Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Ilustrasi remaja laki-laki
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Intinya sih...

  • Kronologi kejadian penculikan Kai Zhuang, siswa China di Utah, Amerika Serikat.

  • Para pelaku meminta tebusan senilai 1,2 Miliar Rupiah kepada keluarga korban.

  • Cyber Kidnapping adalah bentuk evolusi kejahatan yang muncul seiring perkembangan teknologi digital.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kasus hilangnya anak belakangan ini menjadi salah satu isu yang ramai diperbincangkan oleh masyarakat di Indonesia.

Berbagai modus digunakan oleh pelaku kejahatan untuk memengaruhi korban, mulai dari manipulasi mental hingga memberikan iming-iming tertentu agar anak mau mengikuti keinginan pelaku tanpa menyadari risiko yang mengancam keselamatannya.

Salah satu contoh yang menyita perhatian publik adalah kasus hilangnya seorang siswa pertukaran pelajar asal China di Utah, Amerika Serikat.

Dalam peristiwa tersebut, korban diduga menjadi sasaran Cyber Kidnapping.

Apa itu? Cyber Kidnapping adalah bentuk kejahatan yang memanfaatkan teknologi digital sebagai alat utama untuk menekan dan mengendalikan korban.

Untuk membantu Mama memahami peristiwa ini secara lebih dalam, berikut ini Popmama.com telah merangkum informasi lebih lanjut mengenai penculikan yang dialami oleh siswa tersebut.

1. Kronologi kejadian penculikan

Freepik

Peristiwa tragis ini menimpa Kai Zhuang, seorang pertukaran pelajar berusia 17 tahun asal China, saat ia sedang menempuh pendidikan di Utah, Amerika Serikat.

Kasus ini, bermula ketika korban menerima serangkaian telepon intimidatif dari pihak yang tidak dikenal. Pelaku menggunakan taktik manipulasi psikologis dengan mengancam akan mencelakai orangtua korban di China, jika Kai tidak mematuhi seluruh instruksi mereka. Di bawah kendali penuh pelaku, remaja tersebut juga terlihat membeli peralatan berkemah sebagai bagian dari rencana isolasi mandiri yang dirancang oleh pelaku.

Ia dipaksa menempuh perjalanan sejauh 75 mil menuju daerah pedesaan terpencil di wilayah Brigham City untuk bersembunyi di dalam tenda di tengah cuaca dingin yang sangat ekstrem. Tanpa adanya sumber pemanas yang memadai di tengah badai salju, ketahanan fisik korban terkuras habis hingga mencapai titik yang membahayakan nyawa.

The victim had no heat source inside the tent, only a heat blanket, a sleeping bag, limited food and water and several phones that were presumed to be used to carry out the cyber kidnapping (Korban tidak memiliki penghangat di dalam tenda, hanya selimut penghangat, kantong tidur, makanan dan air dalam jumlah terbatas, serta beberapa telepon yang diduga digunakan untuk melakukan penculikan siber, ucap polisi Riverdale.

Mendapatkan laporan, polisi setempat dengan cepat bekerja sama dengan FBI dan kedutaan besar AS China untuk mencoba menemukan remaja tersebut. Sesaat setelah pencarian berlangsung, remaja tersebut ditemukan selamat dengan kondisi tubuh yang lemas dan hanya terlihat tanda dehidrasi pada tubuh korban. 

2. Diminta tebusan senilai 1,2 Miliar

Freepik/8photo

Setelah berhasil memaksa Kai Zhuang mengisolasi diri di wilayah pegunungan terpencil dengan kondisi alam yang ekstrem, para pelaku segera melancarkan aksi pemerasan terhadap keluarganya yang berada di Tiongkok.

Untuk memperkuat ancaman, pelaku memanfaatkan sejumlah foto rekayasa yang dibuat dari foto yang diambil oleh korban sendiri lalu menyusunnya dalam sebuah narasi seolah-olah Kai Zhuang berada dalam situasi yang sangat berbahaya dan terancam.

Melalui rangkaian pesan bernada intimidatif, pelaku menegaskan bahwa keselamatan korban hanya dapat dijamin apabila pihak keluarga segera membayarkan uang tebusan sebesar 80.000 dolar Amerika Serikat atau setara dengan sekitar Rp1,2 miliar.

Ancaman tersebut disampaikan secara mendesak, agar orangtua korban tidak memiliki waktu untuk berpikir panjang maupun meminta bantuan pihak berwenang.

Mendengar kabar bahwa putranya berada dalam ancaman serius, orangtua korban diliputi kepanikan dan ketakutan.

