2 Remaja Nyaris Tewas akibat Menggunakan Tampon, Apa yang Terjadi?

Dua orang remaja didiagnosis mengalami sindrom syok toksik usai menggunakan tampon saat haid

20 November 2023

2 Remaja Nyaris Tewas akibat Menggunakan Tampon, Apa Terjadi
Pexels/Karolina Grabowska

Seorang Mama di Amerika bernama Javon Johnson (46) bercerita tentang bagaimana kedua anak perempuannya nyaris meninggal dunia akibat memakai tampon menstruasi.

Bahkan, Javon mengatakan bahwa kedua anaknya sempat berada di kondisi kritis karena mengalami peradagan organ.

"Mereka berdua berada dalam kondisi yang sangat buruk. Situasinya sensitif karena organ mereka meradang dan bahkan berisiko mati,” kata Javon mengutip dari New York Post, Senin (20/11/2023).

Lantas, apa yang terjadi pada kedua anak Javon? Berikut Popmama.com siap membahas informasi selengkapnya mengenai 2 remaja nyaris tewas akibat menggunakan tampon.  

1. Mengalami gejala seperti flu setelah menggunakan tampon saat haid

1. Mengalami gejala seperti flu setelah menggunakan tampon saat haid
Unsplash/engin akyurt

Javon menjelaskan, awalnya salah satu putrinya yang bernama Devine tiba-tiba saja jatuh sakit pada bulan Mei 2022. Lebih tepatnya, Devine sakit usai menggunakan tampon yang memiliki klaim ‘daya serap super plus’.

Sesaat haid Devine selesai, ia justru mengalami gejala yang mirip seperti flu. Dari hari ke hari, gejalanya semakin memburuk hingga ia tidak bisa berjalan tanpa bantuan. Pada akhirnya, Devine harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama seminggu.

Editors' Pick

2. Didiagnosis mengalami sindrom syok toksik

2. Didiagnosis mengalami sindrom syok toksik
Freepik/lifeforstock

Tak lama setelah itu, adik dari Devine yang bernama Jaya juga mengalami gejala serupa usai sempat berenang sambil menggunakan tampon ketika liburan. Sang Mama sempat mengira, Jaya terkena heat stroke karena munculnya gejala berupa kemerahan di telapak tangan.

Seiring berjalannya waktu, kondisi Jaya semakin memburuk karena munculnya gejala baru berupa mual dan demam tinggi. Jaya segera dilarikan ke rumah sakit, namun kala itu pihak rumah sakit hanya memberikan obat ibuprofen.

Setelah diperbolehkan pulang ke rumah, Jaya justru pingsan hingga akhirnya sang Mama kembali membawanya ke rumah sakit. Barulah saat itu, terungkap bahwa Jaya didiagnosis menderita sepsis akibat sindrom syok toksik, persis seperti yang dialami Devine.

3. Infeksi bakteri akibat penggunaan tampon yang memiliki klaim daya serap tinggi

3. Infeksi bakteri akibat penggunaan tampon memiliki klaim daya serap tinggi
Freepik.com/freepik

Melansir pada laman Cleveland Clinic, sindrom syok toksik atau toxic shock syndrome (TSS) adalah kondisi langka berupa keracunan darah yang terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan penggunaan tampon.

Saking langkanya, infeksi bakteri tersebut hanya menyerang 1 dari setiap 100.000 orang. Kondisi tersebut bisa menyebabkan kerusakan organ yang parah hingga berujung risiko kematian.

"Kami baru saja mengeluarkan satu anak dari ICU, yang masih dalam masa pemulihan, dan sekarang kami memiliki satu anak lagi yang akan memulai proses ini lagi, namun kondisinya terlihat lebih buruk," imbuh Javon.

Javon mengungkapkan, dokter sempat menyebut infeksi yang dialami kedua putrinya kemungkinan besar disebabkan akibat paparan bahan kimia tinggi pada tampon yang memiliki klaim ‘daya serap ekstra’.

Apakah Tampon Aman Digunakan oleh Anak Berusia Remaja?

Apakah Tampon Aman Digunakan oleh Anak Berusia Remaja
Freepik/Freepik

Penggunaan tampon pada remaja merupakan topik yang cukup kompleks dan dapat memicu beberapa pertimbangan. Berikut adalah beberapa informasi yang perlu dipertimbangkan oleh orangtua dam anak:

  • Adanya perbedaan anatomi perempuan remaja dan dewasa: Anak remaja memiliki perbedaan dalam anatomi dan ukuran organ reproduksinya dibandingkan dengan perempuan dewasa. Oleh karena itu, pemilihan ukuran tampon yang sesuai menjadi penting.
  • Pentingnya pemahaman menstruasi: Penting bagi remaja untuk memiliki pemahaman yang baik tentang siklus menstruasi, cara penggunaan tampon, dan perawatan kesehatan reproduksi.
  • Keterampilan penggunaan tampon: Beberapa remaja mungkin merasa sulit menggunakan tampon pada awalnya, dan ini memerlukan keterampilan dan kenyamanan.
  • Perhatikan bahan tampon: Sebagian besar tampon diproduksi dari bahan yang aman, seperti kapas dan serat alami. Penting untuk membaca label dan memilih produk yang bebas dari bahan kimia berbahaya.
  • Pemakaian tepay waktu: Penting untuk mengganti tampon secara teratur untuk mencegah risiko sindrom syok toksik (Toxic Shock Syndrome/TSS), meskipun insiden TSS sangat jarang terjadi.
  • Perlu konsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli kesehatan: Sebelum menggunakan tampon, baiknya anak remaja berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan reproduksi untuk mendapatkan saran yang tepat berdasarkan kondisi kesehatan mereka.

Nah, jadi itu dia informasi seputar 2 remaja nyaris tewas akibat menggunakan tampon dan penjelasan mengenai penggunaan tampon pada remaja. Pada dasarnya, menggunakan tampon pada remaja dapat menjadi pilihan yang aman asalkan dipahami dengan baik dan dilakukan dengan hati-hati.

Pemahaman tentang tubuh sendiri, pemilihan produk yang sesuai, dan konsultasi dengan profesional kesehatan merupakan langkah-langkah penting untuk memastikan keamanan serta kenyamanan.

Baca juga:

The Latest