Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Kisah Yuma Soerianto, Anak Indonesia Jadi Developer Apple di Usia 10 Tahun
Instagram.com/yumasoerianto
  • Yuma Soerianto, anak asal Indonesia yang tinggal di Australia, mulai belajar coding sejak usia 6 tahun secara otodidak dan menciptakan aplikasi pertamanya ‘Kid Calculator’ di usia 9 tahun.

  • Ia meraih beasiswa Apple WWDC selama lima tahun berturut-turut, menjadi pemenang termuda pada 2017, serta menerima berbagai penghargaan internasional termasuk 74 Ikon Pancasila 2019.

  • Saat ini Yuma menempuh studi S1 di Stanford University jurusan Computer Science (Conversion), setelah mengembangkan lebih dari sepuluh aplikasi iOS yang diakui secara global.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yuma Soerianto merupakan seorang anak muda asal Indonesia yang kini tinggal di Australia. Ia berprofesi sebagai programmer dan telah mendapatkan beasiswa dari Apple Worldwide Developers Conference (WWDC) selama lima tahun berturut-turut pada 2017-2021. 

Yuma juga menjadi pemenang termuda pada WWDC 2017 yang ditampilkan oleh Apple CEO Tim Cook dalam presentasi keynote-nya.

Anak kelahiran 2007 ini menjadi salah satu penerima penghargaan 74 Ikon Pancasila 2019 yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. 

Kini, Yuma tengah mengenyam pendidikan S1 di Stanford University jurusan Computer Science (Conversion).

Simak informasi selengkapnya telah Popmama.com siapkan mengenai sosok Yuma, programmer asal Indonesia yang jadi developer Apple. 

1. Yuma tertarik coding sejak umur 6 tahun dan belajar secara otodidak

Instagram.com/yumasoerianto

Yuma mulai menunjukkan ketertarikannya pada dunia coding sejak usia 6 tahun, saat ia melihat sang Papa menulis kode. Rasa penasaran itu berkembang menjadi minat yang serius hingga akhirnya ia mulai belajar secara mandiri di usia 8 tahun. 

Ia memanfaatkan berbagai sumber daring, seperti YouTube dan bahkan mengikuti kursus online dari Stanford untuk memperdalam kemampuannya dalam dunia coding.

2. Menciptakan aplikasi pertama di usia 9 tahun

Instagram.com/yumasoerianto

Tak butuh waktu lama, Yuma berhasil menciptakan aplikasi pertamanya pada tahun 2016 yang diberi nama ‘Kid Calculator’.

Aplikasi ini dirancang untuk membantu anak-anak belajar berhitung dengan cara yang menyenangkan, menggunakan animasi alien dan roket sebagai daya tarik utamanya.

Pada tahun 2017, Yuma mendapatkan kesempatan untuk mengikuti WWDC, sebuah ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Apple untuk para developer dari seluruh dunia. 

Dalam kesempatan tersebut, ia berhasil membuat aplikasi perjalanan udara dari Australia ke Amerika Serikat dalam waktu singkat. Hal ini menunjukkan kemampuan teknisnya sejak usia dini.

Menariknya, sebelum membuat aplikasi, Yuma terlebih dahulu belajar dengan membuat permainan berbasis web. Cara ini membantunya memahami dasar-dasar coding dengan lebih mudah. 

Selain itu, ia juga aktif membagikan perjalanan belajarnya melalui media sosial, sehingga bisa menginspirasi banyak orang.

3. Raih banyak penghargaan berkat aplikasi buatannya

Instagram.com/yumasoerianto

Selama menekuni dunia programming, Yuma berhasil meraih beasiswa WWDC selama lima tahun berturut-turut dari 2017 hingga 2021.

Kesempatan ini juga membawanya bertemu dengan berbagai tokoh inspiratif dunia, termasuk Tim Cook sebagai CEO Apple.

Tak hanya itu, Yuma juga menerima penghargaan World Youth Forum Award yang diberikan oleh Presiden Mesir, Abdel Fattah El-Sisi. 

Sejumlah aplikasi yang ia kembangkan juga meraih berbagai penghargaan, seperti App Store of the Day Award untuk ‘Let’s Stack AR!’ serta Victorian Games and Apps Challenge 2018 untuk ‘Swipy Trash’. Saat berkunjung ke Indonesia, ia juga menerima penghargaan 74 Ikon Pancasila 2019.

4. Diakui sebagai developer termuda di dunia yang berfokus pada ekosistem Apple

Instagram.com/yumasoerianto

Yuma Soerianto merupakan seorang developer aplikasi iOS yang telah diakui secara internasional.

Sebagai salah satu iOS developer termuda di dunia, Yuma dikenal fokus mengembangkan aplikasi dalam ekosistem Apple. Ia telah menghasilkan sejumlah karya, seperti ‘Let’s Stack AR’, ‘Swipy Trash’, dan ‘Hunger Button’.