Dalam kondisi tertekan dan demi keselamatan anaknya, mereka dengan cepat mengirimkan sejumlah uang ke rekening yang telah ditentukan oleh pelaku, tanpa menyadari bahwa seluruh ancaman tersebut merupakan bagian dari skema penipuan pemerasan yang telah dirancang dengan rapih.

3. Menginginkan Cheese Burger saat ditemukan

Freepik

Menariknya saat ditemukan korban menginginkan Cheese Burger. Permintaan sederhana ini menjadi salah satu indikator penting yang menggambarkan kondisi fisik korban setelah melalui masa isolasi dan tekanan yang berat.

Keinginan untuk mengonsumsi makanan secara spontan kerap muncul ketika tubuh berada dalam kondisi kelelahan dan mengalami kekurangan asupan energi Hal ini mengindikasikan bahwa tubuh korban kemungkinan mengalami defisit nutrisi akibat kurangnya asupan selama berada dalam kondisi terisolasi.

4. Motif pelaku

Freepik/luis molinero

Belum terdapaat dugaan yang pasti terkait motif pelaku, namun para ahli khawatir adanya penggunaan kecerdasan buatan AI untuk meniru suara dan memaksa dengan uang tebusan.

Media sosial juga memungkinkan pelaku untuk mempelajari dan mengumpulkan informasi tentang korban sebelum mereka melakukan kontak, sehingga mereka dapat memperoleh wawasan berharga tentang kehidupan seseorang.

5. Mengenal lebih dalam fenomena Cyber Kidnapping

Pexels/Tima Miroshnichenko

Cyber Kidnapping atau penculikan siber pada dasarnya merupakan bentuk evolusi kejahatan yang muncul seiring perkembangan teknologi digital.

Meski tidak melibatkan penyekapan secara fisik, kejahatan ini tetap berbahaya dan berisiko tinggi karena pelaku dapat melancarkan aksinya tanpa harus bertatap muka atau melakukan kontak langsung dengan korban.

Fenomena ini bekerja dengan cara meneror korban melalui berbagai saluran komunikasi digital, seperti pesan singkat, panggilan telepon, atau media sosial.

Tekanan yang dilakukan secara terus-menerus membuat korban merasa terpojok, panik, dan kehilangan rasa aman.

Pakar keamanan siber, Dr. Erik Huffman, menjelaskan bahwa inti dari kejahatan ini sebenarnya bukanlah penculikan secara fisik, melainkan apa yang ia sebut sebagai mind hijacking.

Menurutnya, pelaku memanfaatkan rasa takut yang mendalam sebagai senjata utama untuk mengambil alih kendali psikologis korban.

6. Tanda yang perlu diwaspadai

Freepik/katemangostar

Dalam menyikapi fenomena Cyber Kidnapping, seperti yang menimpa seorang siswa di China, perlu dipahami bahwa modus kejahatan ini sepenuhnya mengandalkan manipulasi emosi.

Terutama dengan memanfaatkan rasa takut korban dan keluarganya.

Para pelaku menyadari bahwa waktu yang mereka miliki untuk melancarkan aksi pemerasan sangat terbatas sebelum pihak kepolisian atau otoritas terkait melakukan pelacakan. Lalu upaya perlindungan dini dan kewaspadaan orangtua menjadi langkah yang tepat untuk mencegah risiko lebih lanjut.

Agar Mama dapat mengenali potensi bahaya sejak awal, berikut beberapa tanda yang biasanya muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang mengarah pada Cyber Kidnapping:

  1. Panggilan berasal dari nomor tidak dikenal dan melakukan panggilan berulang.

  2. Bersikeras tetap berbicara di telepon dan tidak mengizinkan untuk menutup telepon.

  3. Penelepon mencoba mencegah untuk menghubungi korban yang dimaksud.

  4. Menuntut uang tebusan melalui transfer dengan nominal yang tinggi dengan waktu yang singkat.

Kesadaran mendalam mengenai pola kejahatan Cyber Kidnapping merupakan langkah awal yang sangat penting bagi setiap orangtua dalam memberikan perlindungan maksimal bagi anak dan keluarga dari ancaman kejahatan digital.

7. Menjadi pengingat untuk orangtua

Freepik/8photo

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi seluruh orangtua akan adanya kejahatan siber digital. Kejahatan siber tidak lagi hanya sebatas pencurian data atau peretasan akun saja melainkan telah berkembang menjadi kejahatan yang membahayakan anak.

Membangun komunikasi yang lebih terbuka antara orangtua dan anak, merupakan kunci agar kejadian serupa tidak terjadi di kemudian hari.

Itulah informasi mengenai kejadian Cyber Kidnapping yang terjadi pada seorang pelajar asal China.

Mari, jadikan ruang digital sebagai tempat yang lebih aman dengan senantiasa membekali diri melalui literasi keamanan siber.

Editorial Team