Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Kalimat Ini Tanpa Disadari Menurunkan Kepercayaan Diri Anak
Magnific/peoplecreations
  • Ucapan yang menyalahkan, memberi label negatif, meragukan kemampuan, atau membandingkan anak dapat membuat kegagalan terasa sebagai identitas dan memicu rasa takut mencoba.

  • Mengambil alih tugas, meremehkan karya, serta mengejek fisik atau kesalahan—meski bercanda—berisiko membuat anak merasa tidak dihargai, malu, dan kehilangan rasa aman.

  • Orangtua dianjurkan mengganti kritik dengan dukungan: fokus pada proses dan solusi, beri ruang mandiri, hargai usaha, hindari beban emosional, serta validasi perasaan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap orangtua tentu menginginkan anak remajanya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tangguh, dan berani mengekspresikan dirinya.

Namun, tanpa disadari, beberapa kalimat yang sering terlontar saat emosi atau bahkan saat bercanda justru bisa melukai perasaan si Anak secara mendalam, lho!

Penggunaan label negatif, kritik yang menjatuhkan, hingga lelucon tentang fisik ternyata dapat merusak rasa percaya diri anak hingga ia dewasa.

Sudah Popmama.com rangkum kalimat yang menurunkan kepercayaan diri anak. Disimak ya Ma!

1. "Kenapa kamu salah terus sih? "

Unsplash/Vitaly Gariev

Saat anak mama melakukan kekeliruan. Bila kalimat seperti ini secara spontan terucap karena gemas melihat hasil kerja anak yang belum sesuai harapan.

Respon ini sama sekali tidak membantu anak memahami di mana letak kesalahannya, lho, Ma! Dengan pertanyaan ini justru memberikan tekanan emosional yang berat untuk anak.

​Kalimat ini membuat anak menyimpulkan bahwa kegagalan adalah sifat bawaan atau identitas dirinya, bukan sekadar bagian alami dari proses belajar.

Si Anak akan merasa bahwa dirinya selalu mengecewakan, hingga takut dan ragu untuk mencoba hal-hal baru di masa depan karena dibayangi ketakutan akan dimarahi lagi.

​Fokus orangtua sebaiknya dialihkan dari kesalahan menuju solusi dan proses pembelajarannya. Ubah kritik yang merusak ini menjadi dukungan emosional, seperti

​"Nggak apa-apa ya, namanya juga lagi belajar. Yuk, kita lihat bareng-bareng di mana letak kelirunya supaya bisa kita perbaiki sama-sama."

2. "Sini sama Mama aja, kamu belum bisa"

Pexels/RDNE Stock project

Mungkin niat awal Mama ingin membantu supaya pekerjaan cepat selesai dan mencegah anak merasa kesulitan.

Namun, mengambil alih tugas anak secara mendadak sambil mengucapkan kalimat ini justru dapat mengikis rasa percaya dirinya secara perlahan.

​Sebab begini, Ma secara tidak langsung ketika Mama mengucapkan kalimat ini, terasa seperti merampas kesempatan anak untuk belajar mandiri dan menguji kemampuannya sendiri.

Yang secara tidak langsung, anak menangkap pesan bahwa Mama tidak percaya pada kemampuannya.

Hal ini dapat memicu anak remaja jadi mudah menyerah, serta merasa dirinya tidak cukup kompeten untuk melakukan banyak hal.

​UNICEF menyarankan orangtua untuk memberikan ruang dan kepercayaan kepada anak. Hal ini bukan hanya membangun rasa percaya diri melalui usahanya sendiri tetapi juga kemandirian pada anak, Ma.

Ubah ucapan tersebut dengan kalimat yang memberikan dorongan dan rasa aman, seperti:

​"Coba dulu pelan-pelan ya. Kalau butuh bantuan atau merasa kesulitan, tinggal bilang ke Mama."

3. "Kamu salah, harusnya seperti ini"

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

Mengoreksi kekeliruan anak memang merupakan bagian dari tugas orangtua. Namun, menyalahkan anak secara langsung tanpa memberikan ruang diskusi atau dapat dirasakan sebagai bentuk penolakan oleh si Kecil.

​Akibatnya, anak merasa ide, pandangan, maupun usahanya tidak pernah dihargai.

