ponsel dengan aktivitas lain. Luangkan waktu untuk mengajak anak melakukan aktivitas lain saat ia harus mematikan ponselnya.
  • Cobalah mengajak anak lebih banyak berinteraksi secara langsung dengan orang yang secara fisik dekat dengan anak. Lakukan percakapan singkat dengan mengobrol bersama tetangga, atau memuji pakaian seseorang. Hubungan ini tidak selalu mengarah pada persahabatan tetapi bisa membuat anak untuk aktif berbicara secara langsung dibanding dari ponselnya.

Nah itulah beberapa ciri penting nomophobia yang perlu Mama ketahui dan bagaimana cara mengatasi serta mencegahnya. Nomophobia mungkin belum diklasifikasikan sebagai kondisi kesehatan mental resmi. Namun, para ahli sepakat masalah era teknologi ini semakin mengkhawatirkan yang dapat memengaruhi kesehatan mental seorang anak.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.