Semangat belajarnya yang tinggi membawanya hingga kini melanjutkan pendidikan di Stanford University.

Berkat pencapaian tersebut, Yuma kini dikenal sebagai salah satu ikon programmer muda Indonesia yang sukses menembus panggung teknologi global.

5. Kini berkuliah di S1 Stanford

Pada Januari 2025, Yuma mengumumkan kepada publik bahwa dirinya sebagai mahasiswa S1 Stanford University jurusan Computer Science (Conversion).

Ini merupakan pencapaian luar biasa bagi developer muda Indonesia yang telah menembus dunia Apple dan Stanford. 

“Perjalananku dengan Stanford dimulai ketika aku berusia delapan tahun. Saat itu, saya belajar pengembangan aplikasi melalui kelas online gratis. Sejak itu, aku bertekad untuk bergabung dengan sekolah bergengsi ini. Kalian bisa membayangkan betapa senangnya aku akhirnya bisa belajar di sana secara langsung sepuluh tahun kemudian,” cerita Yuma dalam caption Instagramnya. 

6. Daftar aplikasi yang telah diciptakan Yuma Soerianto

Instagram.com/yumasoerianto

Sejak menciptakan aplikasi pertamanya di tahun 2016, Yuma telah mengembangkan total 11 aplikasi berbasis iOS yang dirilis di App Store. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Kid Calculator

Kid Calculator adalah aplikasi pertama yang dibuat Yuma saat berusia sembilan tahun. Aplikasi ini berfungsi sebagai kalkulator untuk melakukan berbagai jenis perhitungan matematika dan menggunakan cara seru dengan melibatkan animasi alien serta roket. 

  • Let's Stack AR!

Let's Stack AR! Adalah aplikasi permainan yang dibuat oleh Yuma saat berusia 10 tahun. Dalam permainan ini, pengguna dapat menumpukkan balok diatas balok lainnya dan membuat menara yang tinggi. 

Aplikasi permainan tersebut menggunakan fitur Augmented Reality (AR) yang di mana kreasi balok dapat dibandingkan dengan objek-objek realita lainnya. Aplikasi ini telah memenangkan App Store of the Day Award.

  • Weather Duck

Weather Duck adalah aplikasi yang memberitahu penggunanya tentang ramalan cuaca dan rekomendasi pakaian untuk dipakai pada cuaca tersebut. Menariknya, aplikasi telah diadaptasi pada Apple Watch dan Widget. 

  • Ant Panic AR

Ant Panic AR adalah aplikasi permainan yang menggunakan fitur Augmented Reality (AR). Yuma menciptakan aplikasi terinspirasi dari sebuah kaca pembesar yang ia dapatkan. 

Pada aplikasi tersebut, pengguna dapat memanfaatkan telepon genggamnya sebagai kaca pembesar yang digunakan untuk memusnahkan robot-robot semut pada permainan tersebut.

  • Swipy Trash

Swipy Trash adalah sebuah aplikasi game yang dikembangkan oleh Yuma bersama beberapa teman sekelasnya saat masih duduk di kelas 6 SD. 

Game ini memanfaatkan teknologi Augmented Reality (AR) dengan tujuan untuk membantu menjaga kelestarian habitat hewan lokal melalui aktivitas membersihkan dan memilah sampah. 

Aplikasi ini pun sukses meraih penghargaan dalam ajang Victorian Games and Apps Challenge 2018.

  • Let's Stack

Let’s Stack merupakan game yang membantu karakter anak bebek dalam membangun menara setinggi mungkin dengan menggunakan balok-balok berwarna. 

Permainan ini juga dilengkapi dengan fitur papan peringkat, sehingga para pengguna dapat saling bersaing dan mengetahui siapa yang berhasil membangun menara paling tinggi.

  • Hunger Button

Hunger Button adalah aplikasi permainan yang memudahkan pengguna saat kesulitan menentukan tempat makan. Melalui aplikasi ini, pengguna cukup melakukan satu klik untuk mendapatkan rekomendasi tempat makan secara acak yang berada di sekitarnya.

  • Pocket Poké

Pocket Poké merupakan aplikasi yang berfungsi sebagai panduan informasi mengenai berbagai jenis karakter Pokémon.

  • WaveSavr

WaveSavr adalah aplikasi Mac pertama yang dikembangkan oleh Yuma. Aplikasi ini dirancang khusus untuk membantu para programmer atau developer dalam membuat file katalog ShazamKit secara otomatis.

  • Fireworks Builder

Fireworks Builder merupakan game yang memanfaatkan teknologi Augmented Reality (AR). Dalam permainan ini, pengguna dapat merancang kembang api dengan mencampurkan bahan-bahan yang sesuai, lalu melihat hasil peluncurannya secara langsung melalui fitur Augmented Reality (AR).

Demikian informasi mengenai Yuma Soerianto, programmer asal Indonesia yang jadi developer Apple. Sungguh membanggakan ya, Ma?

Editorial Team