Hal ini membuat anak terbiasa bergantung pada validasi orang lain karena merasa sudut pandangnya selalu salah.

​Proses koreksi hendaknya diawali dengan menghargai usaha yang telah dilakukan anak terlebih dahulu sebelum memberikan masukan. Ubah kritik langsung ini menjadi ajakan berdiskusi yang membangun:

​"Usaha kamu sudah bagus banget! Tapi kalau kita coba pakai cara yang ini, kira-kira hasilnya gimana ya?"

4. "Ini apa kok aneh?"

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

Mengritik atau meremehkan ekspresi diri anak dapat mematikan daya imajinasi dan kreativitasnya secara mendadak.

Anak akan merasa malu, bersalah atas ide yang dimilikinya, serta enggan untuk bereksplorasi lagi.

Dalam jangka panjang, hal ini membuat anak remaja takut tampil beda dan cenderung menyembunyikan ide-ide kreatifnya dari orang lain.

​Menurut UNICEF, orangtua disarankan untuk selalu menunjukkan minat dan rasa ingin tahu yang positif terhadap cara pandang anak.

Ubah penilaian subjektif ini menjadi pertanyaan terbuka yang memvalidasi karyanya:

​"Wah, unik banget! Coba ceritain ke Mama, ini gambar tentang apa?"

5. "Memangnya kamu bisa?"

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

Bila Mama merespon anak dengan Kalimat ini ketika ia ingin mencoba hal baru. Hal ini meruntuhkan rasa percaya diri anak dan menanamkan keraguan besar pada kemampuannya sendiri.

Anak akan menyimpulkan bahwa dirinya tidak berbakat dan tidak cukup baik di mata orangtuanya.

Anak remaja pun bisa terkena keraguan diri berlebih yang membuat anak mudah menyerah sebelum berjuang.

​Ubah keraguan menjadi suntikan semangat dan rasa percaya:

​"Mama yakin kamu pasti bisa kalau mau mencoba dan rajin berlatih. Semangat ya, Mama dukung!"

6. "Mama sudah melakukan banyak hal untuk kamu"

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

Kalimat ini kerap terlontar saat orangtua merasa kecewa ketika anak remaja tidak menuruti keinginan Mama.

Niat awal mungkin ingin mengingatkan anak supaya belajar bersyukur dan menghargai kerja keras orangtua.

Namun penyampaiannya justru berisiko memberikan beban emosional yang keliru.

​Kalimat ini menghadirkan bentuk kasih sayang yang terasa bertolak belakang dari prinsip unconditional love dari Mama.

Si Anak akan menyerap pesan bahwa pengasuhan dan perhatian yang ia terima adalah sebuah "utang" yang harus dibayar balik.

Dampaknya, anak merasa dirinya adalah beban keluarga dan tertekan karena harus selalu menyenangkan orangtua demi membayar utang emosional tersebut.

​Penjelasan UNICEF, mengenai parenting bahwa anak perlu merasakan rasa aman dan ia dicintai serta dirawat secara tulus tanpa syarat.

Ucapkan kalimat yang menegaskan rasa sayang tanpa membebankan rasa bersalah:

​"Mama melakukan ini semua karena sayang banget sama kamu dan mau yang terbaik buat adik. Jadi, yuk kita sama-sama saling menghargai ya."

7. "Mama cuma bercanda kok"

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

Kalimat ini sering kali diucapkan sebagai dalih setelah orangtua melontarkan ejekan, si Anak di depan orang lain.

Maksud awal mungkin sekadar mencairkan suasana. Namun bagi anak, dampak dari lelucon tersebut jauh dari kata lucu.

​Mengolah ejekan terkait fisik maupun kesalahan anak sebagai bahan tertawaan dapat merusak citra diri anak.

Anak remaja merasa dipermalukan, tidak dihargai, dan kehilangan rasa aman dari orangtuanya sendiri.

Lelucon yang dianggap sepele oleh orangtua ini berisiko berubah menjadi rasa tidak percaya diri serta rasa cemas yang bertahan hingga bertahun-tahun ke depan.

​Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), orangtua harus sensitif terhadap perasaan anak dan tidak mengabaikan luka emosional akibat ejekan.

