Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Mengenal Mirroring, Tren 'Balas Energi' di Kalangan Remaja Gen Z
Magnific/pvproductions

Belakangan ini, istilah mirroring sedang ramai diperbincangkan di media sosial, terutama oleh anak-anak remaja atau Gen Z.

Mulai dari konten tentang pertemanan, hingga hubungan pacaran, banyak dari mereka yang menggunakan istilah ini untuk menggambarkan cara seseorang menyesuaikan energi dengan lawan bicaranya.

Intinya sih seperti ini, Ma. Kalau anak mama merasa diperlakukan dingin, mereka juga akan membalas perlakuan serupa. Sebaliknya, kalau diajak bicara dengan hangat, mereka pun akan merespons dengan energi positif.

Nah, fenomena ini viral dengan sebutan 'balas energi' atau mirroring. Mungkin Mama dan Papa bertanya-tanya, fenomena ini hal yang baik atau buruk, ya?

Biar lebih memahami apa saja yang sedang menjadi tren anak masa kini, berikut Popmama.com rangkumkan ulasan selengkapnya dari berbagi sumber.

1. Bukan tren baru, tapi bagian dari teknik psikoterapi

Magnific/freepik

Mungkin kebanyakan ornagtua memahami bahwa ini adalah istilah baru yang dibuat para Gen Z. Padahal, teknik ini sudah lama dikenal dalam dunia psikologi, tepatnya sebagai bagian dari psikoterapi.

Dalam konteks terapi, mirroring digunakan untuk membantu seseorang merasa dipahami dan divalidasi, Ma.

Seperti mengutip dari penelitian Psychotherapy Research, proses mirroring termasuk dalam nonverbal mimicry, yaitu kecenderungan alami seseorang untuk meniru ekspresi atau gerakan lawan bicara saat berinteraksi.

Jadi, saat anak Mama merasa nyaman dengan temannya, tanpa sadar mereka bisa meniru gestur atau gaya bicara satu sama lain.

Hal ini sangat berbeda dengan kesan negatif yang beredar di media sosial. Dalam terapi, mirroring justru menjadi alat komunikasi yang penting untuk membangun rasa aman.

2. Bentuk sederhana mirroring yang sering tak disadari

Magnific/freepik

Dalam sehari-sehari, ada banyak hal sederhana dari bentuk mirroring yang sering kita lakukan tanpa sadar.

Contohnya, mengangguk saat mendengarkan orang bicara, menjaga kontak mata, menyesuaikan ekspresi wajah, atau menyamakan nada bicara.

Bahkan, saat Mama mengulang inti perasaan anak yang sedang curhat, misalnya "Jadi kamu sedih karena dia lebih milih temanan sama yang lain?", itu juga bagian dari mirroring.

Tujuannya bukan untuk mengejek, melainkan untuk menunjukkan bahwa kita benar-benar hadir secara emosional.

Nah, dalam sesi terapi, teknik ini terbukti efektif membuat klien merasa lebih aman untuk membuka diri.

Jadi, saat anak merasa 'nyambung' dengan seseorang, itu bisa jadi karena terjadi mirroring alami yang membuatnya nyaman.

3. Mirroring bisa terasa menyenangkan atau bahkan menyebalkan

Ilustrasi Perundungan di Sekolah (Magnific/Freepik)

Kalau anak bisa tiba-tiba akrab dengan orang baru hanya dalam waktu singkat, bisa jadi itu karena adanya nonverbal synchrony atau sinkronisasi nonverbal.

Seperti dikutip dalam penelitian di Frontiers in Psychology, bahwa sinkronisasi ini erat kaitannya dengan therapeutic alliance, yaitu hubungan kooperatif yang aman antara dua orang.

Dalam penelitian itu juga dijelaskan bahwa sinkronisasi membantu proses co-regulation of emotions. Artinya, emosi seseorang menjadi lebih stabil karena respons lawan bicara yang terasa aman dan suportif.

Nah, kalau lawan bicara anak mama sangat antusias, energi anak pun ikut merasakannya dan menerapkan hal serupa. Sebaliknya, kalau lingkungan terkesan agresif, respons anak bisa berubah menjadi defensif.

Inilah yang kemudian memicu fenomena 'balas energi' di kalangan para remaja Gen Z.

Ungkapan seperti "Kalau kamu memerlakukan aku seperti itu, aku pun akan menunjukkan yang sama" adalah contoh mirroring dalam konteks sosial, bukan terapi.

4. Mirroring negatif bisa memicu perilaku agresif

Magnific/freepik

Meski alami, mirroring juga punya sisi negatif, Ma, terutama jika anak terus-menerus mendapat perlakuan buruk.

Dikutip dari Journal of School Psychology, seseorang yang mendapat perlakuan buruk dari lingkungan cenderung menunjukkan reactive aggression, yaitu perilaku agresif sebagai bentuk respons terhadap perlakuan negatif tersebut.

Pola ini sering ditemukan saat anak pacaran atauu dalam circle pertemanannya. Kalau tiba-tiba anak dingin atau kasar, bisa jadi ia sedang melakukan mirroring terhadap perlakuan yang diterimanya.

Hal ini karena anak sedang merasa dirinya tidak dihargai, lalu membalas dengan sikap yang sama.

Sebagai orangtua, penting bagi Mama dan Papa untuk mengingatkan bahwa dalam hubungan yang sehat, mirroring idealnya muncul secara natural sebagai bentuk empati, bukan balas dendam.

Ingatkan pada anak bahwa mirroring hadir untuk membantu seseorang merasa dipahami, bukan menjadi alasan untuk tenggelam dalam pola perilaku negatif.

Jadi, sudah tahu ya, Ma, Pa, kalau fenomena mirroring di kalangan remaja bukan sekadar tren 'balas energi' semata. Ini adalah cerminan alami dari bagaimana anak merespons lingkungannya, baik secara positif maupun negatif.

Dengan memahaminya, kita sebagai orangtua bisa lebih bijak mendampingi anak membangun hubungan yang sehat dan penuh empati.

Editorial Team