Jika tanpa sengaja terlontar ucapan yang menyakiti hatinya, tundukkan gengsi dan berikan permohonan maaf yang tulus:

​"Maaf ya kalau kata-kata Mama tadi bikin kamu nggak nyaman dan sedih. Mama janji nggak akan mengulangi bercandaan seperti itu lagi."

8. "Kamu itu pemalas banget, lelet, dan ceroboh!"

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

Saat emosi memuncak melihat tugas sekolah yang terlambat diselesaikan, label negatif sering kali secara refleks terucap.

Namun, memberikan julukan buruk pada diri anak remaja justru menjadi senjata utama yang menurunkan konsep diri dan kepercayaan dirinya.

​Ketika orangtua melontarkan kalimat ini, anak tidak menyerapnya sebagai teguran atas perilakunya. Melainkan menyerapnya sebagai label identitas diri.

Anak akan percaya bahwa dirinya memang seorang pemalas, lelet, atau ceroboh. Akibatnya, si Anak berhenti berusaha untuk menjadi lebih baik karena merasa label buruk itu sudah menjadi sifat aslinya.

​American Academy of Pediatrics (AAP), menyarankan jika mengoreksi tindakan anak, lakukan tanpa pernah memberi label negatif pada pribadi atau identitasnya. Pisahkan antara perilaku buruk anak dengan diri anak itu sendiri:

​"Tindakan kamu yang menunda-nunda beres-beres ini bikin kamar jadi makin berantakan. Yuk, kita rapihkan bareng-bareng sekarang supaya nyaman."

9. "Lihat dia, kenapa kamu nggak bisa seperti itu?"

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

Orangtua mungkin berniat memberikan motivasi pada anak supaya mau belajar dari pencapaian temannya.

Sayangnya, alih-alih termotivasi, kalimat membanding-bandingkan ini justru menjadi salah satu pemicu utama rusaknya kesehatan mental dan rasa percaya diri anak.

​Di mata anak, pesan yang ditangkap bukanlah dorongan untuk menjadi lebih baik.Tetapi kepasrahan bahwa dirinya adalah sosok yang selalu mengecewakan.

Membanding-bandingkan tidak pernah membangun karakter anak, ya, Ma!

Melainkan hanya menanamkan rasa benci, iri hati, dan dendam. Anak akan merasa usahanya tidak pernah dihargai dan tumbuh dengan kecemasan berlebih karena selalu merasa kurang dibanding orang lain.

​Supaya orangtua fokus pada keunikan, potensi,l daripada membandingkannya dengan anak lain. Hargai pencapaian pribadinya sekecil apa pun:

​"Mama bangga banget melihat usaha kamu hari ini. Yuk, kita fokus tingkatkan kemampuan kamu sendiri step-by-step ya!"

10. "Jangan menangis, begitu saja kok nangis"

Popmama.com/Syiva Amalia/AI

Mama meremehkan tangisan anak remaja justru memberikan dampak negatif bagi perkembangan emosionalnya.

​Sebab bagi anak, emosi dan perasaan yang ia rasakan itu sangat nyata. Ketika orangtua menyebut perasaannya sebagai "sepele" atau "bukan apa-apa", anak merasa emosinya tidak divalidasi.

Jika kalimat ini terus-menerus diucapkan, lama-kelamaan anak akan berhenti mengekspresikan perasaannya kepada orangtua karena merasa tidak akan didengar atau dipahami.

​Padahal UNICEF menekankan pentingnya memvalidasi emosi anak terlebih dahulu sebelum mengajarkannya cara menenangkan diri, lho, Ma!

Berikan rasa aman dan tunjukkan empati:

​"Mama tahu kamu lagi sedih/kecewa banget ya. Nggak apa-apa, nangis dulu aja. Kalau udah lega, baru kita ceritain bareng-bareng ya."

Itulah kalimat yang menurunkan kepercayaan diri anak. Dengan mulai mengganti kalimat-kalimat kritikal menjadi bentuk dukungan yang positif. Mama tidak hanya menjaga kesehatan emosional anak remaja tapi juga membangun pondasi rasa percaya diri yang kokoh hingga ia dewasa kelak.

Curated For You

Editorial Team

Related Article